Writer: Raodatul - Kamis, 15 Januari 2026 15:21:21
FYPMedia.id - Novel Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah karya Aurelie Moeremans bukan sekadar karya sastra. Buku ini menjelma menjadi pemantik diskusi nasional tentang child grooming, bentuk kekerasan seksual terhadap anak yang kerap tersembunyi dan sulit terungkap.
Kejujuran Aurelie dalam menuangkan pengalaman traumatis masa mudanya membuat isu ini kembali mendapat sorotan luas, termasuk dari pemerintah.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menilai keberanian Aurelie sebagai langkah penting dalam membangun budaya “dare to speak”, berani bersuara demi perlindungan anak dan korban kekerasan seksual.
KemenPPPA Apresiasi Keberanian Korban Bersuara
Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak KemenPPPA, Ratna Susianawati, menyampaikan bahwa karya Aurelie layak diapresiasi karena mencerminkan keberanian korban untuk menyampaikan pengalaman pahit yang selama ini sering dipendam.
"Justru ini harus kita apresiasi ya, karena artinya dare to speak, berani untuk menyampaikan," kata Ratna Susianawati di Jakarta, dikutip dari Antara, Kamis (15/1/2026).
Ratna menekankan bahwa tidak semua korban kekerasan seksual memiliki keberanian atau kesempatan untuk mengungkapkan apa yang mereka alami. Oleh karena itu, keputusan Aurelie untuk menulis memoar dinilai sebagai langkah besar dan tidak mudah.
"Ini menjadi contoh baik bahwa apa yang dialami kemudian disampaikan, tentunya nanti itu akan diatensi oleh kami," lanjut Ratna.
Child Grooming Fenomena Gunung Es
KemenPPPA menilai bahwa kasus grooming seksual terhadap anak masih menjadi fenomena gunung es. Banyak kasus yang tidak pernah terlaporkan karena korban diliputi rasa takut, rasa bersalah, atau tekanan sosial.
Memoar Aurelie hanyalah satu dari sekian banyak kisah yang selama ini tersembunyi. Namun, keberaniannya membuka tabir realitas pahit bahwa kekerasan seksual terhadap anak bisa terjadi pada siapa saja, tanpa memandang latar belakang, status sosial, maupun lingkungan.
Menurut KemenPPPA, karya seperti Broken Strings memiliki nilai strategis sebagai pengingat kolektif bahwa sistem perlindungan anak harus terus diperkuat dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Baca Juga: 10 Buku Inspiratif yang Wajib Dibaca Anak Muda di Tahun 2025
Apa Itu Child Grooming?
Child grooming adalah bentuk kekerasan seksual yang dilakukan secara bertahap dan sistematis. Pelaku biasanya membangun kedekatan emosional, kepercayaan, bahkan ketergantungan psikologis korban sebelum melakukan eksploitasi.
Proses ini sering kali tidak disadari korban karena dilakukan melalui manipulasi, perhatian semu, dan relasi kuasa yang timpang. Dalam banyak kasus, pelaku adalah orang yang dikenal atau dipercaya korban.
Dampak Psikologis Grooming yang Mendalam
Psikolog klinis Arnold Lukito menjelaskan bahwa grooming meninggalkan luka psikologis yang kompleks dan berjangka panjang. Salah satu dampak utama adalah ketergantungan emosional yang tidak sehat.
"Nah, di grooming ini kan tadi ada kontrol, ada manipulasi. Artinya si anak ini, ya. Artinya kan dia juga, dalam tanda kutip, sebenarnya dikontrol dan dimanipulasi. Nah, itu kan akhirnya membuat juga banyak hal seperti, dia mungkin jadi punya ketergantungan emosional yang tidak sehat, gitu kan," ucap Arnold, dikutip dari 20detik, Kamis (15/1/2026).
Ketergantungan ini membuat korban merasa membutuhkan pelaku untuk merasa aman, diterima, atau dicintai, meski hubungan tersebut bersifat merusak.
Identitas Diri Korban Ikut Terganggu
Arnold juga menjelaskan bahwa grooming dapat memengaruhi cara korban memandang dirinya sendiri dan relasi interpersonal di masa depan.
"Dalam artian, oh ternyata saya itu bisa punya hubungan seperti ini dengan orang yang jauh lebih tua," ujarnya.
Pola relasi yang menyimpang ini berpotensi terbawa hingga dewasa, memengaruhi cara korban menjalin hubungan, menetapkan batasan, dan memahami konsep relasi yang sehat.
Rasa Bersalah dan Malu Jadi Luka Jangka Panjang
Selain ketergantungan emosional, grooming juga memicu rasa bersalah dan rasa malu yang mendalam. Dua emosi ini tergolong sangat kuat dalam psikologi manusia dan sering kali membuat korban menyalahkan diri sendiri.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi gangguan kecemasan, depresi, hingga kesulitan membangun kepercayaan pada orang lain. Inilah sebabnya banyak korban memilih diam selama bertahun-tahun.
Baca Juga: 10 Buku Sastra Klasik Dunia yang Wajib Dibaca
Broken Strings Jadi Alarm Sosial
Buku Broken Strings membuka mata publik bahwa kekerasan seksual tidak selalu terjadi secara kasar atau instan. Justru, banyak kasus dimulai dari kedekatan yang tampak “aman” dan “wajar”.
Kisah Aurelie menjadi alarm sosial bahwa grooming adalah kejahatan serius yang membutuhkan kesadaran, edukasi, dan respons cepat dari semua pihak, keluarga, sekolah, masyarakat, hingga negara.
Cara Melaporkan Kasus Child Grooming di Indonesia
Pemerintah dan lembaga terkait telah menyediakan berbagai jalur resmi untuk melaporkan dugaan kasus child grooming. Pelaporan sedini mungkin sangat penting untuk menghentikan pelaku dan melindungi korban.
1. Hotline SAPA 129 KemenPPPA
KemenPPPA menyediakan layanan nasional Hotline SAPA 129 untuk aduan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
- Telepon: 129
- WhatsApp: 08111-129-129
Layanan ini menjadi pintu awal pelaporan sekaligus penghubung ke pendampingan lanjutan seperti konseling, bantuan hukum, dan layanan daerah.
2. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)
Laporan juga dapat disampaikan ke KPAI melalui:
- WhatsApp: 0811-1002-7727
- Atau datang langsung ke kantor KPAI
KPAI berperan dalam pengawasan, advokasi, dan mendorong penanganan kasus agar hak anak tetap terlindungi.
3. Unit PPA Kepolisian
Masyarakat dapat melapor ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) di Polres atau Polda terdekat. Unit ini memiliki pendekatan yang lebih sensitif terhadap korban anak dan remaja.
4. Lembaga Bantuan Hukum APIK
Bagi korban yang membutuhkan pendampingan hukum gratis, LBH APIK menjadi rujukan penting. Lembaga ini fokus pada perlindungan hak perempuan dan anak, termasuk kasus child grooming.
Keberanian Bersuaralah Awal Pemulihan
Kasus child grooming sering tidak terungkap bukan karena tidak terjadi, melainkan karena korban merasa sendirian dan tidak tahu harus ke mana mencari bantuan.
Kisah Aurelie Moeremans dalam Broken Strings menjadi bukti bahwa berani berbicara adalah langkah awal pemulihan, sekaligus upaya mencegah korban lain mengalami hal serupa.
Melalui keberanian satu suara, terbuka jalan bagi perubahan sistem, penguatan perlindungan anak, dan terciptanya ruang aman bagi generasi masa depan.