FYP
Media
Memuat Halaman...
0%
Guru SMK di Jambi Laporkan Dugaan Pengeroyokan Usai Bentrok dengan Siswa

News

Guru SMK di Jambi Laporkan Dugaan Pengeroyokan Usai Bentrok dengan Siswa

Writer: Raodatul - Jumat, 16 Januari 2026 11:27:33

Guru SMK di Jambi Laporkan Dugaan Pengeroyokan Usai Bentrok dengan Siswa
Sumber gambar: Guru SMK yang adu jotos dengan siswa melapor ke Polda Jambi (Dimas Sanjaya/detikcom)

FYPMedia.id - Kasus bentrok antara seorang guru dan siswa di sebuah sekolah menengah kejuruan (SMK) di Provinsi Jambi kini memasuki babak baru. Peristiwa yang sempat viral dan menyita perhatian publik itu berujung pada langkah hukum. 

Seorang guru bernama Agus Saputra resmi melaporkan dugaan pengeroyokan yang dialaminya ke Kepolisian Daerah (Polda) Jambi.

Agus Saputra merupakan guru mata pelajaran Bahasa Inggris di SMK Negeri 3 Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Ia melapor setelah insiden adu fisik dengan sejumlah siswanya mencuat luas di media sosial dan memicu berbagai reaksi, baik dukungan maupun kecaman.

Langkah hukum tersebut diambil Agus dengan didampingi oleh kakak kandungnya, Nasir. Laporan resmi itu dibuat pada Kamis malam, 15 Januari 2026, dan Agus menjalani pemeriksaan intensif selama kurang lebih lima jam di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Jambi.

"Kita bikin laporan tentang kasus pengeroyokan yang dilakukan siswa. Kondisi adik saya masih pusing tadi di-BAP dari jam 4 sore, baru selesai sekarang," kata Nasir, dilansir dari detikcom, Jumat (16/1/2026). 

Dampak Psikis dan Tekanan Akibat Viral

Nasir menjelaskan, keputusan membawa perkara ini ke ranah hukum bukan diambil secara tergesa-gesa. Menurutnya, kondisi mental dan psikis Agus mengalami gangguan serius setelah video kejadian tersebut tersebar luas di berbagai platform media sosial.

"Karena sudah viral ini, ya, ada yang merugikan adik saya secara mental. Psikisnya terganggu, nama baiknya tercoreng di media sosial dan warga. Jadi kami sebagai warga negara berhak untuk melaporkan tindakan pengeroyokan ini," ujarnya.

Viralnya peristiwa tersebut membuat Agus tak hanya harus menghadapi luka fisik, tetapi juga tekanan sosial. Berbagai opini publik berkembang tanpa menunggu hasil klarifikasi utuh, sehingga reputasi dan integritasnya sebagai tenaga pendidik ikut dipertaruhkan.

Baca Juga: Pelaku Pengeroyokan Murid PSHT di Kediri Berhasil Ditangkap

Luka Fisik dan Bukti Visum

Secara fisik, Agus mengaku mengalami sejumlah luka lebam di beberapa bagian tubuhnya. Luka tersebut terdapat di punggung, tangan, dan pipi, yang diduga kuat akibat tindakan kekerasan yang dialaminya saat insiden berlangsung.

Sebagai bagian dari proses hukum, Agus telah menjalani visum untuk memperkuat laporan yang disampaikannya kepada pihak kepolisian.

"Kondisnya paling pegal-pegal pasti, mungkin teman-teman bisa lihat di video yang beredar. Sudah ada visum, ada bekas lebam-lebamnya," jelas Nasir.

Hingga kini, pihak keluarga memilih menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus ini kepada aparat penegak hukum. Mereka berharap proses hukum dapat berjalan objektif dan adil bagi semua pihak yang terlibat.

"Untuk langkah hukumnya, kita serahkan ke Polda Jambi. Menunggu dari pihak kepolisian nanti bagaimana," ungkap Nasir.

Ia juga menambahkan bahwa sejauh ini belum ada tindak lanjut berupa mediasi lanjutan atau pemanggilan dari Dinas Pendidikan Provinsi Jambi sejak pengaduan awal disampaikan pada Rabu, 14 Januari 2026.

Kronologi Kejadian Versi Guru

Agus Saputra membeberkan kronologi kejadian versi dirinya. Insiden tersebut terjadi pada Selasa pagi, 13 Januari 2026, saat kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung di sekolah.

Menurut Agus, kejadian bermula ketika ia berjalan melintas di depan kelas dan mendengar salah satu siswanya melontarkan teguran dengan kata-kata yang dianggap tidak sopan dan tidak pantas di tengah suasana belajar.

"Kejadiannya berawal peneguran siswa di kelas di saat belajar ada guru, dia (siswa) menegur dengan tidak hormat dan tidak sopan kepada saya, dengan meneriakkan kata yang tidak pantas kepada saya saat belajar," kata Agus.

Merasa wibawa guru dilecehkan, Agus kemudian masuk ke dalam kelas dan meminta siswa yang bersangkutan untuk mengakui perbuatannya. Salah satu siswa akhirnya mengaku sebagai pelaku teguran tersebut.

Namun, situasi justru memanas. Agus menyebut siswa tersebut bersikap menantang, yang membuatnya bereaksi secara spontan.

"Saya masuk ke kelas memanggil siapa yang meneriakan saya seperti itu. Dia langsung menantang saya, akhir saya refleks menampar muka dia," ujarnya.

Agus mengakui tindakannya menampar siswa, yang menurutnya dilakukan secara refleks dan dimaksudkan sebagai bentuk penegakan disiplin dan pendidikan moral. Namun, tindakan tersebut memicu kemarahan siswa dan berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

Baca Juga: Hasil Panen Lapas Disumbangkan, KemenImipas Bantu Korban Banjir Sumatera

Klaim Penghinaan dan Mediasi yang Gagal

Di sisi lain, sejumlah siswa menyampaikan versi berbeda. Mereka mengklaim bahwa Agus sempat mengeluarkan kata-kata yang dianggap menghina, termasuk menyebut salah satu murid dengan istilah “miskin”, yang kemudian memicu keributan.

Agus membantah tudingan tersebut. Ia menegaskan bahwa ucapannya tidak dimaksudkan sebagai penghinaan, melainkan sebagai motivasi dalam konteks pembicaraan umum.

"Iya saya melontarkan sebagai motivasi, saya tidak bermaksud mengejek. Saya menceritakan secara umum. Saya mengatakan, 'kalau kita kurang mampu, kalau bisa jangan bertingkah macam-macam'. Itu secara motivasi pembicaraan," ungkapnya.

Setelah keributan awal, mediasi dilakukan dengan melibatkan guru-guru lain dan pihak sekolah. Dalam mediasi itu, Agus mengaku memberikan dua pilihan kepada siswa: mengajukan petisi jika tidak menginginkannya mengajar lagi, atau siswa diminta memperbaiki sikap.

Namun, mediasi tidak membuahkan kesepakatan. Para siswa justru menuntut Agus untuk meminta maaf, sementara Agus menilai situasi sudah tidak kondusif.

Dugaan Pengeroyokan dan Insiden Celurit

Situasi semakin memburuk setelah mediasi berakhir. Agus menyebut bahwa saat berjalan menuju ruang guru bersama pihak komite sekolah, ia justru dikeroyok oleh sejumlah siswa.

"Setelah mediasi itu, saya diajak komite ke kantor. Di saat itulah terjadi pengeroyokan oleh saya," ujarnya.

Keributan berlanjut hingga jam pelajaran selesai. Agus mengaku mendapatkan ancaman dan lemparan batu dari sejumlah siswa yang masih tidak terima dengan kejadian tersebut.

Dalam video yang beredar luas, Agus terlihat mengacungkan senjata tajam berupa celurit. Ia mengakui tindakan tersebut, namun menegaskan tidak ada niat untuk melukai siapa pun.

"Kebetulan kami itu SMK pertanian, memang kayak cangkul dan celurit lainnya memang tersedia di kantor. Kenapa saya memakai itu? Agar mereka bubar, tidak ada niat lain saya untuk itu. Pada kenyataannya mereka juga tidak bubar, malah melempari saya dengan batu," terang Agus.

Sorotan Publik dan Evaluasi Dunia Pendidikan

Kasus ini menjadi sorotan serius dunia pendidikan, karena mencerminkan rapuhnya relasi antara guru dan siswa ketika komunikasi dan pengelolaan konflik tidak berjalan baik. 

Di tengah tuntutan profesionalisme guru dan hak-hak siswa, peristiwa ini menegaskan pentingnya mekanisme penyelesaian konflik yang aman, adil, dan berorientasi pada perlindungan semua pihak.

Kini, publik menanti langkah lanjutan dari kepolisian serta sikap resmi dari Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. Kasus ini diharapkan menjadi pembelajaran penting agar kekerasan di lingkungan sekolah, baik terhadap guru maupun siswa, tidak kembali terulang.

Mau Diskusi Project Baru?

Contact Us