Writer: Raodatul - Selasa, 27 Januari 2026 18:33:29
FYPMedia.id - Fenomena overwork atau kerja berlebihan kembali menjadi sorotan tajam setelah sebuah kasus kematian tragis menimpa seorang pria muda di Guangdong, China. Korban bernama Gao Guanghui (32), seorang programmer sekaligus manajer departemen, dilaporkan meninggal dunia akibat serangan jantung mendadak yang kuat diduga dipicu oleh beban kerja ekstrem.
Peristiwa ini tidak hanya mengguncang keluarga korban, tetapi juga memantik diskusi global tentang bahaya jam kerja berlebihan, budaya lembur tanpa batas, serta dampaknya terhadap kesehatan fisik dan mental pekerja modern, terutama di sektor teknologi dan profesional.
Kasus Gao menjadi pengingat keras bahwa ambisi karier tanpa batas bisa berujung petaka.
Kronologi Detik-Detik Terakhir Gao Guanghui
Pada 29 November 2025, hari yang tampak biasa berubah menjadi tragedi. Gao bekerja dari rumah seperti rutinitas hariannya. Namun pagi itu, ia mulai merasa tidak enak badan dan mengalami kesulitan berdiri. Kondisinya memburuk dengan cepat.
Dalam kondisi lemah, Gao tetap menunjukkan dedikasinya terhadap pekerjaan. Bahkan, ia meminta istrinya membawa laptop ke rumah sakit, karena mengira kondisinya tidak serius dan masih bisa bekerja kembali.
Namun, di tengah perjalanan menuju rumah sakit, Gao tiba-tiba kejang dan pingsan. Para tetangga segera menghubungi layanan darurat dan melakukan resusitasi jantung paru (CPR) sembari menunggu paramedis datang.
Sekitar pukul 09.46 waktu setempat, Gao dilarikan ke Rumah Sakit Afiliasi Kedua Rumah Sakit Pengobatan Tradisional Tiongkok Provinsi Guangdong dalam kondisi koma. Sayangnya, upaya medis tidak berhasil menyelamatkannya. Gao dinyatakan meninggal dunia secara klinis pada pukul 13.00.
Catatan medis menyebutkan penyebab kematian Gao adalah henti napas dan jantung mendadak yang berkaitan dengan sindrom Stokes-Adams, yaitu kondisi serius yang menyebabkan hilangnya kesadaran secara tiba-tiba akibat gangguan irama jantung.
Ironisnya, hasil pemeriksaan kesehatan terakhir Gao pada Juni 2024 menunjukkan elektrokardiogram yang normal.
Baca Juga: 4 Tip Mencari Pekerjaan Pertama Kamu
Masih Bekerja di Hari Kematian, Bahkan Setelah Meninggal
Fakta yang paling memilukan terungkap setelahnya. Dikutip dari berbagai laporan media, Gao masih aktif bekerja di hari kematiannya. Catatan digital menunjukkan ia mengakses sistem internal perusahaan setidaknya lima kali pada pagi hari sebelum kolaps.
Malam sebelumnya, Gao sempat memberi tahu istrinya bahwa ia memiliki tugas mendesak yang harus diselesaikan keesokan harinya. Bahkan saat berada di rumah sakit, Gao masih dimasukkan ke dalam grup kerja WeChat.
Beberapa jam setelah ia meninggal dunia, ponselnya masih menerima pesan pekerjaan. Salah satu pesan berbunyi:
"Ada tugas mendesak Senin pagi; barang gagal inspeksi hari ini, jadi ini perlu diubah."
Delapan jam setelah Gao dinyatakan meninggal, notifikasi pekerjaan itu tetap masuk. Bagi keluarga, ini menjadi bukti kuat bahwa kelelahan kerja kronis berperan besar dalam kematiannya.
Sang istri sebelumnya sempat mengirim pesan penuh kecemasan: "Di mana kamu? Bisakah kamu segera pulang? Tahukah kamu bahwa kami masih menunggumu pulang?"
Pesan itu kini menjadi kenangan terakhir yang memilukan.
Overwork dan Risiko Kematian: Peringatan Serius dari WHO
Kasus Gao bukan insiden tunggal. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Buruh Internasional (ILO) telah lama memperingatkan bahaya kerja berlebihan terhadap kesehatan manusia.
Data WHO dan ILO menunjukkan bahwa jam kerja ideal berkisar 35–40 jam per minggu. Ketika seseorang bekerja lebih dari 55 jam per minggu, risikonya meningkat drastis:
Risiko stroke naik hingga 35 persen
Risiko penyakit jantung iskemik meningkat 17 persen
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menegaskan: "Tidak ada pekerjaan yang sepadan dengan risiko stroke atau penyakit jantung."
Pernyataan ini menegaskan bahwa tidak ada target, jabatan, atau bonus yang layak ditukar dengan nyawa manusia.
Baca Juga: 10 Aplikasi Penunjang Produktivitas Terbaik untuk Mahasiswa dan Pekerja
Ciri-Ciri Overwork yang Sering Diabaikan
Overwork tidak selalu langsung terlihat. Banyak pekerja menganggap kelelahan sebagai hal normal. Padahal, kondisi ini bisa menjadi bom waktu kesehatan.
Psikolog Adam Borland, PsyD, menjelaskan bahwa kerja berlebihan dapat menyebabkan kerusakan fisik dan mental jangka panjang. Ia mengungkapkan:
"Mungkin ada ekspektasi untuk melakukan lebih banyak dengan sumber daya yang lebih sedikit, yang dapat mengakibatkan karyawan mengalami peningkatan stres, kecemasan, tekanan, dan potensi burnout."
Beberapa tanda umum overwork meliputi:
Stres dan kecemasan meningkat
Burnout dan kelelahan kronis
Sulit tidur atau insomnia
Produktivitas menurun
Hilangnya motivasi
Hubungan pribadi dan profesional memburuk
Tidak mampu melepaskan diri dari pekerjaan
Gangguan emosional dan mental
Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memicu serangan jantung, stroke, gangguan irama jantung, hingga kematian mendadak.
Baca Juga: 10 Tips Produktif Bekerja dari Rumah Tanpa Kehilangan Fokus
Realita Overwork di Indonesia: Ancaman Nyata
Fenomena overwork tidak hanya terjadi di China. Indonesia juga menghadapi masalah serius terkait jam kerja berlebihan.
Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) dari Badan Pusat Statistik (BPS), per Agustus 2025:
37,32 juta pekerja bekerja lebih dari 49 jam per minggu
Total pekerja Indonesia sekitar 146,54 juta orang
Artinya, sekitar 25,47 persen pekerja nasional mengalami jam kerja berlebihan
Angka ini menunjukkan bahwa lebih dari seperempat tenaga kerja Indonesia berada dalam risiko kelelahan kerja kronis.
Padahal, regulasi ketenagakerjaan di Indonesia telah menetapkan batas maksimal kerja 40 jam per minggu atau 8 jam per hari selama 5 hari kerja.
Pelajaran Penting dari Tragedi Overwork
Kematian Gao Guanghui menjadi peringatan keras bagi perusahaan, pemerintah, dan pekerja. Budaya kerja ekstrem yang mengagungkan lembur tanpa batas terbukti berbahaya dan tidak berkelanjutan.
Kesehatan bukan sekadar isu pribadi, melainkan tanggung jawab kolektif. Perusahaan perlu menciptakan lingkungan kerja yang sehat, sementara pekerja juga harus berani menetapkan batas.
Tragedi ini mengingatkan satu hal penting: Tidak ada pekerjaan yang lebih penting daripada hidup itu sendiri.