Writer: Raodatul - Kamis, 08 Januari 2026 17:09:25
FYPMedia.id - Isu kesehatan kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial. Kali ini, istilah “usus kotor” mendadak viral dan diklaim sebagai biang keladi berbagai masalah kesehatan, mulai dari bau mulut, jerawat, perut buncit, sulit menurunkan berat badan, hingga gangguan tidur seperti insomnia. Narasi tersebut menyebar luas dan memicu perdebatan sengit di kalangan warganet.
Namun, benarkah usus kotor menjadi sumber dari hampir semua penyakit seperti yang diklaim? Para ahli medis menegaskan bahwa istilah tersebut tidak dikenal dalam dunia kedokteran, dan penyederhanaan masalah kesehatan semacam ini berpotensi menyesatkan masyarakat.
Klaim Viral di Media Sosial: Semua Salah Usus Kotor?
Viralnya isu ini bermula dari sebuah unggahan di platform X (sebelumnya Twitter) yang menyebut berbagai keluhan kesehatan berasal dari kondisi “usus kotor”.
"Kenapa banyak yang nggak tahu. Napas bau = usus kotor. Jerawat muncul = usus kotor. Perut kembung = usus kotor. Susah turun BB = usus kotor. Antibodi lemah = usus kotor. Craving terus = usus kotor. Sakit kepala = usus kotor. Perut buncit = usus kotor. Insomnia = usus kotor," tulis akun tersebut.
Unggahan ini langsung menuai ribuan interaksi. Sebagian warganet mengaku merasa “tercerahkan” karena mengaitkan pengalaman pribadi mereka dengan klaim tersebut. Namun, tak sedikit pula yang justru mempertanyakan validitasnya.
"Sejak kapan usus kita pernah bersih, nder? Klo usus kita bersih malah mati kita nder," tulis seorang netizen menanggapi.
Komentar lain bahkan menyindir fenomena ini sebagai bentuk penyederhanaan berlebihan.
"Im blaming everything on usus kotor from now on," tulis netizen lain dengan nada bercanda.
Perdebatan ini pun membuka ruang diskusi lebih luas mengenai literasi kesehatan di era digital, di mana informasi viral kerap dipercaya tanpa verifikasi ilmiah.
Baca Juga: 50% Kanker Usus Besar Terjadi pada Usia Muda, Waspadai Penyebabnya
Dokter Tegaskan: Tidak Ada Istilah Medis “Usus Kotor”
Menanggapi ramainya klaim tersebut, Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi, Prof dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, memberikan penjelasan medis yang tegas.
Menurut Prof Ari, istilah “usus kotor” sama sekali tidak dikenal dalam dunia kedokteran. Keluhan yang sering disematkan pada istilah tersebut sebenarnya lebih tepat disebut sebagai gangguan sistem pencernaan.
"Istilah usus kotor sebenarnya memang tidak dikenal dalam dunia medis," ujar Prof Ari, dikutip dari detikcom, Kamis (8/1/2026).
Ia menjelaskan, gangguan pencernaan bisa melibatkan banyak proses, mulai dari pemecahan makanan, penyerapan nutrisi, hingga pergerakan usus. Salah satu contohnya adalah kondisi maldigesti, di mana makanan tidak tercerna dengan baik.
Sembelit dan Pola BAB Tak Teratur Jadi Masalah Utama
Meski istilah “usus kotor” keliru, Prof Ari mengakui bahwa buang air besar (BAB) yang tidak teratur, terutama sembelit kronis, memang dapat memicu berbagai gangguan kesehatan.
"Ini bisa juga terkait dengan buang air besar yang tidak teratur, konstipasi itu bisa menyebabkan berbagai macam penyakit," jelasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut bisa memicu komplikasi seperti:
Divertikulosis, yaitu terbentuknya kantung kecil di dinding usus besar
Hemoroid atau ambeien
Polip usus, yang dalam jangka panjang bisa berisiko berkembang menjadi kanker
"Baik itu misalnya terjadi divertikulosis, kemudian juga terjadi hemoroid, kemudian juga bisa terbentuk polip dan lain-lain," sambung Prof Ari.
Namun, penting dicatat bahwa kondisi tersebut bukan disebabkan oleh “kotoran racun”, melainkan akibat gangguan fungsi usus yang dipengaruhi gaya hidup.
Peran Bakteri Baik dan Brain Gut Axis
Prof Ari juga menekankan bahwa usus manusia justru tidak boleh steril. Di dalamnya hidup triliunan bakteri baik yang berperan penting dalam pencernaan, sistem imun, hingga kesehatan mental.
Ia menyinggung konsep brain gut axis, yakni hubungan dua arah antara otak dan sistem pencernaan.
"Usus juga membutuhkan bakteri-bakteri baik, agar sistem pencernaan bekerja lebih sehat," ujarnya.
Ketidakseimbangan jumlah bakteri baik (disbiosis) dapat memicu peradangan, gangguan BAB, hingga penurunan daya tahan tubuh.
"Kalau kuman baiknya ini kurang, tentunya akan menyebabkan berbagai macam penyakit termasuk penyakit peradangan," jelas Prof Ari.
Kondisi ini juga bisa menimbulkan keluhan seperti bau tidak sedap saat kentut atau sendawa, yang sering disalahartikan sebagai tanda “usus kotor”.
"Jadi sekali lagi tidak tepat menggunakan istilah usus kotor," tegasnya.
Baca Juga: 8 Gejala Awal Kanker Usus Besar Menurut Dokter Harvard, Jangan Abaikan!
Mengapa Mitos “Usus Kotor” Mudah Dipercaya?
Fenomena ini menunjukkan masih rendahnya literasi kesehatan masyarakat, terutama di era media sosial. Narasi sederhana dan absolut seperti “semua penyakit berasal dari usus kotor” terdengar meyakinkan karena:
Mudah dipahami
Mengaitkan banyak keluhan umum
Seolah memberi solusi instan lewat “detoks”
Padahal, secara medis, tubuh manusia sudah memiliki sistem pembuangan limbah alami melalui hati, ginjal, dan saluran pencernaan.
“Usus Kotor” dalam Persepsi Awam: Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Dalam praktik sehari-hari, istilah “usus kotor” sering digunakan masyarakat untuk menggambarkan kondisi seperti:
Perut kembung dan begah
Sembelit berkepanjangan
Frekuensi BAB tidak teratur
Nyeri perut berulang
Bau tinja menyengat
Secara medis, kondisi ini lebih tepat disebut gangguan pencernaan fungsional, bukan penumpukan racun.
Cara Menjaga Kesehatan Usus Secara Ilmiah
Daripada terjebak mitos, dokter menyarankan pendekatan berbasis bukti ilmiah untuk menjaga kesehatan usus.
1. Perbanyak asupan serat: Sayur, buah, dan gandum utuh membantu melancarkan BAB dan memberi makan bakteri baik.
2. Cukupi kebutuhan cairan
Air membantu melunakkan tinja dan memperlancar pergerakan usus.
3. Rutin berolahraga: Aktivitas fisik merangsang kontraksi otot usus dan mengurangi stres.
4. Jangan menahan BAB: Menunda BAB dapat membuat tinja mengeras dan memperparah sembelit.
5. Konsumsi probiotik alami: Yogurt, tempe, dan kefir membantu menyeimbangkan flora usus.
6. Hindari detoks ekstrem: Pembersihan usus tanpa indikasi medis berisiko merusak keseimbangan alami tubuh.
Baca Juga: Gen Z Berisiko 2x Lipat Kena Kanker Usus Besar, Kenali 7 Gejalanya
Kapan Harus ke Dokter?
Segera konsultasi medis jika mengalami:
Nyeri perut berat dan menetap
BAB berdarah
Berat badan turun drastis tanpa sebab
Muntah terus-menerus
Sembelit atau diare kronis
Gejala tersebut bukan masalah “usus kotor”, melainkan bisa menandakan penyakit serius yang memerlukan penanganan profesional.
Kesimpulan
Viralnya istilah “usus kotor” menunjukkan betapa cepatnya informasi kesehatan menyebar tanpa dasar ilmiah.
Para ahli menegaskan bahwa tidak ada istilah medis bernama usus kotor, dan mengaitkan semua penyakit pada satu penyebab adalah bentuk penyederhanaan berbahaya.
Gangguan pencernaan memang nyata, tetapi solusinya bukan detoks ekstrem, melainkan pola hidup sehat, asupan bergizi, dan edukasi medis yang benar.
Di era digital, masyarakat dituntut lebih kritis agar tidak terjebak mitos yang tampak meyakinkan, namun menyesatkan.