FYP
Media
Memuat Halaman...
0%
Arab Saudi Gebrak Pasar Modal Global, Investor Asing Bebas Masuk 2026

News

Arab Saudi Gebrak Pasar Modal Global, Investor Asing Bebas Masuk 2026

Writer: Raodatul - Kamis, 08 Januari 2026 16:31:20

Arab Saudi Gebrak Pasar Modal Global, Investor Asing Bebas Masuk 2026
Sumber gambar: Ilustrasi bendera Arab Saudi/Foto: AFP/OZAN KOSE

FYPMedia.id - Arab Saudi kembali membuat gebrakan besar di sektor keuangan. Kerajaan tersebut resmi membuka akses pasar keuangan bagi seluruh investor asing mulai 1 Februari 2026, sebuah langkah strategis yang menandai babak baru liberalisasi pasar modal di Timur Tengah.

Keputusan ini menghapus berbagai pembatasan yang sebelumnya hanya mengizinkan investor asing dengan kualifikasi tertentu untuk bertransaksi langsung di pasar saham Saudi. 

Dengan kebijakan baru ini, investor dari seluruh dunia kini dapat masuk langsung ke pasar keuangan Arab Saudi tanpa syarat khusus.

Langkah progresif ini dipandang sebagai upaya agresif Riyadh untuk meningkatkan likuiditas pasar, menarik aliran modal global, serta mempercepat transformasi ekonomi nasional agar tidak lagi bergantung pada sektor minyak.

Aturan Lama Dihapus, Semua Investor Asing Kini Setara

Mengutip laporan Reuters dan Bloomberg, Otoritas Pasar Modal Arab Saudi (Capital Market Authority/CMA) mengonfirmasi bahwa seluruh konsep Qualified Foreign Investor (QFI) resmi dihapus dari pasar utama Tadawul.

Sebelumnya, investor asing diwajibkan memenuhi sejumlah persyaratan ketat, salah satunya memiliki aset kelolaan minimal USD500 juta. Kebijakan tersebut dinilai membatasi partisipasi investor global, terutama investor institusi menengah hingga ritel internasional.

Dalam pernyataan resminya, regulator Saudi menyampaikan:

“Perubahan yang disetujui menghapus konsep Qualified Foreign Investor (QFI) di pasar utama, sehingga memungkinkan semua kategori investor asing mengakses pasar tanpa harus memenuhi persyaratan kualifikasi.”

Dengan aturan baru ini, investor non-residen dapat berinvestasi langsung di pasar saham Saudi mulai 1 Februari 2026, tanpa melalui perantara khusus maupun proses administrasi berlapis.

Baca Juga: Saham Energi AS Melejit Usai Trump Buka Akses Minyak Venezuela

Dorong Likuiditas di Tengah Tekanan Pasar Saham

Kebijakan ini hadir di saat yang krusial. Sepanjang tahun lalu, indeks utama Tadawul All Share Index tercatat turun hampir 13 persen, menjadikannya salah satu pasar saham dengan kinerja terlemah dibandingkan pasar negara berkembang lainnya.

Otoritas pasar modal Saudi berharap, masuknya investor asing secara masif dapat menghidupkan kembali aktivitas perdagangan, meningkatkan volume transaksi, serta memperbaiki sentimen pasar.

Saat ini, dari total nilai pasar saham Arab Saudi yang mencapai USD2,3 triliun, kepemilikan investor asing tercatat lebih dari 590 miliar riyal Saudi atau setara USD157,3 miliar per akhir September. 

Menariknya, sekitar 88 persen dana asing tersebut masih terkonsentrasi pada saham-saham indeks utama, menunjukkan ruang besar untuk diversifikasi investasi.

Kebutuhan Modal Asing Kian Mendesak

Dorongan untuk membuka akses pasar tidak lepas dari kondisi fiskal Arab Saudi. Belanja pemerintah yang tinggi di tengah pendapatan minyak yang melemah telah mendorong kerajaan ke dalam defisit anggaran yang lebih dalam.

Situasi ini membuat aliran modal asing menjadi semakin krusial untuk menjaga momentum pembangunan dan investasi, terutama dalam proyek-proyek besar Vision 2030.

Jika aliran modal global tidak diperkuat, sejumlah analis menilai investasi jangka panjang berpotensi melambat dan memberi tekanan tambahan pada pertumbuhan ekonomi Saudi.

IPO Mengantre, Pasar Butuh Sentimen Positif

Di sisi lain, pasar saham Saudi juga tengah bersiap menghadapi gelombang penawaran umum perdana (IPO). CEO bursa saham Saudi mengungkapkan bahwa:

  • 40 perusahaan telah mengajukan proses IPO

  • Total calon IPO berpotensi mencapai 100 perusahaan

Masuknya investor asing dalam skala luas dinilai dapat menjadi sinyal kepercayaan penting bagi perusahaan-perusahaan yang akan melantai di bursa, sekaligus memperkuat valuasi saham domestik.

Seorang manajer investasi global menilai reformasi ini sebagai tonggak penting:

“Progres berkelanjutan menuju liberalisasi pasar modal Saudi bukan hanya merupakan tonggak penting bagi kerajaan itu sendiri, tetapi juga bagi kawasan secara lebih luas,” kata manajer investasi di Barings, Adnan El-Araby.

Baca Juga: Terancam Delisting BEI, Indofarma Ungkap Strategi Pemulihan Total 2026

ETF Global hingga Properti Suci Mekah dan Madinah

Sebelum kebijakan ini diberlakukan, Arab Saudi telah lebih dulu mengambil sejumlah langkah strategis untuk menarik minat investor global. 

Salah satunya dengan meluncurkan produk Exchange Traded Fund (ETF) di berbagai negara Asia, seperti Jepang dan Hong Kong.

Selain itu, kerajaan juga membuka perdagangan saham untuk sektor properti di Mekah dan Madinah, meski tanpa mengubah kepemilikan tanah secara langsung. 

Namun, sejumlah analis menilai langkah tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap arus modal asing.

Batas Kepemilikan Asing Masih Jadi PR Besar

Meski akses pasar kini dibuka lebar, sebagian investor global masih menunggu langkah lanjutan dari regulator, khususnya terkait batas kepemilikan asing.

Saat ini, kepemilikan asing di perusahaan Saudi masih dibatasi maksimal 49 persen. JP Morgan menilai perubahan aturan ini akan menjadi katalis terbesar bagi pasar saham Saudi ke depan.

“Sebagai pengingat, perubahan regulasi utama yang dinantikan investor adalah perubahan batasan kepemilikan asing, yang seharusnya berdampak positif pada pasar,” tulis JPM dalam catatannya.

Namun, otoritas Saudi menegaskan bahwa perubahan batas kepemilikan tersebut belum akan dilakukan dalam waktu dekat, dan masih menjadi bagian dari tinjauan kebijakan tahun 2026.

Potensi Dana Global Mengalir Deras

Meski demikian, optimisme tetap menguat. Jefferies International Limited memperkirakan bahwa kenaikan batas kepemilikan asing dari 49 persen menjadi 60–100 persen di masa depan berpotensi memicu aliran dana pasif global dalam jumlah besar.

“Tim penyusun indeks kami memperkirakan bahwa kenaikan batas kepemilikan asing dari 49 persen saat ini menjadi 60–100 persen berpotensi menarik aliran dana pasif sebesar USD3,4 miliar hingga USD10,2 miliar dari investor global yang mengikuti indeks MSCI dan FTSE,” ujar Direktur Pelaksana Riset Ekuitas Jefferies, Naresh Bilandani.

Jika skenario tersebut terealisasi, posisi Arab Saudi sebagai pusat keuangan regional Timur Tengah akan semakin menguat di peta investasi global.

Baca Juga:  Restrukturisasi Jadi Penentu, BUMN Bermasalah Terancam Delisting Bursa

Langkah Strategis Menuju Ekonomi Non-Minyak

Secara lebih luas, kebijakan ini merupakan bagian integral dari visi besar Arab Saudi Vision 2030, yang menargetkan diversifikasi ekonomi dan pengurangan ketergantungan pada minyak.

Dengan membuka pasar modal secara penuh, Saudi berharap dapat:

  • Memperluas basis investor

  • Meningkatkan transparansi pasar

  • Mempercepat pertumbuhan sektor non-migas

  • Menarik teknologi dan keahlian global

Bagi investor internasional, kebijakan ini membuka peluang besar untuk mengakses salah satu pasar saham terbesar dan paling likuid di kawasan Timur Tengah.

Kesimpulan: Era Baru Pasar Modal Arab Saudi

Pembukaan akses pasar keuangan bagi seluruh investor asing menandai era baru pasar modal Arab Saudi. 

Meski masih menyisakan tantangan, terutama terkait batas kepemilikan saham, kebijakan ini dinilai sebagai langkah progresif yang dapat mengubah lanskap investasi regional.

Dengan kombinasi reformasi regulasi, proyek besar Vision 2030, serta potensi aliran dana global, Arab Saudi kini semakin serius memposisikan diri sebagai destinasi investasi utama dunia.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah investor asing akan masuk, melainkan seberapa besar dan seberapa cepat modal global akan mengalir ke pasar Saudi.

Mau Diskusi Project Baru?

Contact Us