FYP
Media
Memuat Halaman...
0%
Matcha “Infus” Viral di Bali, Ini Fakta D5 Dextrose dan Risiko Etisnya

News

Matcha “Infus” Viral di Bali, Ini Fakta D5 Dextrose dan Risiko Etisnya

Writer: Raodatul - Selasa, 06 Januari 2026 13:26:06

Matcha “Infus” Viral di Bali, Ini Fakta D5 Dextrose dan Risiko Etisnya
Sumber gambar: Penampakan produk matcha viral pakai kemasan infus (Foto: SS TikTok viral)

FYPMedia.id - Fenomena kuliner unik kembali menyita perhatian publik. Kali ini, sebuah kedai teh di Bali menjadi viral di media sosial karena menyajikan minuman matcha dengan kemasan menyerupai cairan infus medis. 

Alih-alih sekadar menarik minat konsumen, gimik tersebut justru memicu perdebatan luas tentang etika, keamanan pangan, hingga potensi penyalahgunaan atribut medis.

Minuman matcha itu dikemas dalam kantong infus lengkap dengan selang, digantung layaknya cairan intravena di rumah sakit. Yang membuat kontroversi semakin besar, pada kemasan tersebut tertulis “D5 Dextrose monohydrate”, istilah yang identik dengan cairan infus medis. 

Tak sedikit warganet yang mempertanyakan: apakah kemasan tersebut benar-benar infus medis, limbah rumah sakit, atau sekadar tiruan?

Matcha Infus Viral dan Respons Publik

Video penyajian matcha “berinfus” tersebut beredar luas di berbagai platform media sosial, mulai dari TikTok hingga X. 

Dalam video itu, terlihat cairan berwarna hijau muda dimasukkan ke dalam kantong infus berukuran 500 ml dengan label yang sangat menyerupai produk medis asli.

Reaksi publik pun beragam. Sebagian menganggapnya kreatif dan unik, namun tidak sedikit pula yang menyuarakan kekhawatiran serius, terutama terkait higienitas dan keamanan alat yang digunakan.

Salah satu warganet menulis, “Kalau limbah medis, dapet dr mana? Kalau beneran D5 dan gimana caranya bisa beli D5 dlm jmlh banyak?” Kekhawatiran lain datang dari sisi kebersihan. “Penasaran itu alatnya higienis ga ya, pencuciannya gimana, atau sekali pakai buang?” tulis warganet lain di kolom komentar.

Isu ini pun berkembang dari sekadar tren kuliner menjadi diskusi publik tentang batas etika dalam pemasaran makanan dan minuman.

Baca Juga: 10 Makanan dan Buah Penjaga Ginjal Sehat, Bantu Detoks Alami Tubuh 

Apa Itu Infus D5 Dextrose Monohydrate?

Di tengah kegaduhan tersebut, masyarakat mulai mencari tahu apa sebenarnya D5 Dextrose monohydrate. 

Infus D5 bukan sekadar istilah estetika atau gimmick visual, melainkan cairan medis yang digunakan dalam praktik kesehatan.

Spesialis penyakit dalam, Prof Dr dr Ketut Suastika, SpPD-KEMD, menjelaskan bahwa infus D5 adalah cairan infus yang mengandung glukosa 5 persen dalam air.

“Infus D5 adalah cairan infus, makanan yang dimasukkan dalam cairan yang bisa langsung dimasukkan melalui pembuluh darah, mengandung dextrose atau glukosa 5 persen. 

Artinya 5 gram dextrose atau glukosa dalam 100 ml air,” ungkap Prof Ketut ketika dihubungi, Selasa (6/1/2025).

Ia menambahkan bahwa cairan ini biasanya diberikan kepada pasien yang membutuhkan tambahan energi atau kalori, terutama ketika asupan oral tidak mencukupi.

“Biasanya diberikan kepada pasien yang membutuhkan kalori tambahan di samping kalori melalui saluran cerna mulut atau makanan normal,” sambungnya.

Dengan kata lain, D5 Dextrose monohydrate merupakan cairan medis yang dirancang khusus untuk penggunaan intravena di bawah pengawasan tenaga kesehatan, bukan sekadar wadah estetika untuk minuman.

Antara Kreativitas dan Etika

Menurut Prof Ketut, penggunaan simbol atau kemasan medis untuk kepentingan komersial perlu dipertimbangkan secara matang dari sisi etika. 

Ia menilai bahwa kreativitas dalam bisnis kuliner tetap harus dibarengi dengan tanggung jawab edukatif kepada masyarakat.

“Sebaiknya gimmick juga ada etikanya, apakah sudah mendapat izin dari Otsuka atau farmasi lain yang memproduksi infus D5,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa cairan infus memiliki makna medis yang sangat spesifik. Ketika atribut tersebut digunakan dalam konteks minuman biasa, dikhawatirkan akan menimbulkan salah persepsi di masyarakat.

“Dan harus ada pembelajaran yang baik, kalau cairan infus memang nutrisi yang dimasukkan melalui pembuluh darah, hati-hati dengan minuman biasa, jangan salah persepsi bahwa matcha bisa dipakai infus. Memang harus pintar-pintar mendidik masyarakat,” tandasnya.

Pernyataan ini menyoroti risiko edukatif yang muncul ketika simbol medis digunakan tanpa konteks yang tepat.

Klarifikasi dari Produsen Infus

Kegaduhan semakin meluas ketika nama PT Otsuka Indonesia, salah satu produsen cairan infus di Indonesia, tercantum dalam label kemasan yang beredar di video viral tersebut. Hal ini memunculkan dugaan adanya penggunaan produk medis asli atau bahkan penyalahgunaan merek.

Menanggapi hal itu, pihak PT Otsuka Indonesia menegaskan bahwa cairan infus yang digunakan dalam penyajian matcha tersebut bukan produk mereka. Perusahaan juga menyebut adanya indikasi penyalahgunaan merek dan kemasan infus.

Klarifikasi ini penting untuk menepis anggapan bahwa produk medis resmi digunakan di luar peruntukannya. 

Namun, di sisi lain, pernyataan tersebut justru memperkuat pertanyaan publik: jika bukan produk asli, dari mana asal kemasan infus tersebut?

Baca Juga: 5 Minuman Ampuh Bantu Bakar Lemak Perut dan Turunkan Berat Badan

Klarifikasi dari Pihak Kedai Teh

Kedai teh yang diketahui bernama Buba Tea Bali akhirnya memberikan klarifikasi melalui akun media sosialnya. Mereka menyatakan bahwa kemasan infus tersebut hanyalah metafora visual, bukan alat medis sungguhan.

“Format infus ini adalah metafora visual yang terinspirasi oleh gagasan ‘mengisi ulang energi’ bukan produk medis,” tulis pihak Buba Tea Bali.

Mereka juga menegaskan bahwa kemasan yang digunakan aman untuk makanan. “Kemasan kami sekali pakai dan aman untuk makanan, diproduksi sesuai dengan standar keamanan pangan,” lanjut pernyataan tersebut.

Namun, klarifikasi ini belum sepenuhnya meredakan keraguan publik. Pasalnya, akun yang memberikan pernyataan tersebut baru dibuat dan belum ditemukan penjelasan serupa di akun resmi lainnya. 

Kondisi ini membuat sebagian warganet masih mempertanyakan transparansi dan validitas klaim keamanan tersebut.

Risiko Persepsi dan Keamanan Konsumen

Terlepas dari benar atau tidaknya penggunaan infus medis asli, para ahli sepakat bahwa penggunaan atribut kesehatan dalam konteks makanan dan minuman memiliki risiko besar. Selain potensi pelanggaran merek, ada risiko psikologis dan edukatif bagi konsumen.

Penggunaan simbol infus dapat menormalisasi pemahaman keliru bahwa nutrisi bisa diserap dengan cara apa pun, termasuk menyamakan minuman biasa dengan cairan intravena. 

Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menurunkan pemahaman masyarakat tentang fungsi dan risiko prosedur medis.

Selain itu, aspek higienitas juga menjadi sorotan. Konsumen berhak mengetahui apakah kemasan tersebut sekali pakai, bagaimana proses produksinya, dan apakah benar-benar memenuhi standar keamanan pangan.

Pelajaran dari Matcha Infus Viral

Kasus matcha “infus” viral di Bali menjadi contoh nyata bagaimana strategi pemasaran yang mengejar viralitas bisa berujung kontroversi. 

Di era media sosial, kreativitas memang menjadi nilai jual, tetapi tanpa batas etika dan edukasi, strategi tersebut justru bisa merugikan banyak pihak.

Bagi pelaku usaha, transparansi dan kehati-hatian menjadi kunci. Sementara bagi konsumen, literasi kesehatan dan kritis terhadap tren viral sangat dibutuhkan agar tidak mudah terjebak persepsi keliru.

Kesimpulan

Viralnya matcha berkemasan infus bukan sekadar tren kuliner unik, melainkan alarm penting tentang batas antara kreativitas, etika, dan edukasi publik. 

Infus D5 Dextrose monohydrate adalah cairan medis dengan fungsi spesifik, bukan simbol estetika yang bebas digunakan tanpa konsekuensi.

Seperti diingatkan Prof Ketut, gimmick pemasaran tetap harus mempertimbangkan nilai edukatif dan etika. 

Di tengah maraknya konten viral, masyarakat perlu dilindungi dari salah persepsi, sementara pelaku usaha dituntut lebih bertanggung jawab dalam berinovasi.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa tidak semua yang viral layak ditiru, dan tidak semua kreativitas bebas dari tanggung jawab sosial.

Mau Diskusi Project Baru?

Contact Us