Writer: Raodatul - Rabu, 07 Januari 2026 18:30:10
FYPMedia.id - PT Indofarma Tbk (INAF) kembali menjadi sorotan pasar modal setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis daftar emiten yang masuk radar potensi delisting.
Dalam pengumuman resmi BEI per 30 Desember 2025, tercatat sebanyak 70 emiten berisiko didepak dari bursa, salah satunya adalah BUMN sektor farmasi, Indofarma.
Masuknya Indofarma dalam daftar tersebut tak lepas dari status suspensi perdagangan saham yang telah berlangsung hampir dua tahun.
Saham INAF dihentikan sementara sejak 2 Juli 2024 dan hingga awal 2026 belum kembali diperdagangkan. Kondisi ini memicu kekhawatiran investor terkait keberlangsungan usaha perusahaan pelat merah tersebut di pasar modal.
Namun, manajemen Indofarma menegaskan bahwa status suspensi tersebut bukan tanpa sebab, melainkan merupakan konsekuensi dari proses restrukturisasi besar-besaran yang tengah dijalankan perusahaan untuk memulihkan kondisi keuangan dan operasional.
Suspensi Panjang dan Ancaman Delisting
BEI menetapkan emiten masuk kategori potensi delisting apabila sahamnya disuspensi lebih dari enam bulan berturut-turut. Indofarma tercatat jauh melampaui ambang batas tersebut, menjadikan posisinya semakin krusial.
Situasi ini memunculkan spekulasi pasar bahwa Indofarma berada di ujung tanduk. Namun, manajemen perusahaan justru melihat fase ini sebagai bagian dari langkah penyelamatan jangka panjang.
Direktur Utama Indofarma, Sahat Sihombing, menegaskan bahwa perusahaan saat ini masih memprioritaskan proses restrukturisasi menyeluruh demi memastikan keberlanjutan bisnis.
"Triwulan III Tahun 2025, Perseroan telah menunjukkan perbaikan kinerja yang tercermin dari penurunan rasio beban usaha terhadap penjualan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, serta penurunan rasio rugi usaha," ungkap Sahat dalam keterangannya, dikutip dari laman Keterbukaan Informasi, Rabu (7/1/2026).
Baca Juga: Restrukturisasi Jadi Penentu, BUMN Bermasalah Terancam Delisting Bursa
Restrukturisasi Jadi Kunci Penyelamatan INAF
Manajemen Indofarma menjelaskan bahwa restrukturisasi yang dijalankan mencakup berbagai aspek, mulai dari operasional, keuangan, hingga tata kelola perusahaan. Langkah ini dilakukan sebagai respons atas tekanan finansial yang dihadapi perusahaan dalam beberapa tahun terakhir.
Restrukturisasi operasional dilakukan dengan pendekatan yang lebih selektif, termasuk:
Penataan ulang aktivitas produksi dan distribusi
Pengendalian biaya operasional secara ketat
Penyesuaian kapasitas produksi sesuai kebutuhan pasar
Langkah tersebut dinilai mulai membuahkan hasil, terlihat dari perbaikan rasio keuangan perusahaan sepanjang 2025.
Strategi Lanjutan 2026: Fokus Produk Farmasi dan Ekspor
Tak berhenti pada pemulihan jangka pendek, Indofarma telah menyiapkan strategi lanjutan untuk tahun 2026.
Sahat menyampaikan bahwa perusahaan akan melanjutkan restrukturisasi sesuai amanat perjanjian homologasi.
"Pada Tahun 2026, Perseroan melanjutkan restrukturisasi kinerja sebagaimana diamanatkan dalam perjanjian homologasi, dengan melakukan penyeimbangan kembali portofolio bisnis melalui penguatan kontribusi produk farmasi, pengembangan produk yang kompetitif, optimalisasi kemitraan strategis, serta peningkatan kinerja ekspor," jelasnya.
Langkah ini menunjukkan bahwa Indofarma tidak hanya berfokus pada pemulihan internal, tetapi juga berupaya memperkuat daya saing di tengah ketatnya industri farmasi nasional dan global.
Lean Manufacturing dan Efisiensi Menyeluruh
Sebagai bagian dari transformasi, Indofarma juga menerapkan prinsip lean manufacturing. Pendekatan ini bertujuan memangkas pemborosan dalam proses produksi sekaligus meningkatkan efisiensi.
Implementasi lean manufacturing dilakukan melalui:
Penataan ulang proses produksi
Penyederhanaan struktur organisasi
Efisiensi biaya pabrikasi
Optimalisasi sumber daya manusia
Menurut manajemen, efisiensi ini tidak hanya berdampak pada sisi operasional, tetapi juga memberikan efek positif terhadap keuangan, kepatuhan hukum, dan tata kelola perusahaan.
Baca Juga: Saham Energi AS Melejit Usai Trump Buka Akses Minyak Venezuela
Menjaga Kepercayaan Investor dan Pemangku Kepentingan
Ancaman delisting tentu menjadi ujian berat bagi kepercayaan investor. Namun Indofarma menilai keterbukaan informasi dan konsistensi restrukturisasi menjadi modal utama untuk memulihkan keyakinan pasar.
"Secara keseluruhan, realisasi rencana pemulihan ini diharapkan dapat memperkuat fundamental usaha, menjaga kelangsungan usaha Perseroan, serta meningkatkan kepercayaan pemegang saham dan pemangku kepentingan," pungkas Sahat.
Pernyataan tersebut menegaskan komitmen manajemen untuk tidak sekadar keluar dari krisis, tetapi juga membangun fondasi bisnis yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Ujian Berat BUMN Farmasi
Kasus Indofarma menjadi gambaran nyata tantangan yang dihadapi BUMN farmasi di tengah tekanan industri, perubahan regulasi, serta dinamika pasar kesehatan pascapandemi.
Ancaman delisting bukan hanya soal status pencatatan saham, tetapi juga menyangkut reputasi dan kepercayaan publik.
Ke depan, keberhasilan Indofarma akan sangat ditentukan oleh konsistensi implementasi restrukturisasi, perbaikan kinerja keuangan, serta kemampuan perusahaan beradaptasi dengan kebutuhan pasar.
Bagi investor, perjalanan Indofarma masih penuh tantangan, namun langkah-langkah pemulihan yang disampaikan manajemen menjadi sinyal bahwa perusahaan belum menyerah dan masih berupaya keluar dari tekanan.