Writer: Raodatul - Senin, 26 Januari 2026 17:02:15
FYPMedia.id - Perbincangan mengenai nyeri dada kembali ramai di media sosial. Banyak warganet mempertanyakan satu hal yang kerap membingungkan masyarakat awam: apakah nyeri dada akibat GERD sama dengan serangan jantung?
Bahkan tidak sedikit yang mengaku pernah mengira serangan jantung sebagai sekadar masalah asam lambung.
Kebingungan ini bukan tanpa alasan. Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) dan serangan jantung memang memiliki sejumlah gejala yang tampak serupa, terutama rasa tidak nyaman di dada dan ulu hati.
Namun, di balik kemiripan tersebut, terdapat perbedaan mendasar yang bisa berakibat fatal jika salah diartikan.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah menegaskan bahwa kesalahan mengenali gejala ini kerap membuat pasien terlambat mendapatkan pertolongan medis.
"Memang bisa mirip dan justru itu yang sering bikin orang keliru," ujar spesialis jantung dan pembuluh darah dr Vito Damay, SpJP(K), FIHA, FICA, dikutip dari detikcom, Senin (26/1/2026).
Mengapa GERD dan Serangan Jantung Sering Disalahartikan?
Secara anatomi, kerongkongan dan jantung berada di area yang berdekatan. Ketika asam lambung naik ke kerongkongan, rasa panas dan nyeri yang timbul di dada sering kali menyerupai nyeri akibat gangguan jantung.
GERD sendiri terjadi saat asam lambung mengalir kembali ke esofagus, memicu sensasi terbakar di dada yang dikenal sebagai heartburn. Sementara itu, serangan jantung muncul akibat penyumbatan aliran darah ke otot jantung, yang menyebabkan kerusakan jaringan jantung secara bertahap.
Masalahnya, tidak semua serangan jantung selalu diawali nyeri dada hebat. Pada sebagian orang, terutama wanita dan lansia, gejalanya justru samar dan menyerupai gangguan pencernaan.
"Serangan jantung tidak selalu terasa sebagai nyeri dada, tapi mirip seperti 'GERD' atau nyeri ulu hati. Hal ini membuat serangan jantung sering terlewat pada situasi seperti ini," tegas dr Vito.
Baca Juga: 5 Fakta Penting Penyakit Jantung Koroner di Usia Muda: Waspadai Gejala Sejak Dini!
Ciri Khas Nyeri Dada Akibat GERD
Nyeri dada karena GERD umumnya berkaitan erat dengan pola makan dan posisi tubuh. Gejala bisa memburuk setelah makan besar, saat berbaring, atau ketika membungkuk.
Beberapa tanda yang lazim muncul pada GERD antara lain:
Sensasi panas atau terbakar di dada hingga ke leher
Nyeri atau perih di ulu hati
Rasa asam atau pahit di mulut
Perut terasa kembung atau begah
Mual, terutama di malam hari
Gejala sering muncul saat berbaring
Nyeri akibat GERD juga cenderung mereda setelah mengonsumsi obat penurun asam lambung. Inilah salah satu pembeda penting dengan serangan jantung.
Gejala Serangan Jantung yang Sering Dikira Asam Lambung
Meski sama-sama menimbulkan rasa panas di dada, nyeri akibat serangan jantung biasanya lebih berat dan menekan. Banyak pasien menggambarkannya seperti dada diremas atau ditindih benda berat.
Menurut dr Vito, ada tanda-tanda khas yang patut diwaspadai:
"Walaupun pada serangan jantung bisa ada ada nyeri ulu hati dan mual, ciri lain yang berbeda dibandingkan GERD yaitu disertai keringat dingin. Hal lain yang lebih mengarah ke serangan jantung ada kadang menjalar ke lengan, leher, atau punggung," ungkapnya.
Gejala lain yang sering menyertai serangan jantung meliputi:
Keringat dingin tiba-tiba
Sesak napas
Kepala terasa ringan atau pusing
Kelelahan ekstrem
Nyeri menjalar ke lengan kiri, rahang, leher, atau punggung
Menariknya, tidak semua penderita serangan jantung merasakan nyeri dada. Mengutip data medis, pria lebih sering mengalami nyeri dada klasik, sementara pada wanita gejala cenderung tidak khas, seperti nyeri di lengan, leher, hingga rahang.
Baca Juga: 5 Fakta Mengejutkan: Tidur dengan Lampu Menyala Bisa Naikkan Risiko Penyakit Jantung hingga 56%
Tabel Perbedaan GERD dan Serangan Jantung (Gambaran Umum)
Secara sederhana, berikut karakteristik yang membedakan keduanya:
1. GERD
Nyeri muncul setelah makan atau berbaring
Disertai rasa pahit di mulut
Perut kembung atau begah
Mereda dengan obat asam lambung
2. Serangan Jantung
Nyeri terasa menekan dan berat
Disertai keringat dingin dan sesak napas
Nyeri dapat menjalar ke bagian tubuh lain
Tidak membaik dengan obat lambung
Meski demikian, dokter mengingatkan bahwa diagnosis pasti tetap harus dilakukan secara medis, bukan hanya berdasarkan gejala.
Bahaya Menganggap Remeh Nyeri Dada
Baik GERD maupun serangan jantung sama-sama tidak boleh disepelekan. GERD yang dibiarkan tanpa penanganan dapat berkembang menjadi masalah serius, seperti:
Radang kerongkongan kronis (esophagitis)
Penyempitan esofagus
Perubahan sel esofagus yang berisiko kanker
Sementara itu, serangan jantung adalah kondisi darurat medis. Keterlambatan penanganan bisa menyebabkan kerusakan jantung permanen hingga kematian.
Baca Juga: 7 Tips Olahraga Aman di Cuaca Panas Agar Jantung Tetap Sehat dan Terhindar dari Heatstroke
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Segera cari pertolongan medis jika mengalami:
Nyeri dada yang berat dan tidak biasa
Nyeri disertai keringat dingin dan sesak napas
Nyeri menjalar ke lengan, leher, atau rahang
Nyeri dada yang tidak membaik meski sudah minum obat lambung
Lebih baik waspada berlebihan daripada terlabat. Pemeriksaan dini dapat menyelamatkan nyawa.
Kesimpulan
GERD dan serangan jantung memang serupa tapi tak sama. Keduanya bisa sama-sama menimbulkan nyeri dada, namun penyebab, karakteristik, dan risikonya sangat berbeda.
Kesalahan mengenali gejala dapat berakibat fatal, terutama jika serangan jantung disalahartikan sebagai gangguan lambung biasa.
Memahami perbedaan ini adalah langkah awal untuk lebih peduli pada sinyal tubuh sendiri. Jika ragu, jangan menunda, segera periksakan diri ke tenaga medis.
Karena dalam urusan nyeri dada, kewaspadaan bisa menjadi penyelamat nyawa.