Writer: Astriyani Sijabat - Rabu, 07 Januari 2026 15:10:38
FYP Media - Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, kembali memperketat pengawasan kesehatan penumpang. Langkah ini diambil menyusul munculnya kekhawatiran penyebaran Super Flu 2026, atau influenza A (H3N2) subclade K, yang dilaporkan telah terdeteksi di sejumlah wilayah Indonesia.
Pengelola bandara mengerahkan 25 unit pemindai suhu tubuh di berbagai titik strategis, khususnya jalur kedatangan dan keberangkatan internasional, sebagai upaya antisipasi dini masuknya virus dari luar negeri. Kebijakan ini mengingatkan publik pada masa pandemi Covid-19, ketika teknologi serupa digunakan secara masif untuk mendeteksi penumpang dengan gejala demam.
Pemindai Suhu Kembali Aktif, Antisipasi Super Flu dari Luar Negeri
General Manager Bandara I Gusti Ngurah Rai, Nugroho Jati, menjelaskan bahwa penggunaan kembali alat pemindai suhu didasarkan pada kemiripan gejala Super Flu dengan Covid-19, terutama demam tinggi.
“Gejala yang kami pelajari dan dapatkan informasinya kurang lebih mirip dengan flu biasa, hanya saja ada kondisi tertentu yang bisa terdeteksi dari suhu tubuh yang meningkat,” ujar Nugroho, Rabu (7/1/2026).
Ia menambahkan, seluruh pemindai suhu yang sebelumnya digunakan saat pandemi Covid-19 masih berfungsi normal dan kini dipasang kembali di alur utama bandara. Alat-alat tersebut tersebar merata untuk menjangkau arus penumpang yang mencapai rata-rata 66.000 orang per hari.
Belum Ada Kasus Terindikasi di Bandara Bali
Meski kewaspadaan ditingkatkan, pihak bandara memastikan belum ditemukan penumpang yang terindikasi membawa Super Flu hingga saat ini. Namun demikian, langkah antisipatif tetap dijalankan sebagai bentuk perlindungan kesehatan publik.
Selain pemindaian suhu, bandara juga menyiagakan personel kesehatan serta berkoordinasi intensif dengan Balai Karantina Indonesia dan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP).
“Saat ini statusnya masih landai dan sebatas imbauan kewaspadaan. Belum ada penerapan protokol khusus,” jelas Nugroho.
Apa Itu Super Flu? Benarkah Lebih Berbahaya?
Istilah Super Flu belakangan ramai diperbincangkan publik dan media sosial. Namun, Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa istilah ini tidak berarti virus tersebut lebih mematikan.
Super Flu merujuk pada influenza A (H3N2) subclade K, varian yang sudah dikenal dan saat ini bersirkulasi secara global dalam sistem surveilans World Health Organization (WHO).
Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, menegaskan bahwa hingga kini tidak ditemukan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan influenza musiman lainnya.
“Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi, influenza A(H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan keparahan. Gejalanya umumnya mirip flu musiman,” ujarnya.
Data Kasus Super Flu di Indonesia
Berdasarkan data Kemenkes hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus Super Flu yang tersebar di delapan provinsi di Indonesia. Provinsi dengan jumlah kasus terbanyak meliputi:
- Jawa Timur
- Kalimantan Selatan
- Jawa Barat
Menariknya, tren kasus influenza nasional justru menurun dalam dua bulan terakhir, menunjukkan bahwa situasi masih relatif terkendali.
Hasil pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) per 25 Desember 2025 juga mengonfirmasi bahwa influenza A(H3) menjadi varian dominan di Indonesia saat ini.
Gejala Super Flu yang Perlu Diwaspadai
Meski tidak lebih mematikan, masyarakat tetap diminta waspada terhadap gejala Super Flu yang umumnya meliputi:
- Demam
- Batuk
- Pilek
- Sakit kepala
- Nyeri tenggorokan
- Lemas dan nyeri otot
Gejala tersebut sangat mirip dengan flu biasa, sehingga deteksi dini dan kesadaran masyarakat menjadi kunci utama pencegahan penularan.
Kelompok Rentan Diminta Lebih Hati-Hati
Kemenkes menekankan bahwa kewaspadaan perlu ditingkatkan terutama pada kelompok rentan, seperti:
- Lansia
- Ibu hamil
- Anak-anak
- Penderita penyakit penyerta (komorbid)
Kelompok ini berisiko mengalami komplikasi lebih serius jika terinfeksi influenza.
Cara Efektif Mencegah Penularan Super Flu
Juru Bicara Kemenkes RI, Widyawati, mengimbau masyarakat untuk konsisten menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai langkah paling efektif mencegah penularan.
Beberapa langkah pencegahan Super Flu yang direkomendasikan antara lain:
- Cuci tangan secara rutin dengan sabun dan air mengalir
- Istirahat cukup dan kelola stres
- Konsumsi makanan bergizi seimbang untuk menjaga imunitas
- Gunakan masker saat sakit, terutama di tempat umum
- Terapkan etika batuk dan bersin
Selain itu, vaksinasi influenza tahunan tetap menjadi perlindungan utama.
“Vaksin influenza masih efektif mencegah sakit berat, rawat inap, hingga kematian akibat influenza,” ujar Widyawati.
Kapan Harus ke Fasilitas Kesehatan?
Masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan gejala flu. Jika mengalami kondisi berikut, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan:
- Demam tinggi tidak turun
- Gejala tidak membaik lebih dari tiga hari
- Sesak napas atau lemas berat
“Jika sedang sakit, sebaiknya tetap di rumah, perbanyak istirahat, dan gunakan masker,” tambah Widyawati.
Kesimpulan: Waspada Tanpa Panik
Langkah Bandara I Gusti Ngurah Rai mengerahkan pemindai suhu menunjukkan kesiapsiagaan pemerintah dalam menjaga pintu masuk negara. Meski disebut Super Flu, virus ini bukan ancaman baru yang mematikan, namun tetap memerlukan kewaspadaan bersama.
Dengan kolaborasi pemerintah, pengelola transportasi, dan masyarakat, penyebaran influenza di Indonesia diharapkan tetap terkendali sepanjang 2026.