FYP
Media
Memuat Halaman...
0%
Saham Energi AS Melejit Usai Trump Buka Akses Minyak Venezuela

News

Saham Energi AS Melejit Usai Trump Buka Akses Minyak Venezuela

Writer: Raodatul - Selasa, 06 Januari 2026 11:19:05

Saham Energi AS Melejit Usai Trump Buka Akses Minyak Venezuela
Sumber gambar: Papan tanda terlihat di pompa bensin Chevron, Senin, 23 Oktober 2023. (AP/Rebecca Blackwell/File Foto)

FYPMedia.id - Pasar saham Amerika Serikat (AS) kembali diguncang sentimen geopolitik global. Saham-saham sektor energi melonjak signifikan setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait rencana pengambilalihan kendali Venezuela, negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. 

Optimisme investor meningkat tajam, terutama terhadap perusahaan minyak yang berpotensi memperoleh kembali akses ke ladang minyak Venezuela yang selama bertahun-tahun terisolasi akibat sanksi dan konflik politik.

Kabar ini langsung berdampak besar di Wall Street. Saham Chevron, satu-satunya perusahaan minyak besar AS yang masih memiliki eksistensi operasional di Venezuela, mencatat kenaikan tajam. 

Sementara saham perusahaan energi dan kilang minyak lainnya ikut terdorong, seiring harapan terbukanya kembali arus investasi dan produksi minyak mentah Venezuela ke pasar global.

Saham Chevron dan Perusahaan Migas AS Melonjak Tajam

Mengutip laporan Reuters, Selasa (6/1/2026), saham Chevron ditutup melonjak sekitar 5% pada perdagangan Senin (5/1/2026). 

Kenaikan ini menjadikan Chevron sebagai salah satu saham dengan performa terbaik di sektor energi AS dalam sehari.

Tak hanya Chevron, saham perusahaan penyulingan minyak besar seperti Marathon Petroleum, Phillips 66, PBF Energy, dan Valero Energy juga mencatat penguatan signifikan, dengan kenaikan berkisar antara 3,4% hingga 9,3%.

Lonjakan ini mencerminkan ekspektasi pasar bahwa perusahaan-perusahaan AS akan kembali mendapatkan akses strategis ke minyak Venezuela, yang selama ini terkunci oleh sanksi internasional dan ketegangan politik.

Baca juga: Penangkapan Maduro oleh AS Guncang Dunia, Krisis Venezuela Memuncak

Pernyataan Trump Jadi Pemicu Optimisme Pasar

Sentimen positif pasar dipicu oleh pernyataan Presiden Donald Trump yang menyebut AS berencana mengambil alih kendali Venezuela setelah penangkapan Presiden Nicolás Maduro. 

Trump juga menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan minyak Amerika akan dilibatkan untuk menghidupkan kembali industri migas Venezuela yang selama ini terpuruk.

Menurut sumber yang mengetahui pembahasan internal pemerintah AS, pemerintahan Trump bahkan berencana menggelar pertemuan dengan para eksekutif perusahaan minyak AS pada akhir pekan ini. 

Pertemuan tersebut akan membahas strategi peningkatan produksi minyak Venezuela dalam waktu relatif singkat.

Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintah AS disebut telah memberi sinyal kuat kepada perusahaan minyak agar segera kembali ke Venezuela dan menginvestasikan modal besar demi memulihkan industri energi negara tersebut.

Kompensasi Aset Jadi Daya Tarik Investor

Salah satu faktor yang memperkuat minat investor adalah adanya peluang kompensasi atas aset-aset perusahaan minyak AS yang disita Venezuela dua dekade lalu. 

Nasionalisasi industri minyak pada era pemerintahan sebelumnya memaksa banyak perusahaan seperti Exxon Mobil dan ConocoPhillips hengkang dari Venezuela.

Kini, peluang untuk mendapatkan kembali aset atau kompensasi membuka ruang optimisme baru. Saham ConocoPhillips dan Exxon Mobil tercatat ikut menguat, meski kedua perusahaan tersebut telah lama meninggalkan Venezuela.

Harga Minyak Naik, Namun Pasokan Global Masih Aman

Harga minyak dunia juga bergerak naik seiring sentimen geopolitik tersebut. Minyak mentah ditutup menguat sekitar US$ 1 per barel. 

Namun demikian, analis menilai potensi gangguan ekspor Venezuela tidak akan terlalu berdampak besar pada harga minyak global dalam jangka pendek.

Pasalnya, pasokan minyak dunia saat ini masih tergolong melimpah. Selain itu, produksi Venezuela telah anjlok drastis dalam beberapa dekade terakhir akibat kombinasi salah kelola, minimnya investasi asing, dan sanksi ekonomi dari AS.

Cadangan Minyak Terbesar Dunia, Tapi Produksi Terpuruk

Venezuela tercatat sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, melampaui Arab Saudi. Namun ironisnya, produksi minyak negara Amerika Selatan tersebut terus menurun tajam.

Penurunan ini disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari nasionalisasi industri minyak, keterbatasan teknologi, hingga sanksi internasional yang membuat investor asing hengkang. Infrastruktur migas Venezuela pun mengalami kerusakan serius dan membutuhkan investasi besar untuk bisa kembali beroperasi optimal.

Baca Juga: Persaingan Memanas, KFC dan Pizza Hut Lakukan Merger Strategis

Keunggulan Minyak Berat Venezuela

Minyak mentah Venezuela dikenal sebagai minyak berat dengan kandungan sulfur tinggi. Meski margin keuntungannya lebih rendah dibandingkan minyak ringan dari Timur Tengah, jenis minyak ini sangat cocok untuk kilang tertentu di Amerika Serikat.

Ahmad Assiri, Ahli Strategi Riset di Pepperstone, menjelaskan keunggulan tersebut secara teknis.

"Jenis minyak mentah ini sangat sesuai dengan konfigurasi kilang-kilang di Pantai Teluk AS yang secara historis dirancang untuk memproses jenis minyak tersebut," kata Ahmad Assiri.

Kilang-kilang di wilayah Teluk AS memang telah lama dirancang untuk mengolah minyak berat, sehingga pasokan dari Venezuela dinilai sangat strategis bagi keberlanjutan industri penyulingan AS.

Chevron Lompat Hingga 8% Sebelum Pembukaan Pasar

Optimisme pasar bahkan terlihat lebih kuat sebelum pembukaan perdagangan. Dalam laporan terpisah, saham Chevron sempat melonjak hingga 8% pada perdagangan pra-pasar, menyusul kabar bahwa AS telah menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro.

Trump juga berjanji bahwa perusahaan pengeboran Amerika akan menjadi aktor utama dalam menghidupkan kembali produksi minyak mentah Venezuela.

Saham-saham jasa ladang minyak seperti SLB dan Baker Hughes turut menguat, mencerminkan ekspektasi meningkatnya aktivitas pengeboran dan proyek energi di Venezuela dalam waktu dekat.

Sektor Pertahanan Ikut Diuntungkan

Tak hanya sektor energi, saham-saham sektor pertahanan global juga ikut menguat. Investor menilai meningkatnya ketegangan geopolitik berpotensi mendorong belanja militer di berbagai negara.

Saham perusahaan pertahanan asal Jerman, Rheinmetall, tercatat menguat signifikan, seiring meningkatnya spekulasi eskalasi konflik di kawasan Amerika Latin.

Pasar Global: Emas, Perak, dan Tembaga Menguat

Di tengah dinamika geopolitik tersebut, pasar komoditas global bergerak fluktuatif. Harga minyak mentah Brent sempat turun sekitar 2% sebelum akhirnya pulih.

Sementara itu, aset lindung nilai seperti emas mencatat kenaikan tajam. Kontrak berjangka emas naik sekitar 2,5%, mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset aman. Perak melonjak lebih dari 6%, disusul tembaga yang juga mengalami kenaikan harga.

Baca Juga: AeroMexico Pecahkan Rekor, Maskapai Paling Tepat Waktu di Dunia Tahun 2025

Pasar Saham Global Masih Waspada

Kontrak berjangka saham AS tercatat relatif lesu. Namun indeks Nasdaq-100 memimpin kenaikan, didorong oleh saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) seperti AMD dan Micron. Saham teknologi juga menguat di pasar Asia.

Meski optimisme meningkat, para pedagang energi menegaskan masih terdapat hambatan besar sebelum minyak Venezuela benar-benar mengalir bebas ke pasar global. 

Faktor politik, stabilitas keamanan, serta kesiapan infrastruktur menjadi tantangan utama yang tidak bisa diabaikan.

Kesimpulan

Lonjakan saham Chevron dan perusahaan energi AS mencerminkan besarnya harapan pasar terhadap terbukanya kembali sektor migas Venezuela. 

Dengan cadangan minyak terbesar di dunia, Venezuela menyimpan potensi ekonomi yang luar biasa.

Namun di balik peluang besar tersebut, risiko geopolitik, ketidakpastian regulasi, serta kondisi infrastruktur yang rapuh menjadi tantangan serius. 

Investor kini menanti langkah konkret pemerintahan Trump dan realisasi janji untuk membuka kembali akses minyak Venezuela secara berkelanjutan.

Jika rencana ini terealisasi, bukan hanya pasar saham AS yang diuntungkan, tetapi juga peta energi global yang berpotensi mengalami pergeseran besar dalam beberapa tahun ke depan.

Mau Diskusi Project Baru?

Contact Us