Writer: Raodatul - Senin, 19 Januari 2026 11:20:30
FYPMedia.id - Gelombang pemulangan warga negara Indonesia (WNI) dari Kamboja kembali mencuat ke permukaan. Ratusan WNI yang sebelumnya terjerat bisnis penipuan daring (online scam) secara beramai-ramai mendatangi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Phnom Penh untuk meminta fasilitasi kepulangan ke Tanah Air.
Lonjakan laporan ini terjadi setelah pemerintah Kamboja mengintensifkan pemberantasan sindikat penipuan online yang selama ini beroperasi secara masif dan lintas negara.
Duta Besar RI untuk Kamboja, Santo Darmosumarto, mengungkapkan bahwa dalam hitungan hari, jumlah WNI yang melapor meningkat drastis.
Para WNI tersebut mengaku dikeluarkan secara sepihak oleh sindikat penipuan daring tempat mereka bekerja, menyusul operasi penindakan besar-besaran yang digencarkan pemerintah setempat.
"Selama dua hari terakhir, sudah terdapat 308 WNI yang melapor secara 'walk-in' ke KBRI setelah dikeluarkan dari sindikat penipuan daring," kata Dubes Santo dilansir Antara, Senin (19/1/2026).
Fenomena ini sekaligus membuka kembali fakta pahit tentang perdagangan manusia terselubung, eksploitasi tenaga kerja, serta lemahnya literasi kerja luar negeri yang masih menghantui sebagian masyarakat Indonesia.
Baca Juga: 54 WNI Korban Scam Myanmar Dipulangkan, Negara Hadir Selamatkan Warga
Pemberantasan Online Scam Kamboja Jadi Titik Balik
Lonjakan permintaan pulang ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Menurut Dubes Santo, situasi dipicu oleh instruksi langsung Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, yang memerintahkan aparatnya untuk memperketat dan membongkar jaringan online scam internasional yang meresahkan dan mencoreng citra negara.
Tekanan pemerintah tersebut membuat banyak sindikat penipuan kehilangan ruang gerak. Alih-alih mempertahankan para pekerja asing, para pelaku justru melepas mereka begitu saja, tanpa perlindungan hukum, gaji, maupun dokumen resmi.
Akibatnya, ratusan WNI berada dalam posisi rentan, tanpa pekerjaan, sebagian tanpa paspor, dan berisiko menghadapi masalah imigrasi.
Ratusan WNI Datang dalam Hitungan Hari
Data KBRI Phnom Penh menunjukkan bahwa sepanjang Januari 2026, sudah 375 WNI melapor setelah keluar dari sindikat penipuan daring. Dari jumlah tersebut, 243 WNI datang hanya dalam kurun waktu dua hari, yakni pada 16–17 Januari 2026.
Gelombang laporan belum berhenti. Pada 18 Januari 2026, tercatat 65 WNI tambahan kembali mendatangi KBRI dengan latar belakang kasus serupa.
Angka-angka ini menegaskan bahwa online scam bukan kasus sporadis, melainkan persoalan serius yang melibatkan ratusan hingga ribuan korban lintas negara.
Kondisi WNI Beragam, Masalah Kompleks
Meski mayoritas WNI yang melapor berada dalam kondisi aman dan sehat, permasalahan yang mereka hadapi sangat bervariasi. Dubes Santo memaparkan kondisi tersebut secara rinci.
"Ada yang pegang paspor, dan ada yang paspornya disita sindikat. Ada yang statusnya 'overstay', dan ada yang masih punya izin tinggal yang valid di Kamboja," katanya.
Tidak sedikit dari mereka yang terjebak dalam status keimigrasian bermasalah, akibat paspor ditahan oleh sindikat sejak awal bekerja. Situasi ini membuat mereka tidak bisa bergerak bebas dan rentan terhadap penahanan oleh otoritas setempat.
Ironisnya, sebagian WNI mengaku awalnya datang ke Kamboja dengan visa resmi, namun kemudian dipaksa atau dibujuk untuk terlibat dalam aktivitas penipuan daring yang melanggar hukum.
Baca Juga: 7 Fakta Tegang Bentrokan Thailand-Kamboja: RI Pantau 138 Ribu Pengungsi & WNI
Ada yang Masih Bertahan, Ada yang Ingin Segera Pulang
Di tengah situasi sulit tersebut, KBRI Phnom Penh mencatat adanya perbedaan sikap di antara para WNI. Sebagian besar ingin segera kembali ke Indonesia, menyadari risiko hukum dan moral yang mereka hadapi.
Namun, ada pula WNI yang memilih untuk tetap bertahan di Kamboja, meski telah keluar dari sindikat.
Ada pula WNI yang "masih ingin coba-coba mencari pekerjaan lain di Kamboja", kata Dubes Santo, meskipun sebagian lainnya ingin segera pulang ke Indonesia.
Pemerintah Indonesia menilai sikap ini perlu disikapi secara hati-hati, mengingat risiko eksploitasi berulang masih sangat besar, terutama bagi mereka yang tidak memiliki keterampilan khusus dan dokumen lengkap.
Langkah KBRI: Pendampingan hingga Deportasi
Dubes Santo memastikan bahwa KBRI Phnom Penh tidak tinggal diam. Seluruh WNI yang melapor akan ditangani menggunakan prosedur standar yang selama ini diterapkan kepada ribuan WNI korban kasus serupa.
KBRI juga akan memperkuat koordinasi dengan:
- Otoritas imigrasi Kamboja
- Aparat penegak hukum setempat
- Kementerian dan lembaga terkait di Indonesia
Tujuannya adalah mempercepat proses administrasi, termasuk penyelesaian dokumen, izin keluar, hingga pemulangan ke Tanah Air. Namun, Dubes Santo menegaskan bahwa ada batasan dalam fasilitasi negara.
"Namun, seluruh WNI diarahkan untuk pulang ke tanah air secara mandiri," kata dia.
Artinya, pemerintah membantu dari sisi pendampingan, perlindungan, dan koordinasi, tetapi biaya pemulangan tetap menjadi tanggung jawab individu, kecuali dalam kondisi tertentu sesuai kebijakan.
Peringatan Keras untuk WNI: Jangan Mudah Tergiur
Kasus ratusan WNI korban online scam ini kembali menjadi peringatan keras bagi masyarakat Indonesia. Dubes Santo secara tegas mengingatkan agar WNI tidak mudah tergoda oleh tawaran kerja di luar negeri yang terdengar terlalu indah.
Dubes Santo pun mengingatkan supaya para WNI tidak mudah tergiur dengan tawaran pekerjaan yang menjanjikan gaji besar dengan minim pengalaman, serta tidak melibatkan diri dalam kegiatan ilegal di negara asing, seperti sindikat penipuan daring.
Banyak korban mengaku direkrut melalui media sosial, grup pesan instan, atau agen tidak resmi, dengan iming-iming gaji tinggi, fasilitas mewah, dan pekerjaan ringan. Kenyataannya, mereka justru terjerat eksploitasi, ancaman, hingga tekanan psikologis.
Online Scam: Kejahatan Global yang Menjerat Korban dan Pelaku
Fenomena online scam di Asia Tenggara telah menjadi kejahatan lintas negara yang kompleks. Korban tidak hanya berasal dari negara target penipuan, tetapi juga dari kalangan pekerja yang direkrut sebagai operator.
Dalam banyak kasus, para pekerja ini berada di zona abu-abu antara korban dan pelaku. Mereka direkrut secara ilegal, namun kemudian dipaksa menjalankan aktivitas melanggar hukum.
Pemerintah Indonesia terus mendorong kerja sama regional untuk:
- Pencegahan perdagangan orang
- Edukasi calon pekerja migran
- Penindakan tegas sindikat internasional
Pelajaran Penting bagi Semua Pihak
Kasus ratusan WNI di Kamboja ini menjadi cermin bahwa literasi kerja luar negeri masih perlu diperkuat. Pemerintah, masyarakat, dan calon pekerja migran harus saling berperan untuk memutus mata rantai kejahatan online scam.
Di sisi lain, langkah tegas pemerintah Kamboja dalam memberantas sindikat penipuan patut diapresiasi, meski dampak sosialnya kini harus ditangani bersama, termasuk oleh negara asal para korban.
Sementara ratusan WNI menanti kepulangan, pesan pentingnya jelas: tidak ada jalan pintas menuju kesejahteraan, apalagi melalui pekerjaan ilegal yang berisiko tinggi.