FYP
Media
Memuat Halaman...
0%
Waspada Super Flu H3N2 di RI: 74 Kasus Terdeteksi, Ini Gejalanya

News

Waspada Super Flu H3N2 di RI: 74 Kasus Terdeteksi, Ini Gejalanya

Writer: Raodatul - Kamis, 22 Januari 2026 18:48:09

Waspada Super Flu H3N2 di RI: 74 Kasus Terdeteksi, Ini Gejalanya
Sumber gambar: Ilustrasi Flu/Freepik

FYPMedia.id - Munculnya istilah “super flu” belakangan ini memicu kekhawatiran masyarakat. Isu ini mencuat setelah Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengonfirmasi temuan puluhan kasus influenza A(H3N2) subclade K di Tanah Air. 

Meski bukan virus baru, penyebutan “super flu” membuat publik bertanya-tanya: seberapa berbahayakah virus ini, siapa yang paling berisiko, dan apa saja gejalanya?

Berdasarkan laporan resmi Kemenkes, sejak 1 Januari 2025 hingga 10 Januari 2026, telah ditemukan 74 kasus subclade K dari total 204 spesimen influenza A(H3N2) yang diperiksa secara nasional. Temuan ini menjadi perhatian karena penyebarannya terdeteksi di beberapa wilayah Indonesia.

Sebaran Kasus Super Flu Terbanyak di Dua Provinsi

Kemenkes mencatat, kasus influenza A(H3N2) subclade K paling banyak ditemukan di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan. Meski jumlahnya tidak masif dibandingkan penyakit menular lain, pola penyebaran virus tetap dipantau ketat sebagai bagian dari kewaspadaan nasional.

Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr Prima Yosephine, menjelaskan bahwa lonjakan kasus sebenarnya telah terjadi beberapa bulan sebelumnya dan kini menunjukkan tren penurunan.

"Sebagian besar pasien influenza mengalami gejala ringan hingga sedang dan dapat sembuh dengan sendirinya. Kasus berat umumnya terjadi pada kelompok berisiko tinggi, seperti lansia dan individu dengan penyakit penyerta," ucap dr Prima Yosephine, dilansir dari detikcom, Kamis (22/1/2026).

Ia juga menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik berlebihan, karena virus ini bukanlah ancaman baru yang muncul tiba-tiba.

Baca Juga: 5 Fakta tentang Wabah “Flu Babi” yang Tewaskan 5 Anak di Riau

Bukan Virus Baru, Tapi Tetap Perlu Diwaspadai

Masih menurut Kemenkes, Influenza A(H3N2) merupakan bagian dari virus influenza musiman yang rutin beredar setiap tahun. 

Subclade K sendiri adalah salah satu varian yang terdeteksi melalui pemeriksaan laboratorium lanjutan, bukan berdasarkan gejala klinis semata.

dr Prima menambahkan bahwa puncak kasus terjadi pada minggu ke-40 tahun 2025, lalu mulai menurun secara konsisten sejak minggu ke-44, dan bahkan tidak ditemukan kasus baru mulai minggu ke-52.

Kondisi ini menunjukkan bahwa penyebaran virus berada dalam kendali sistem surveilans kesehatan nasional. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama bagi kelompok rentan.

Mengapa Disebut “Super Flu”? Ini Penjelasannya

Istilah “super flu” sebenarnya bukan istilah medis resmi. Penyebutan ini lebih banyak muncul di media dan masyarakat karena gejalanya yang bisa terasa lebih berat dibanding flu biasa, terutama pada anak-anak, lansia, dan orang dengan imunitas rendah.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Nastiti Kaswandani, Sp A, Subsp Respi(K), menegaskan bahwa secara medis, subclade K tidak memiliki perbedaan gejala klinis yang khas dibanding influenza A lainnya.

"Dia tidak bisa dideteksi secara klinis, artinya dokter kalau melihat saja bahkan tidak bisa membedakan ini influenza atau bukan influenza," ungkap dr Nastiti, dikutip dari detikcom, Kamis (22/1/2026).

Dengan kata lain, tanpa pemeriksaan laboratorium, dokter tidak dapat memastikan apakah pasien terinfeksi subclade K atau jenis influenza lainnya.

Gejala Super Flu yang Paling Sering Dikeluhkan Pasien

Meski bukan virus baru, gejala influenza A(H3N2) subclade K tetap dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Berdasarkan penjelasan para ahli, gejala yang paling umum dirasakan pasien meliputi:

  • Demam tinggi mendadak
  • Menggigil
  • Sakit kepala berat
  • Nyeri tenggorokan
  • Batuk dan pilek
  • Keluhan pernapasan
  • Lemas dan nyeri otot

Pada sebagian besar kasus, gejala ini bersifat ringan hingga sedang dan dapat membaik dengan perawatan mandiri, istirahat cukup, serta konsumsi cairan.

Namun, pada kelompok berisiko tinggi, influenza dapat berkembang menjadi komplikasi serius seperti pneumonia.

Baca Juga: Pantau Super Flu 2026, 25 Pemindai Suhu Siaga di Bandara Bali

Kelompok Paling Rentan Mengalami Gejala Berat

Kemenkes dan IDAI sama-sama menekankan bahwa kasus berat influenza umumnya terjadi pada kelompok tertentu, antara lain:

  • Lansia di atas 60 tahun
  • Anak-anak, terutama balita
  • Ibu hamil
  • Penderita penyakit kronis (diabetes, jantung, paru)
  • Individu dengan daya tahan tubuh rendah

Pada kelompok ini, flu yang tampak “biasa” bisa berkembang menjadi kondisi serius jika tidak ditangani dengan tepat.

Langkah Pencegahan Super Flu yang Direkomendasikan Ahli

Meskipun subclade K bukan virus baru, pencegahan tetap menjadi kunci utama. Para ahli kesehatan menyarankan masyarakat untuk tidak meremehkan gejala flu, terutama bila disertai demam tinggi dan sesak napas.

Beberapa langkah pencegahan yang dianjurkan antara lain:

  1. Menerapkan pola hidup bersih dan sehat
  2. Rutin mencuci tangan dengan sabun
  3. Menggunakan masker saat sakit atau berada di kerumunan
  4. Menjaga daya tahan tubuh dengan gizi seimbang
  5. Segera ke fasilitas kesehatan jika gejala memburuk

Vaksinasi influenza musiman juga tetap menjadi salah satu langkah perlindungan penting, terutama bagi kelompok rentan.

Masyarakat Diminta Tetap Tenang dan Waspada

Kemenkes RI menegaskan bahwa kondisi saat ini masih terkendali dan tidak memerlukan kepanikan massal. Pemerintah terus melakukan pemantauan melalui sistem surveilans influenza nasional untuk mendeteksi potensi lonjakan kasus lebih awal.

Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh istilah yang menyesatkan, namun tetap waspada terhadap kesehatan diri dan lingkungan sekitar.

Kesimpulan

Kasus super flu H3N2 subclade K yang terdeteksi di Indonesia menjadi pengingat bahwa influenza bukan penyakit sepele, terutama bagi kelompok berisiko.

 Meski bukan virus baru dan sebagian besar pasien sembuh tanpa komplikasi, kewaspadaan tetap diperlukan.

Mengenali gejala sejak dini, menjaga imunitas, dan tidak menunda pemeriksaan medis adalah langkah krusial untuk mencegah dampak yang lebih serius. Pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga situasi tetap aman dan terkendali.

Mau Diskusi Project Baru?

Contact Us