FYP
Media
Memuat Halaman...
0%
Waspada Sindrom Brugada, Ancaman Gangguan Jantung yang Mengintai Saat Tidur

News

Waspada Sindrom Brugada, Ancaman Gangguan Jantung yang Mengintai Saat Tidur

Writer: Raodatul - Senin, 05 Januari 2026 14:29:06

Waspada Sindrom Brugada, Ancaman Gangguan Jantung yang Mengintai Saat Tidur
Sumber gambar: Ilustrasi Sindrom Brugada, Ancaman Gangguan Jantung yang Mengintai Saat Tidur/Freepik

FYPMedia.id- Kematian mendadak saat tidur kerap memicu rasa cemas dan tanda tanya besar bagi keluarga yang ditinggalkan. Seseorang terlihat sehat, beraktivitas normal, bahkan tidak mengeluhkan penyakit apa pun sebelumnya. 

Namun dalam dunia medis, terdapat gangguan jantung tertentu yang dapat memicu henti jantung secara tiba-tiba tanpa gejala awal yang jelas.

Salah satu kondisi tersebut adalah Sindrom Brugada, gangguan irama jantung langka tetapi berisiko fatal. Sindrom ini dikenal sebagai penyebab kematian mendadak, terutama saat penderitanya sedang tidur atau beristirahat. Karena sering tidak bergejala, Sindrom Brugada kerap luput dari deteksi hingga terjadi kondisi darurat.

Pemahaman yang tepat mengenai Sindrom Brugada menjadi sangat penting, bukan untuk menimbulkan ketakutan, melainkan untuk meningkatkan kewaspadaan dan deteksi dini.

Apa Itu Sindrom Brugada?

Sindrom Brugada merupakan gangguan irama jantung atau aritmia yang disebabkan oleh kelainan sistem listrik jantung. 

Kondisi ini membuat irama jantung menjadi tidak teratur, khususnya pada bilik bawah jantung, sehingga jantung tidak mampu memompa darah secara optimal ke seluruh tubuh.

Sindrom ini tergolong langka, namun memiliki dampak yang serius karena dapat menyebabkan pingsan, kejang, hingga henti jantung mendadak. Yang membuatnya berbahaya, banyak penderita Sindrom Brugada tidak menunjukkan gejala apa pun sebelum kejadian fatal terjadi.

Dikutip dari laman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Sindrom Brugada umumnya terdeteksi melalui pemeriksaan elektrokardiogram (EKG). 

Selain EKG standar, dokter juga dapat melakukan pemantauan lanjutan menggunakan alat EKG portabel atau tes Holter selama 24 hingga 48 jam, serta pemeriksaan darah atau air liur untuk melihat kemungkinan kelainan genetik.

Baca Juga:  4 Fakta Tidur Lampu Mati Vs Nyala: Dampak Sehat & Bahayanya!

Mengapa Sindrom Brugada Bisa Terjadi?

Setiap detak jantung dipicu oleh sinyal listrik yang dihasilkan oleh sel-sel khusus di jantung. Pada sel-sel tersebut terdapat saluran kecil (ion channel) yang mengatur aliran listrik sehingga irama jantung tetap stabil.

Pada penderita Sindrom Brugada, terjadi gangguan pada saluran listrik tersebut. Akibatnya, sinyal listrik jantung menjadi kacau dan memicu detak jantung yang sangat cepat atau tidak teratur. 

Kondisi ini dapat membuat jantung gagal memompa darah dengan cukup, sehingga aliran darah ke otak dan organ vital terganggu.

Dikutip dari laman Mayo Clinic, Sindrom Brugada dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

  • Masalah struktural pada jantung yang sulit terdeteksi

  • Ketidakseimbangan zat kimia dalam tubuh (elektrolit)

  • Penggunaan obat resep tertentu

  • Penyalahgunaan zat terlarang seperti kokain

Selain itu, Sindrom Brugada juga dikenal sebagai gangguan irama jantung akibat kelainan genetik. Mutasi pada satu atau beberapa gen yang berperan menjaga stabilitas irama jantung dapat diturunkan dari orang tua ke anak.

Faktor Risiko Sindrom Brugada

Meski dapat dialami siapa saja, Sindrom Brugada lebih sering ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan. Gejalanya paling sering muncul pada usia dewasa muda hingga paruh baya, sekitar 30–40 tahun.

Beberapa kondisi diketahui dapat memicu atau memperburuk gejala Sindrom Brugada, di antaranya:

  • Gangguan elektrolit

  • Efek samping obat tertentu, seperti obat antiaritmia, antihipertensi, dan antidepresan

  • Penyalahgunaan kokain

  • Demam tinggi

  • Dehidrasi

  • Konsumsi alkohol berlebihan

Demam menjadi salah satu pemicu yang cukup berbahaya karena dapat memperparah gangguan irama jantung pada penderita Sindrom Brugada, bahkan memicu henti jantung mendadak.

Gejala Sindrom Brugada yang Perlu Diwaspadai

Banyak penderita Sindrom Brugada tidak merasakan gejala apa pun. Namun, pada sebagian kasus, tanda-tanda gangguan irama jantung dapat muncul, baik secara ringan maupun berat.

Gejala yang mungkin terjadi meliputi:

  • Pusing

  • Pingsan

  • Nyeri dada

  • Jantung berdebar atau palpitasi

  • Sesak napas

  • Detak jantung sangat cepat dan tidak teratur

  • Terengah-engah atau kesulitan bernapas, terutama di malam hari

  • Kejang

Kematian jantung mendadak sering terjadi saat tidur. Kondisi ini diduga berkaitan dengan peningkatan aktivitas saraf vagus yang memengaruhi irama jantung saat tubuh berada dalam kondisi istirahat.

Baca Juga: 5 Kebiasaan yang Bisa Membantumu Tidur Lebih Nyenyak

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Setiap gejala gangguan irama jantung tidak boleh diabaikan. Jika seseorang mengalami pingsan tanpa sebab yang jelas, jantung berdebar hebat, atau sesak napas mendadak, pemeriksaan medis harus segera dilakukan.

Apabila menemukan seseorang yang mengalami henti jantung mendadak, langkah darurat harus segera diambil. 

Hubungi ambulans secepat mungkin dan berikan pertolongan pertama berupa CPR atau AED bila tersedia, kemudian segera bawa pasien ke instalasi gawat darurat rumah sakit terdekat.

Bagaimana Sindrom Brugada Didiagnosis?

Diagnosis Sindrom Brugada dilakukan melalui beberapa tahapan. Dokter akan menggali riwayat gejala, termasuk apakah terdapat anggota keluarga yang pernah mengalami kondisi serupa atau meninggal akibat henti jantung mendadak.

Pemeriksaan fisik dilakukan dengan mendengarkan detak jantung menggunakan stetoskop. Selanjutnya, pemeriksaan penunjang dibutuhkan untuk memastikan diagnosis, antara lain:

  • Elektrokardiogram (EKG), terkadang dibantu obat tertentu

  • Kateterisasi jantung untuk evaluasi irama jantung yang lebih detail

  • Pemeriksaan genetik untuk mendeteksi mutasi gen yang berhubungan dengan Sindrom Brugada

Pengobatan Sindrom Brugada

Hingga saat ini, pengobatan utama Sindrom Brugada adalah pemasangan implan alat kejut jantung otomatis atau Implantable Cardioverter Defibrillator (ICD). Alat ini dipasang di bawah tulang selangka dan terhubung ke jantung melalui pembuluh darah.

ICD berfungsi memantau irama jantung secara terus-menerus. Jika terjadi gangguan irama berbahaya, alat ini akan memberikan kejutan listrik untuk mengembalikan detak jantung ke kondisi normal.

Namun, perlu diketahui bahwa ICD dapat mengirimkan kejutan meski detak jantung sedang normal. Oleh karena itu, pasien dengan ICD perlu menjalani kontrol rutin agar pengaturan alat tetap optimal. Jika ICD tidak efektif, dokter dapat merekomendasikan terapi ablasi jantung atau pemberian obat antiaritmia.

Baca Juga: 5 Fakta Mengejutkan: Tidur dengan Lampu Menyala Bisa Naikkan Risiko Penyakit Jantung hingga 56%

Komplikasi Paling Berbahaya Sindrom Brugada

Komplikasi paling serius dari Sindrom Brugada adalah henti jantung mendadak yang dapat berujung pada kematian. 

Selain itu, gangguan irama jantung juga dapat menghambat aliran darah ke otak, menyebabkan pingsan atau kejang.

Kedua kondisi ini merupakan kegawatdaruratan medis yang membutuhkan penanganan cepat dan tepat.

Bisakah Sindrom Brugada Dicegah?

Karena bersifat genetik, Sindrom Brugada tidak dapat dicegah sepenuhnya. Namun, komplikasinya dapat diminimalkan melalui deteksi dini dan pengelolaan yang tepat.

Bagi individu yang memiliki anggota keluarga dengan Sindrom Brugada atau riwayat kematian mendadak akibat gangguan jantung, pemeriksaan jantung secara rutin sangat disarankan meski tidak mengalami gejala.

Penderita Sindrom Brugada juga dianjurkan untuk:

  • Segera menurunkan demam dan tidak membiarkannya tinggi

  • Menghindari konsumsi alkohol

  • Berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat apa pun

  • Menghindari olahraga berat atau kompetitif

Sindrom Brugada memang jarang, tetapi dampaknya sangat serius. Kondisi ini dapat menyerang tanpa peringatan dan berujung pada kematian mendadak, terutama saat tidur. Edukasi, kewaspadaan, dan pemeriksaan dini menjadi kunci utama untuk menekan risiko fatal.

Memahami gejala, faktor risiko, serta langkah penanganan Sindrom Brugada bukan untuk menimbulkan ketakutan, melainkan sebagai bentuk perlindungan diri dan keluarga dari ancaman gangguan jantung yang sering tersembunyi.

Mau Diskusi Project Baru?

Contact Us