Writer: Raodatul - Senin, 26 Januari 2026 16:13:48
FYPMedia.id - Isu pencatatan saham lintas negara kembali mengguncang pasar modal Indonesia. Emiten milik pengusaha nasional Garibaldi “Boy” Thohir, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), dikabarkan tengah menyiapkan langkah strategis besar dengan melakukan penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO) di Bursa Hong Kong.
Jika rencana ini terealisasi, EMAS berpotensi mencetak sejarah sebagai emiten non-China yang berhasil melantai di salah satu bursa terbesar di Asia tersebut.
Kabar ini langsung menyedot perhatian pelaku pasar, terlebih di tengah volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan derasnya arus keluar dana asing dari sejumlah saham besar.
Langkah ekspansi EMAS ke Hong Kong dinilai sebagai sinyal kuat ambisi global grup usaha Boy Thohir, sekaligus upaya memperluas basis investor internasional.
EMAS Tunjuk Bank Investasi Global
Mengutip laporan Bloomberg, Senin (26/1/2026), PT Merdeka Gold Resources Tbk telah menunjuk sejumlah bank investasi kelas dunia untuk mengawal proses IPO di Hong Kong. Beberapa nama besar yang disebut terlibat antara lain Citic Securities, Morgan Stanley, serta UBS Group AG.
Meski demikian, hingga saat ini manajemen EMAS masih mengkaji berbagai aspek teknis aksi korporasi tersebut, mulai dari jumlah saham yang akan dilepas ke publik, total nilai emisi, hingga waktu pelaksanaan IPO.
Langkah ini dinilai strategis mengingat Hong Kong dikenal sebagai pusat keuangan global yang menjadi pintu masuk investor internasional ke sektor pertambangan dan sumber daya alam Asia.
Baca Juga: Bang Si Hyuk Diduga Raup Rp2 Triliun Lewat Trading Saham HYBE, Ini Kronologinya!
Potensi Jadi Emiten Non-China Pertama
Jika IPO ini berhasil, EMAS disebut-sebut bakal menjadi satu-satunya emiten non-China yang mampu mencatatkan sahamnya di Bursa Hong Kong dalam beberapa tahun terakhir.
Peluang ini terbuka seiring adanya kerja sama antara Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Hong Kong Exchanges & Clearing terkait penjajakan pencatatan lintas negara.
Kolaborasi ini membuka jalan bagi perusahaan Indonesia untuk mengakses pasar modal global secara lebih luas, sekaligus meningkatkan visibilitas di mata investor asing.
Bagi EMAS, pencatatan di Hong Kong dinilai dapat memperkuat valuasi perusahaan, mengingat tingginya minat investor global terhadap komoditas emas di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Fundamental Tambang dan Cadangan Emas Besar
Saat ini, EMAS mengoperasikan tambang emas di Sulawesi dengan cadangan bijih mencapai sekitar 190 juta ton. Cadangan tersebut setara dengan kurang lebih 4,8 juta ons emas, menjadikannya salah satu aset emas terbesar di Indonesia.
Potensi produksi jangka panjang inilah yang menjadi daya tarik utama EMAS di mata investor global. Meski sempat mencatatkan kerugian, prospek bisnis perusahaan dinilai tetap menjanjikan seiring meningkatnya harga emas dunia dan kebutuhan lindung nilai (safe haven).
Kinerja Keuangan dan Pergerakan Saham
Dari sisi kinerja keuangan, EMAS tercatat membukukan rugi bersih sebesar US$ 22,3 juta hingga September 2025. Namun, pasar tampaknya merespons positif prospek jangka panjang perusahaan.
Sejak IPO perdananya pada September lalu, harga saham EMAS melonjak signifikan. Bahkan, saham EMAS disebut telah naik hingga dua kali lipat sejak pencatatan awal.
Pada perdagangan Senin (26/1/2026), saham EMAS tercatat menguat 17,41% ke level Rp7.225 per lembar. Secara kumulatif, saham ini telah naik 30,63% sejak IPO pada Selasa (23/9/2025) tahun lalu. Kapitalisasi pasar EMAS kini menembus sekitar US$ 5,7 miliar, mencerminkan optimisme investor terhadap masa depan perusahaan.
Baca Juga: Berapa Minimal Investasi Saham untuk Mencapai Financial Freedom?
Investor Asing Kerubuti Saham Boy Thohir
Di tengah kabar IPO EMAS, saham-saham lain yang terafiliasi dengan Boy Thohir juga menjadi sorotan investor asing. Dalam dua pekan terakhir, investor asing terlihat konsisten memborong saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO).
Berdasarkan data perdagangan BEI periode 19–23 Januari 2026, saham ADRO mencatatkan net buy asing sebesar Rp414,9 miliar di pasar reguler.
Angka ini meningkat signifikan dibandingkan pekan sebelumnya yang mencatatkan net buy Rp203,2 miliar.
Kinerja harga saham ADRO pun ikut terdongkrak. Dalam dua pekan terakhir, saham ini telah menguat 14,29% dan ditutup naik 2,13% pada perdagangan Jumat (23/1/2026).
Tak hanya ADRO, anak usahanya PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) juga menjadi incaran investor asing dengan catatan net buy mencapai Rp226,9 miliar.
Kontras dengan Tekanan IHSG dan Aksi Jual Asing
Fenomena minat asing terhadap saham Boy Thohir terjadi di tengah tekanan IHSG. Dalam sepekan perdagangan 19–23 Januari 2026, IHSG melemah 1,37%.
Bursa Efek Indonesia juga kembali mencatatkan aksi jual bersih asing (net sell) sebesar Rp3,25 triliun atau setara US$191,69 juta.
Padahal, pada pekan sebelumnya (12–15 Januari 2026), IHSG sempat menguat 1,55% dengan catatan net buy asing mencapai Rp4,20 triliun. Perubahan sentimen ini menunjukkan selektivitas investor asing yang semakin tinggi.
BUMI Terus Ditinggalkan Investor Asing
Di sisi lain, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) justru terus dilepas investor asing. Sepanjang pekan ini, BUMI mencatatkan net sell asing sebesar Rp1,34 triliun di pasar reguler.
Pekan sebelumnya, saham ini juga menjadi yang paling banyak dijual asing dengan nilai mencapai Rp964,8 miliar. Secara harga, saham BUMI telah terkoreksi hingga 22,08% dalam dua pekan terakhir.
Padahal, saham BUMI sempat menyentuh level Rp464 per lembar pada awal Januari 2026, yang merupakan harga tertingginya sejak 2014. Meski pada penutupan Jumat (23/1) saham ini menguat 3,45% ke level Rp360, tekanan jual asing masih belum mereda.
Saham Blue Chip Ikut Tertekan
Selain BUMI, sejumlah saham perbankan besar juga tercatat mengalami aksi jual asing. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi yang paling banyak dilepas dengan net sell mencapai Rp3,85 triliun.
Saham bank pelat merah seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), serta saham teknologi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), juga masuk daftar net sell asing terbesar.
Baca Juga: Bahlil Soroti 1 Tambang Emas Ilegal di Pegunungan Arfak, ESDM Siap Legalkan Melalui Skema Rakyat
Daftar Net Buy dan Net Sell Asing
Berikut rangkuman transaksi asing di pasar reguler pekan ini:
Net Buy Asing:
BBRI – Rp460 miliar
ADRO – Rp414,9 miliar
ASII – Rp402,9 miliar
INCO – Rp327,3 miliar
ADMR – Rp226,9 miliar
Net Sell Asing:
BBCA – Rp3,85 triliun
BUMI – Rp1,34 triliun
GOTO – Rp419,4 miliar
BMRI – Rp310,0 miliar
BBNI – Rp301,7 miliar
Prospek dan Sentimen ke Depan
Rencana IPO EMAS di Hong Kong dan derasnya minat asing terhadap saham-saham Boy Thohir mencerminkan kepercayaan investor terhadap sektor sumber daya alam Indonesia yang memiliki fundamental kuat.
Di tengah gejolak IHSG dan tekanan global, investor asing tampak semakin selektif, memilih emiten dengan prospek jangka panjang dan eksposur global.
Jika IPO EMAS benar-benar terealisasi, langkah ini berpotensi menjadi katalis positif tidak hanya bagi perusahaan, tetapi juga bagi citra pasar modal Indonesia di mata dunia.
Namun, pelaku pasar tetap menantikan kepastian resmi terkait jadwal, struktur IPO, serta dampaknya terhadap valuasi EMAS ke depan.