Writer: Raodatul - Senin, 26 Januari 2026 18:18:11
FYPMedia.id - Belakangan ini, media sosial diramaikan oleh perdebatan netizen yang mempertanyakan satu isu krusial: apakah Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) bisa menyebabkan kematian mendadak?
Kekhawatiran tersebut muncul seiring banyaknya cerita pengalaman pribadi penderita GERD yang mengalami nyeri dada hebat, sesak napas, hingga rasa seperti serangan jantung.
Namun, para ahli medis menegaskan bahwa GERD bukanlah penyakit yang secara langsung menyebabkan kematian mendadak. Meski begitu, kondisi ini tetap tidak boleh dianggap sepele karena dapat memicu berbagai komplikasi serius jika tidak ditangani dengan tepat.
Spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi hepatologi, dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, menegaskan bahwa kematian mendadak bukanlah konsekuensi langsung dari GERD.
"Tetapi penyakit2 akibat GERD ini tidak akan menyebabkan kematian mendadak,"
tegas dr Aru, dikutip dari detikcom, Senin (26/1/2026).
Apa yang Terjadi di Dalam Tubuh Saat GERD?
GERD terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan (esofagus) secara berulang. Dalam kondisi normal, tubuh memiliki sistem perlindungan berupa sfingter esofagus bagian bawah, yaitu katup otot yang berfungsi mencegah isi lambung naik kembali ke atas.
Dr Aru menjelaskan, setelah makanan masuk ke lambung, katup ini seharusnya menutup rapat. Namun pada penderita GERD, mekanisme tersebut terganggu.
"Akibat tidak bisa menutupnya, klep antara esofagus dengan lambung terjadilah tadi yang kita sebut refleks dari isi lambung naik ke atas," ucapnya.
Paparan asam lambung yang berulang dan berlangsung lama dapat menyebabkan iritasi kronis. Jika terus dibiarkan, kondisi ini akan memicu kerusakan jaringan di kerongkongan hingga saluran pernapasan bagian atas.
Baca Juga: Nyeri Dada Mirip Asam Lambung? Ini Bedanya GERD dan Serangan Jantung
GERD Tidak Mematikan, Tapi Komplikasinya Berbahaya
Meskipun tidak menyebabkan kematian secara langsung, GERD yang tidak diobati dapat memicu komplikasi serius.
Menurut dr Aru, iritasi akibat asam lambung berlebih bisa menimbulkan berbagai gangguan, mulai dari yang ringan hingga berat.
Beberapa komplikasi GERD antara lain:
- Luka atau erosi pada esofagus
- Penyempitan saluran esofagus (striktur)
- Radang kerongkongan kronis (esofagitis)
- Perubahan sel esofagus yang berisiko menjadi kanker
- Batuk kronis yang sulit sembuh
- Karies gigi akibat paparan asam
- Gangguan pada rongga hidung dan sinus
Iritasi asam lambung yang terus-menerus juga dapat memengaruhi kualitas hidup pengidapnya, mulai dari gangguan tidur hingga kecemasan berlebih.
Penyebab GERD: Bukan Sekadar Masalah Lambung
GERD tidak muncul secara tiba-tiba. Ada berbagai faktor yang saling berkaitan, baik dari dalam tubuh maupun kebiasaan sehari-hari.
Dr Aru menegaskan bahwa penyebab gangguan asam lambung sangat kompleks.
"Penyebab gangguan dari asam lambung yang berlebih yaitu banyak-banyak faktor, mulai dari genetik, ya ada beberapa kelainan yang menyebabkan asam lambung. Kemudian dari beberapa penelitian memperlihatkan stres ya. Stres, pola hidup yang salah itu menjadi faktor penyumbang terbesar terjadinya gangguan asam lambung," jelasnya.
Faktor genetik dapat membuat seseorang lebih rentan mengalami refluks asam. Selain itu, kondisi psikologis seperti stres dan kecemasan terbukti memperburuk kerja otot sfingter.
Baca Juga: 6 Teknik Jalan Kaki yang Bantu Bakar Lemak Lebih Maksimal, Bye-bye Perut Buncit
Kebiasaan Sehari-hari yang Memicu GERD
Selain faktor genetik dan medis, gaya hidup modern menjadi pemicu utama meningkatnya kasus GERD.
Beberapa kebiasaan yang sering memicu GERD meliputi:
- Konsumsi makanan berlemak tinggi dan junk food
- Makanan pedas dan terlalu asam
- Minuman berkafein dan beralkohol
- Minuman berkarbonasi
- Makan dalam porsi besar
- Langsung berbaring setelah makan
- Merokok
- Kurang aktivitas fisik
- Stres berkepanjangan
"Itu akan menyeabkan gangguan-gangguan di lambung ya, termasuk peningkatan asam lambung atau kerusakan dari dinding lambung maupun tadi sfingter dari esophagus ke lambung. Sehingga terjadilah GERD," tutur dr Aru.
Ia menegaskan bahwa GERD sejatinya merupakan komplikasi dari gangguan asam lambung yang berlangsung lama.
Kondisi Medis yang Meningkatkan Risiko GERD
Selain gaya hidup, ada sejumlah kondisi medis yang meningkatkan risiko asam lambung naik, di antaranya:
- Hernia hiatus, yakni kondisi saat bagian atas lambung menonjol ke rongga dada
- Obesitas, karena tekanan berlebih pada perut
- Kehamilan, akibat perubahan hormon dan tekanan rahim
- Gastroparesis, gangguan pengosongan lambung
- Skleroderma, penyakit autoimun yang memengaruhi otot sfingter
Tak hanya itu, beberapa jenis obat juga dapat memicu refluks asam, seperti obat tekanan darah tertentu, obat asma, sedatif, hingga obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID).
Gejala GERD yang Perlu Diwaspadai
Gejala GERD tidak selalu sama pada setiap orang. Namun, keluhan yang paling umum adalah sensasi panas atau terbakar di dada (heartburn).
Gejala lain yang sering menyertai GERD antara lain:
- Nyeri ulu hati
- Mulut terasa asam atau pahit
- Perut kembung dan cepat kenyang
- Sering bersendawa
- Mual dan muntah
- Sakit tenggorokan
- Bau mulut
- Batuk kering kronis
Gejala ini biasanya memburuk setelah makan, saat berbaring, atau membungkuk.
Baca Juga: Nyeri Dada Mirip Asam Lambung? Ini Bedanya GERD dan Serangan Jantung
GERD pada Bayi dan Anak
GERD tidak hanya menyerang orang dewasa. Bayi dan anak-anak juga bisa mengalami refluks asam, dengan gejala seperti:
- Muntah kecil berulang
- Menangis berlebihan dan sulit makan
- Gangguan pernapasan
- Tersedak saat tidur
- Sulit tidur setelah makan
Pada sebagian besar kasus ringan, kondisi ini bisa membaik seiring pertumbuhan. Namun, jika terjadi terus-menerus, pemeriksaan medis tetap diperlukan.
Perbedaan GERD dan Maag yang Sering Disalahartikan
Di masyarakat, GERD dan maag sering dianggap sama. Padahal, keduanya berbeda.
- Maag adalah istilah umum untuk keluhan nyeri, mual, atau kembung di lambung
- GERD adalah penyakit spesifik akibat naiknya asam lambung ke kerongkongan
Dengan kata lain, maag adalah gejala, sedangkan GERD adalah penyakitnya.
Kesimpulan
GERD bukan penyakit mematikan secara mendadak. Namun, jangan pernah meremehkannya. Tanpa penanganan yang tepat, GERD dapat berkembang menjadi komplikasi serius yang mengganggu kualitas hidup dan berisiko jangka panjang.
Perubahan gaya hidup, pengelolaan stres, serta pengobatan medis yang tepat menjadi kunci utama mengendalikan GERD. Jika gejala sering kambuh atau semakin berat, segera konsultasikan ke dokter.
Karena meski GERD tak membunuh secara langsung, dampaknya bisa sangat serius jika dibiarkan.