Writer: Raodatul - Senin, 19 Januari 2026 18:06:52
FYPMedia.id - Istilah gagal jantung dan serangan jantung masih kerap disalahartikan oleh masyarakat awam. Tak sedikit orang yang mengira keduanya adalah kondisi yang sama, bahkan menggunakan istilah tersebut secara bergantian dalam percakapan sehari-hari.
Padahal, secara medis, gagal jantung dan serangan jantung merupakan dua kondisi yang sangat berbeda, baik dari sisi penyebab, proses terjadinya penyakit, gejala, hingga penanganannya.
Kesalahpahaman ini bukan perkara sepele. Minimnya pemahaman mengenai perbedaan gagal jantung dan serangan jantung berpotensi membuat seseorang terlambat mengenali tanda bahaya, sehingga penanganan medis pun menjadi tidak optimal. Dalam kondisi tertentu, keterlambatan ini bahkan dapat berujung fatal.
Artikel ini akan mengulas secara komprehensif perbedaan gagal jantung dan serangan jantung, mulai dari definisi medis, faktor penyebab, gejala khas, hingga langkah penanganan dan pencegahan yang perlu diketahui masyarakat.
Apa Itu Gagal Jantung?
Secara medis, gagal jantung adalah kondisi kronis ketika jantung tidak mampu memompa darah secara optimal untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Namun, istilah “gagal” sering kali disalahartikan sebagai jantung berhenti bekerja. Faktanya, pada gagal jantung, jantung tetap berdetak, tetapi kekuatan pompanya melemah.
Kondisi ini biasanya berkembang secara perlahan dalam jangka waktu yang panjang. Akibatnya, tubuh tidak mendapatkan suplai oksigen dan nutrisi yang cukup, sehingga muncul berbagai keluhan yang semakin lama semakin memberat.
Baca Juga: 5 Fakta Penting Penyakit Jantung Koroner di Usia Muda: Waspadai Gejala Sejak Dini!
Dikutip dari Medical Daily, gejala gagal jantung tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan bertahap. Penderitanya kerap mengalami sesak napas kronis, mudah lelah, serta pembengkakan akibat penumpukan cairan atau edema.
Gejala lain yang umum dialami antara lain berkeringat berlebihan, mual, serta penurunan kemampuan melakukan aktivitas fisik ringan. Perkembangan gejala ini dapat berlangsung dalam hitungan minggu hingga bulan, sehingga sering kali diabaikan pada tahap awal.
Menariknya, seseorang yang pernah mengalami serangan jantung memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami gagal jantung di kemudian hari. Kerusakan otot jantung akibat serangan jantung dapat menurunkan kemampuan jantung dalam memompa darah secara efektif.
Apa Itu Serangan Jantung?
Berbeda dengan gagal jantung, serangan jantung merupakan kondisi akut yang terjadi secara mendadak. Serangan ini muncul ketika aliran darah ke otot jantung terhenti atau sangat berkurang, umumnya akibat penyumbatan pembuluh darah koroner.
Penyumbatan tersebut biasanya disebabkan oleh gumpalan darah atau plak kolesterol yang menumpuk di dinding pembuluh darah. Tanpa suplai oksigen yang cukup, jaringan otot jantung dapat mengalami kerusakan permanen atau bahkan mati dalam waktu singkat.
Menurut spesialis jantung dr Vito Damay, SpJP(K), FIHA, FICA, serangan jantung kerap berkaitan dengan berbagai faktor risiko, seperti tekanan darah tinggi, kadar kolesterol yang tidak terkontrol, hingga riwayat penyakit jantung dalam keluarga.
"Pada sebagian orang terutama yang terlatih, masih relatif muda, atau terbiasa menahan keluhan tanda ini bisa sangat ringan, disalahartikan sebagai kelelahan biasa, atau bahkan tidak dirasakan sama sekali sampai terjadi kolaps mendadak," kata dr Vito, dilansir dari detikcom, Senin (19/1/2025).
Pernyataan ini menegaskan bahwa serangan jantung tidak selalu diawali dengan nyeri dada hebat. Pada beberapa kasus, gejalanya sangat ringan hingga tidak disadari, sehingga penderita baru menyadari kondisinya ketika sudah terjadi komplikasi serius.
Baca Juga: 5 Keuntungan Mengonsumsi Kopi di Pagi Hari untuk Kesehatan JantungÂ
Gejala Serangan Jantung yang Perlu Diwaspadai
Menurut dr Vito, gejala serangan jantung dapat bervariasi pada setiap individu. Namun, secara umum, tanda-tanda yang paling sering muncul meliputi:
- Nyeri atau rasa tidak nyaman di dada (tertekan, berat, seperti diremas, atau terasa panas)
- Sesak napas yang tidak biasa
- Pusing
- Mual
- Keringat dingin
- Nyeri dada yang menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, atau punggung
Gejala-gejala ini merupakan sinyal darurat medis. Jika seseorang mengalaminya, pertolongan harus segera diberikan untuk mencegah kerusakan jantung yang lebih parah.
Perbedaan Gagal Jantung dan Serangan Jantung dari Segi Penyebab
Perbedaan mendasar antara gagal jantung dan serangan jantung terletak pada penyebab utamanya.
Serangan jantung diawali oleh terbentuknya plak kolesterol di pembuluh darah koroner. Plak ini dapat menyempitkan pembuluh darah atau pecah, sehingga serpihannya menyumbat aliran darah. Kondisi inilah yang menyebabkan otot jantung kekurangan oksigen dan nutrisi secara tiba-tiba.
Jika penyumbatan terjadi total, kerusakan otot jantung pun tak terhindarkan, dan terjadilah serangan jantung.
Sementara itu, gagal jantung disebabkan oleh berbagai kondisi yang melemahkan otot jantung secara perlahan dalam jangka panjang. Beberapa penyebab gagal jantung antara lain:
- Serangan jantung sebelumnya
- Tekanan darah tinggi (hipertensi)
- Gangguan katup jantung
- Kerusakan otot jantung akibat alkohol, infeksi virus, atau obat-obatan tertentu
- Penyakit jantung bawaan
- Penyakit paru-paru
- Penyakit kencing manis (diabetes)
Dengan kata lain, serangan jantung bisa menjadi salah satu pemicu gagal jantung, tetapi gagal jantung tidak selalu diawali oleh serangan jantung.
Perbedaan dari Segi Gejala
Dari sisi gejala, serangan jantung dan gagal jantung memiliki pola yang sangat berbeda.
Serangan jantung umumnya terjadi secara mendadak dan gejalanya cepat memburuk. Selain nyeri dada, penderita dapat merasakan pusing, keringat dingin, napas pendek, hingga rasa cemas berlebihan atau panik.
Sebaliknya, gejala gagal jantung berkembang secara perlahan dan progresif. Penderita sering mengeluhkan sesak napas, terutama saat berbaring, jantung berdebar tidak teratur, mudah lelah, serta pembengkakan pada kaki, tungkai, atau perut akibat penumpukan cairan.
Gagal jantung juga ditandai dengan penurunan toleransi aktivitas. Aktivitas ringan seperti berjalan beberapa langkah, naik tangga, atau bahkan bangun dari tempat tidur dapat menyebabkan rasa lelah dan sesak.
Baca Juga: 7 Fakta Jalan Kaki Pagi vs Sore, Mana Lebih Efektif Bakar Kalori & Jaga Jantung?
Perbedaan dari Segi Penanganan Medis
Penanganan serangan jantung dan gagal jantung juga sangat berbeda, meski sama-sama membutuhkan perhatian serius.
Serangan jantung merupakan kondisi gawat darurat yang harus ditangani secepat mungkin. Penanganan awal biasanya melibatkan pemberian obat pengencer darah untuk mencegah pembekuan lanjutan, serta nitrogliserin untuk melebarkan pembuluh darah.
Dalam banyak kasus, tindakan lanjutan seperti pemasangan stent atau operasi bypass jantung diperlukan untuk membuka sumbatan dan memulihkan aliran darah ke jantung.
Sementara itu, pada gagal jantung, kerusakan fungsi jantung umumnya tidak dapat dikembalikan sepenuhnya. Oleh karena itu, tujuan pengobatan adalah memperlambat progresivitas penyakit dan mencegah kondisi semakin memburuk.
Penanganan gagal jantung dapat meliputi pemberian obat-obatan, pemasangan alat pacu jantung, penggunaan diuretik untuk mengurangi penumpukan cairan, serta perubahan gaya hidup secara menyeluruh.
Pentingnya Pencegahan dan Kesadaran Dini
Baik gagal jantung maupun serangan jantung sama-sama berisiko menyebabkan kematian bila tidak ditangani dengan baik. Oleh karena itu, pencegahan menjadi kunci utama.
Masyarakat disarankan untuk menjaga pola makan sehat, mengurangi konsumsi makanan berlemak, berhenti merokok, membatasi alkohol, serta rutin berolahraga. Kontrol tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol juga sangat penting untuk menurunkan risiko penyakit jantung.
Jika mengalami nyeri dada, sesak napas, atau gejala mencurigakan lainnya, jangan menunda untuk mencari pertolongan medis. Deteksi dan penanganan dini dapat menyelamatkan nyawa.
Kesimpulan
Gagal jantung dan serangan jantung adalah dua kondisi medis yang berbeda, baik dari sisi penyebab, gejala, maupun penanganan.
Serangan jantung terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah koroner secara mendadak, sementara gagal jantung berkembang perlahan akibat melemahnya fungsi jantung.
Memahami perbedaan keduanya adalah langkah penting agar masyarakat tidak salah mengambil keputusan saat menghadapi gejala. Dengan edukasi yang tepat dan kesadaran dini, risiko komplikasi fatal akibat penyakit jantung dapat ditekan secara signifikan.