FYP
Media
Memuat Halaman...
0%
Rupiah Menguat Signifikan, Menkeu Tegaskan Ada Peran Kuat Bank Sentral

News

Rupiah Menguat Signifikan, Menkeu Tegaskan Ada Peran Kuat Bank Sentral

Writer: Raodatul - Selasa, 27 Januari 2026 16:42:49

Rupiah Menguat Signifikan, Menkeu Tegaskan Ada Peran Kuat Bank Sentral
Sumber gambar: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.Foto: Ilyas Fadilah/detikcom

FYPMedia.id - Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan publik dan pelaku pasar keuangan. Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, rupiah menunjukkan performa positif dan mampu menguat ke kisaran Rp16.700 per dolar AS. 

Pemerintah pun menegaskan bahwa penguatan tersebut bukan terjadi secara kebetulan, apalagi semata-mata karena faktor personal di jajaran otoritas moneter.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa penguatan rupiah tidak bisa disederhanakan hanya karena terpilihnya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). 

Menurutnya, faktor utama berada pada langkah-langkah strategis Bank Indonesia yang semakin solid dan kredibel dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

"Bukan karena Pak Thomas saja, memang langkah Bank Sentral sudah lebih baik dibanding sebelumnya, saya pikir. Kan itu kita serahkan semuanya ke Bank Sentral kan untuk mengendalikan nilai tukar, dan kita percaya mereka mampu dan dalam waktu sebentar saja sudah menguat kan," ujar Purbaya di Jakarta, dikutip dari detikcom, Selasa (27/1/2026).

Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan kepercayaan pemerintah terhadap independensi dan kapabilitas Bank Indonesia sebagai otoritas moneter dalam menjaga kestabilan rupiah di tengah tekanan global.

Baca Juga: ORI029 Resmi Terbit, Kemenkeu Bidik Rp25 T dari SBN Ritel 2026

Momentum Penguatan Rupiah di Tengah Dinamika Global

Penguatan rupiah terjadi di saat perekonomian global masih dibayangi oleh ketidakpastian arah kebijakan moneter negara-negara maju. Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa masih memainkan peran besar dalam menentukan arus modal dan pergerakan nilai tukar global.

Purbaya menilai, selain faktor domestik, kondisi global justru memberikan peluang bagi penguatan rupiah. Ia menyebut bahwa dolar AS ke depan berpotensi mengalami pelemahan secara global, sementara mata uang lain seperti yen Jepang cenderung dikuatkan melalui kebijakan bersama atau concerted effort oleh negara-negara tertentu.

"Apalagi kalau saya lihat sih dolar akan cenderung dilemahkan ini kan di tingkat global. Yen dikuatkan. Itu biasanya berpengaruh kalau concerted effort seperti itu biasanya berpengaruh ke nilai tukar dolar ke mata uang yang lain dalam jangka waktu yang cukup panjang," jelas Purbaya.

Menurutnya, kondisi tersebut seharusnya dapat dimanfaatkan Indonesia untuk memperkuat nilai tukar rupiah, selama kebijakan moneter dan fiskal berjalan selaras dan responsif.

Peran Bank Indonesia Dinilai Semakin Solid

Purbaya menekankan bahwa Bank Indonesia saat ini menunjukkan konsistensi dan ketegasan dalam menjaga stabilitas nilai tukar. 

Kebijakan intervensi pasar, pengelolaan likuiditas, serta komunikasi kebijakan yang jelas dinilai berhasil membangun kepercayaan pelaku pasar.

Ia menyebut, jika Bank Indonesia mampu mengambil langkah yang tepat dan terukur ke depan, maka penguatan rupiah berpotensi berlanjut.

"Jadi kalau kita pinter-pinter dikit harusnya rupiah gampang sekali diperkuat lebih jauh lagi dari level yang sekarang," ungkapnya.

Pernyataan tersebut mencerminkan optimisme pemerintah bahwa stabilitas rupiah bukan hanya bersifat jangka pendek, tetapi dapat dijaga secara berkelanjutan dengan kebijakan yang konsisten.

Fundamental Ekonomi Jadi Penopang Utama Rupiah

Selain peran bank sentral, Purbaya menegaskan bahwa Kementerian Keuangan memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga fundamental ekonomi nasional. Stabilitas fiskal, keberlanjutan program ekonomi, serta iklim investasi yang sehat menjadi faktor kunci dalam menarik arus modal asing.

Menurut Purbaya, ketika investor melihat fondasi ekonomi Indonesia yang kuat dan kredibel, maka kepercayaan akan meningkat dan berdampak langsung pada penguatan rupiah.

"Kalau kita, saya di keuangan ya kewajiban saya hanya memastikan bahwa program-program ekonominya berjalan dengan baik, fondasi ekonominya baik buat ke depan, dan investor melihat itu dan mereka masuk ke sini sehingga rupiah ikut menguat dengan signifikan," terang Purbaya.

Ia menambahkan bahwa perbaikan ekonomi nasional tidak hanya bersifat administratif atau sekadar angka di atas kertas, tetapi dilakukan secara bertahap dan nyata.

"Saya pikir arahnya ke sana. Karena perbaikan ekonomi kita bukan cuma di atas kertas, pelan-pelan betul-betul kita perbaiki," tambahnya.

Baca Juga: Emiten Boy Thohir Disorot Global, EMAS Dikabarkan IPO di Hong Kong

Data Pasar: Rupiah Menguat di Level Rp16.700-an

Penguatan rupiah juga tercermin dari data perdagangan pasar valuta asing. Pada perdagangan Senin (26/1/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat sebesar 0,23 persen dan ditutup di level Rp16.782 per dolar AS. Penguatan ini terjadi di hari yang sama dengan penetapan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia.

Bahkan pada perdagangan intraday, rupiah sempat bergerak lebih kuat. Berdasarkan data Bloomberg pukul 13.58 WIB, rupiah berada di posisi Rp16.755 per dolar AS, naik 0,04 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya.

Penetapan Deputi Gubernur BI Jadi Sentimen Tambahan

Pada hari yang sama, Komisi XI DPR RI secara resmi memutuskan Thomas Djiwandono terpilih sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia. 

Keputusan tersebut disampaikan Ketua Komisi XI DPR RI, Misbakhun Solihin, usai rapat internal di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat.

"Dan Alhamdulillah hari ini rupiah menguat ke Rp 16.700 pada saat kita memutuskan Pak Thomas terpilih sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia," ujar Misbakhun kepada dilansir dari detikcom, Selasa (27/1/2026).

Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa sentimen tersebut bersifat tambahan dan bukan faktor utama. Kepercayaan pasar terhadap kebijakan Bank Indonesia secara keseluruhan dinilai jauh lebih menentukan dibandingkan figur individu semata.

Baca Juga: Bukan Instan, Ini Cara Kaya Ala Sandiaga Uno yang Bisa Ditiru Anak Muda

Kepercayaan Investor Jadi Kunci Keberlanjutan

Penguatan rupiah tidak hanya berdampak pada stabilitas makroekonomi, tetapi juga memberikan sinyal positif bagi iklim investasi nasional. 

Rupiah yang stabil dan menguat mampu menekan risiko nilai tukar, menjaga inflasi impor, serta meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik.

Pemerintah optimistis bahwa kombinasi antara kebijakan moneter yang solid, fundamental fiskal yang kuat, serta koordinasi kebijakan yang erat akan menjaga kepercayaan investor di tengah tantangan global.

Dengan arah kebijakan yang dinilai tepat dan responsif, rupiah diproyeksikan tetap berada dalam tren positif, selama volatilitas global dapat dikelola dengan baik.

Kesimpulan

Penguatan rupiah yang terjadi saat ini menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar bukan hasil kebetulan atau faktor tunggal. 

Langkah strategis Bank Indonesia, dukungan kebijakan fiskal pemerintah, serta membaiknya persepsi investor menjadi fondasi utama penguatan mata uang Garuda.

Pemerintah pun menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas ekonomi nasional, memastikan kebijakan berjalan konsisten, dan memperkuat koordinasi antarotoritas demi menjaga rupiah tetap tangguh di tengah dinamika global.

Mau Diskusi Project Baru?

Contact Us