Writer: Raodatul - Rabu, 21 Januari 2026 15:16:52
FYPMedia.id - Di tengah meningkatnya kesadaran gaya hidup sehat, matcha menjelma menjadi simbol minuman modern yang dianggap lebih aman dibanding kopi atau minuman manis kemasan.
Popularitasnya meroket di kalangan milenial dan Gen Z, bukan hanya karena klaim manfaat kesehatan, tetapi juga karena nilai estetika dan citra “clean living” yang melekat padanya.
Belakangan, tren ini berkembang lebih jauh dengan munculnya “blue matcha”, minuman berwarna kebiruan yang viral di media sosial dan kerap dipromosikan sebagai alternatif lebih aman, terutama bagi mereka yang ingin mengurangi gula atau memiliki risiko diabetes.
Namun, di balik warnanya yang menenangkan dan label herbal yang terdengar menjanjikan, muncul pertanyaan penting: benarkah blue matcha lebih aman untuk gula darah dibanding matcha hijau?
Matcha Hijau vs Blue Matcha: Sama Nama, Berbeda Asal
Secara visual dan cara penyajian, matcha hijau dan blue matcha memang tampak serupa. Keduanya berbentuk bubuk, dapat disajikan panas atau dingin, dan sering diolah menjadi latte. Namun, kesamaan tersebut berhenti di penampilan.
Matcha hijau merupakan bubuk dari daun teh hijau (Camellia sinensis) yang ditanam, dipanen, dan digiling dengan teknik khusus. Proses ini membuat matcha hijau kaya akan katekin, terutama epigallocatechin gallate (EGCG), serta mengandung kafein alami.
Sebaliknya, blue matcha bukan berasal dari daun teh. Warna birunya berasal dari bunga telang (Clitoria ternatea) yang dikeringkan dan dihaluskan. Blue matcha tidak mengandung kafein dan tidak memiliki katekin khas teh hijau.
Perbedaan bahan baku ini membuat klaim manfaat kesehatan keduanya tidak bisa disamakan, terutama terkait metabolisme dan pengendalian gula darah.
Baca Juga: Matcha “Infus” Viral di Bali, Ini Fakta D5 Dextrose dan Risiko Etisnya
Bukti Ilmiah: Matcha Hijau Lebih Banyak Diteliti
Sejumlah kajian ilmiah, termasuk meta-analisis yang dipublikasikan dalam The American Journal of Clinical Nutrition serta ulasan di Molecular Nutrition & Food Research, menunjukkan bahwa katekin teh hijau berkaitan dengan:
- Peningkatan sensitivitas insulin
- Perbaikan regulasi glukosa darah
- Efek protektif terhadap gangguan metabolik
Namun, para peneliti menegaskan bahwa efek ini bersifat moderat, tidak instan, dan sangat dipengaruhi oleh pola makan serta gaya hidup secara keseluruhan. Matcha hijau bukan obat diabetes, melainkan bagian kecil dari pola konsumsi yang lebih luas.
Sementara itu, bukti ilmiah mengenai blue matcha masih terbatas. Meski bunga telang dikenal kaya antioksidan, hingga kini belum banyak penelitian pada manusia yang secara konsisten menunjukkan manfaat langsungnya terhadap pengendalian gula darah.
Dengan kata lain, klaim bahwa blue matcha “lebih aman untuk diabetes” belum memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Kandungan Aktif dan Respons Gula Darah
Perbedaan kandungan aktif antara matcha hijau dan blue matcha memengaruhi respons tubuh secara berbeda.
Pada matcha hijau, EGCG berperan dalam mekanisme metabolisme glukosa. Kafein di dalamnya juga dapat memengaruhi energi dan nafsu makan. Pada sebagian orang, kafein membantu menekan rasa lapar sementara dan meningkatkan penggunaan energi.
Namun, pada individu yang sensitif, kafein justru dapat memicu stres ringan, meningkatkan hormon kortisol, dan menyebabkan kenaikan gula darah sementara.
Blue matcha, karena bebas kafein, tidak memicu respons tersebut. Efeknya terhadap gula darah cenderung lebih netral. Meski demikian, netral bukan berarti protektif, karena belum ada bukti kuat bahwa bunga telang secara aktif membantu menurunkan atau menstabilkan glukosa darah.
Masalah Utama Bukan Warnanya, Tapi Tambahannya
Dalam kondisi murni, baik matcha hijau maupun blue matcha rendah kalori dan hampir tidak mengandung gula alami. Masalah muncul ketika keduanya masuk ke praktik konsumsi sehari-hari, terutama di kafe dan minuman siap saji.
Gula cair, sirup rasa, krimer, susu kental manis, hingga whipped cream sering ditambahkan demi rasa dan tampilan. Di sinilah risiko lonjakan gula darah meningkat drastis.
Sejumlah kajian yang dipublikasikan dalam The American Journal of Clinical Nutrition dan The BMJ menunjukkan bahwa gula tambahan dalam bentuk minuman cair diserap lebih cepat oleh tubuh dan berkontribusi besar terhadap lonjakan glukosa darah, terutama jika dikonsumsi rutin.
Dalam konteks ini, satu gelas matcha latte, baik hijau maupun biru, dapat mengandung gula setara atau bahkan lebih tinggi dibanding minuman manis lain yang sering dihindari oleh penderita diabetes.
Baca Juga: 2 Fakta Mengejutkan: Matcha Bisa Picu Anemia Berat, Gen Z Wajib Waspada!
Blue Matcha dan Ilusi “Lebih Aman”
Blue matcha kerap dipersepsikan lebih aman karena beberapa faktor:
- Bebas kafein
- Berlabel herbal
- Berwarna alami dan menenangkan
Namun, dalam praktiknya, blue matcha hampir selalu disajikan dengan pemanis tambahan agar tidak terasa hambar. Tanpa pemanis, rasa bunga telang relatif netral dan kurang diminati.
Akibatnya, kesan “lebih sehat” sering kali tidak mencerminkan dampak metaboliknya. Minuman yang terlihat ringan justru bisa menjadi sumber gula tersembunyi yang signifikan.
Efek “Health Halo” yang Mengecoh Konsumen
Fenomena ini dikenal sebagai health halo effect. Studi dalam Journal of Consumer Research dan Appetite menunjukkan bahwa label “sehat” dapat membuat konsumen:
- Mengonsumsi lebih banyak
- Lebih jarang mengecek kandungan gula
- Merasa aman meski asupan kalori tinggi
Dalam konteks diabetes, efek ini berbahaya. Konsumsi gula berlebih sering terjadi bukan karena satu minuman, melainkan akumulasi keputusan kecil yang terasa aman karena citra sehat.
Jadi, Mana yang Lebih Aman untuk Diabetes?
Jawabannya sederhana namun sering diabaikan: yang lebih aman adalah yang rendah gula, bukan yang berwarna tertentu.
Kajian dalam The BMJ dan The American Journal of Clinical Nutrition menegaskan bahwa lonjakan gula darah lebih ditentukan oleh gula tambahan, bukan oleh bahan dasar minuman.
Baik matcha hijau maupun blue matcha:
- Aman jika diseduh tanpa gula
- Berisiko jika dijadikan latte manis
- Tidak otomatis aman hanya karena herbal atau bebas kafein
Baca Juga: Ladies! 5 Cara Aman Konsumsi Matcha agar Terhindar dari Anemia – Wajib Tahu!
Cara Aman Mengonsumsi Matcha bagi Risiko Diabetes
Bagi individu dengan risiko diabetes atau yang ingin menjaga gula darah tetap stabil, beberapa langkah berikut lebih relevan dibanding memilih warna minuman:
- Pilih seduhan murni tanpa gula
- Gunakan pemanis rendah kalori jika perlu
- Batasi porsi dan frekuensi konsumsi
- Pilih susu rendah gula atau tanpa tambahan sirup
- Jangan menjadikan matcha sebagai minuman manis harian
Dengan pendekatan ini, matcha hijau maupun blue matcha dapat tetap dinikmati tanpa menimbulkan lonjakan glukosa yang tidak perlu.
Kesimpulan
Tren blue matcha menunjukkan bagaimana estetika dan narasi sehat dapat membentuk persepsi konsumsi. Namun, warna biru atau hijau bukan penentu utama keamanan bagi gula darah. Yang lebih penting adalah apa yang ditambahkan ke dalam gelas.
Matcha hijau memiliki dukungan ilmiah yang lebih kuat terkait metabolisme, sementara blue matcha menawarkan opsi bebas kafein dengan efek yang relatif netral. Keduanya bisa menjadi bagian dari pola hidup sehat jika dikonsumsi dengan bijak.
Pada akhirnya, kesadaran membaca komposisi dan memahami cara konsumsi jauh lebih penting dibanding mengikuti tren visual semata. Dalam urusan diabetes dan kesehatan metabolik, label bisa menenangkan, tapi fakta tetap menentukan.