Writer: Raodatul - Selasa, 20 Januari 2026 18:51:41
FYPMedia.id - Mendaki gunung memang menawarkan keindahan alam dan tantangan fisik yang memacu adrenalin. Namun di balik pesona pegunungan, terdapat ancaman serius yang kerap merenggut nyawa pendaki, yakni hipotermia.
Kondisi ini masih menjadi momok utama di berbagai jalur pendakian di Indonesia, terutama saat cuaca ekstrem dan persiapan pendaki tidak memadai.
Hipotermia, Ancaman Sunyi di Ketinggian
Hipotermia merupakan kondisi medis berbahaya ketika suhu inti tubuh manusia turun di bawah batas normal, yakni di bawah 35 derajat Celsius. Di lingkungan pegunungan yang dingin, berangin, dan sering kali basah, risiko hipotermia meningkat drastis.
Tidak sedikit pendaki yang meremehkan ancaman ini. Padahal, hipotermia bisa berkembang secara perlahan tanpa disadari, hingga akhirnya menyebabkan gangguan kesadaran, kegagalan organ, bahkan kematian jika tidak segera ditangani dengan benar.
Praktisi kesehatan dari Perhimpunan Dokter Emergency Indonesia (PDEI), dr Wisnu Pramudito D Pusponegoro, SpB, menegaskan bahwa pendakian gunung tanpa pemahaman yang cukup tentang alam dan manajemen risiko dapat berujung pada tragedi.
"Sehingga tidak lagi terjadi misalkan korban kekurangan bahan makan, segala macam," ucap dr Wisnu, dilansir dari detikcom, Sabtu (20/1/2026).
Pernyataan ini menegaskan bahwa persoalan hipotermia bukan hanya soal suhu dingin, tetapi juga tentang kesiapan fisik, logistik, dan pengetahuan pendaki menghadapi kondisi alam yang tidak terduga.
Baca Juga: 5 Fakta Misteri Asap Gunung Kareumbi: Pertanda Ajaib Musim Hujan atau Bahaya Kebakaran?
Mengapa Hipotermia di Gunung Sangat Berbahaya?
Hipotermia terjadi ketika tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada kemampuannya untuk menghasilkan panas.
Di pegunungan, beberapa faktor bekerja secara bersamaan mempercepat hilangnya panas tubuh, seperti suhu udara yang rendah, hujan, angin kencang, kelelahan fisik, hingga kurangnya asupan makanan dan minuman.
Di Indonesia, kasus hipotermia pada pendaki gunung cukup sering terjadi, terutama saat musim hujan atau ketika cuaca berubah ekstrem secara tiba-tiba. Sayangnya, sarana mitigasi seperti shelter darurat, sistem komunikasi, hingga pengetahuan dasar pertolongan pertama masih belum merata di seluruh jalur pendakian.
Kondisi ini membuat waktu menjadi faktor krusial. Semakin lambat pertolongan diberikan, semakin besar risiko kondisi pendaki memburuk.
Gejala Hipotermia yang Wajib Diwaspadai Pendaki
Mengenali gejala hipotermia sejak dini sangat penting agar pendaki dapat segera mengambil tindakan penyelamatan. Beberapa tanda awal hingga berat yang umum muncul antara lain:
- Tubuh menggigil hebat
- Kulit terasa dingin dan tampak pucat
- Ujung jari, hidung, atau bibir membiru (sianosis)
- Kebingungan dan sulit berkonsentrasi
- Kesulitan berbicara atau bicara pelo
- Tangan dan kaki terasa kaku atau sulit digerakkan
- Detak jantung dan napas melambat
Pada tahap lanjut, korban hipotermia bisa kehilangan kesadaran dan tidak lagi mampu merespons lingkungan sekitar. Jika kondisi ini terjadi di jalur pendakian tanpa penanganan cepat, risikonya sangat fatal.
Selain itu, hipotermia sering kali disertai dehidrasi. Kekurangan cairan membuat tubuh semakin sulit mempertahankan suhu inti, sehingga kondisi korban bisa memburuk dengan cepat.
Faktor Penyebab Hipotermia di Gunung
Hipotermia di gunung tidak terjadi secara tiba-tiba tanpa sebab. Ada sejumlah faktor utama yang meningkatkan risikonya:
1. Cuaca hujan dan angin kencang
Paparan hujan dan terpaan angin dingin dapat mempercepat penguapan panas dari permukaan kulit. Pakaian yang basah dan terus terkena angin akan membuat suhu tubuh turun drastis.
2. Pakaian yang tidak memadai
Menggunakan pakaian tipis, tidak tahan angin, atau tidak waterproof membuat tubuh kehilangan perlindungan dari dingin. Tanpa lapisan yang tepat, panas tubuh akan cepat hilang.
Baca Juga: Mau Mendaki Gunung? Ini 10 Istilah yang Wajib Kamu Tahu
3. Kurang asupan makanan dan minuman
Tubuh membutuhkan energi sebagai “bahan bakar” untuk menghasilkan panas. Kurang makan dan minum akan menurunkan kemampuan tubuh menjaga suhu inti dan meningkatkan risiko hipotermia.
4. Kelelahan ekstrem
Pendakian panjang dengan jalur menanjak menguras energi. Saat tubuh lelah, produksi panas menurun, sehingga pendaki lebih mudah kedinginan meskipun mengenakan pakaian hangat.
5. Terlalu lama diam di satu tempat
Berdiam diri terlalu lama, terutama pada malam hari, membuat tubuh tidak menghasilkan cukup panas. Kondisi ini sangat berbahaya di lingkungan pegunungan yang dingin.
Pentingnya Manajemen Waktu dan Persiapan Pendakian
Menurut dr Wisnu, manajemen waktu adalah kunci utama dalam mencegah hipotermia. Pendaki harus mampu memperkirakan durasi perjalanan dan menyesuaikannya dengan jumlah logistik yang dibawa.
Ia menyarankan agar pendaki, khususnya pemula, bergabung dengan komunitas pencinta alam yang berpengalaman untuk belajar langsung mengenai teknik bertahan hidup di alam bebas.
"Maka disarankan bergabung dengan pencinta alam yang sudah cukup baik dan kemudian menggali ilmu di sana," jelasnya.
Selain itu, membawa perlengkapan yang memadai seperti jas hujan, tenda, sleeping bag, dan pakaian hangat bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban.
Cara Mencegah Hipotermia di Gunung Secara Efektif
Agar pendakian tetap aman dan terhindar dari risiko fatal, berikut langkah-langkah pencegahan hipotermia yang wajib diterapkan:
1. Gunakan pakaian berlapis
Mulai dari lapisan dalam yang menyerap keringat, lapisan tengah berbahan fleece atau wol, hingga jaket luar yang tahan angin dan air.
Baca Juga: 7 Gunung Terindah dan Terekstrem di Indonesia yang Wajib Didaki
2. Lindungi kepala dan tangan
Sebagian besar panas tubuh hilang melalui kepala dan tangan. Penutup kepala dan sarung tangan sangat efektif menjaga suhu tubuh tetap stabil.
3. Konsumsi makanan dan minuman hangat
Bawa makanan tinggi energi dan air hangat. Minuman hangat membantu menjaga suhu tubuh dan meningkatkan energi.
4. Jangan duduk langsung di tanah
Gunakan matras atau jaket tebal sebagai alas untuk mencegah dingin dari tanah merambat ke tubuh.
5. Segera berlindung saat cuaca memburuk
Jangan memaksakan perjalanan. Dirikan tenda atau cari shelter terdekat untuk melindungi diri dari hujan dan angin.
6. Ganti pakaian basah secepatnya
Pakaian basah adalah musuh utama di gunung. Segera ganti dengan pakaian kering untuk mencegah kehilangan panas.
7. Ikuti arahan pemandu lokal
Pendaki pemula wajib mengikuti panduan guide. Jika muncul gejala hipotermia, segera laporkan agar dapat diambil keputusan terbaik.
Mitigasi dan Penanganan Darurat Hipotermia
Jika hipotermia sudah terjadi, pertolongan pertama harus dilakukan secepat mungkin. Langkah awal meliputi mengganti pakaian basah, menghangatkan tubuh dengan selimut darurat atau sleeping bag, serta memberikan minuman hangat jika korban masih sadar.
Namun, jika kondisi korban memburuk, ditandai dengan napas dan denyut jantung melambat atau respons menurun, pendaki harus segera turun gunung dan mencari bantuan medis atau menghubungi tim SAR.
Koordinasi antara pendaki, pemandu, petugas SAR, dan tenaga medis lokal menjadi faktor penentu keselamatan.
Kesadaran dan Edukasi Jadi Kunci Keselamatan Pendaki
Hipotermia di gunung bukan sekadar risiko alam, melainkan ancaman nyata yang dapat dicegah dengan edukasi dan persiapan matang. Pendakian bukan hanya tentang mencapai puncak, tetapi juga tentang pulang dengan selamat.
Dengan memahami gejala, penyebab, dan cara pencegahan hipotermia, pendaki diharapkan lebih bijak dalam merencanakan perjalanan dan tidak meremehkan kondisi alam. Keindahan gunung akan selalu menunggu. Keselamatan, bagaimanapun, tidak bisa ditawar.