Writer: Raodatul - Kamis, 15 Januari 2026 08:00:00
FYPMedia.id - Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dipastikan akan semakin agresif pada 2026. Di satu sisi, AI menjadi motor transformasi bisnis dan efisiensi kerja.
Namun di sisi lain, teknologi yang sama juga membuka babak baru ancaman keamanan siber yang jauh lebih kompleks, masif, dan sulit dikenali.
Perusahaan keamanan siber global, Kaspersky, memproyeksikan bahwa 2026 akan menjadi tahun krusial bagi lanskap keamanan digital. Deepfake yang semakin realistis, penggunaan AI oleh penjahat siber, hingga kaburnya batas antara konten asli dan buatan mesin menjadi tantangan utama yang harus dihadapi pengguna individu maupun korporasi.
Perkembangan ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Asia Pasifik justru muncul sebagai episentrum adopsi AI tercepat di dunia, sekaligus kawasan dengan risiko siber yang semakin tinggi.
Asia Pasifik Jadi Pusat Adopsi AI Dunia
Laporan survei Boston Consulting Group (BCG) menunjukkan bahwa 78 persen profesional di kawasan Asia Pasifik telah menggunakan AI setidaknya setiap minggu, jauh di atas rata-rata global yang berada di angka 72 persen. Angka ini mencerminkan betapa cepat dan luasnya AI terintegrasi dalam aktivitas kerja sehari-hari.
Namun, yang membuat Asia Pasifik berbeda bukan hanya tingkat adopsinya, melainkan cara AI “berakar” dalam kehidupan masyarakat.
Tingginya penetrasi perangkat digital, populasi muda yang melek teknologi, serta konsumen yang sangat terhubung membuat AI digunakan bahkan sebelum banyak perusahaan meresmikannya secara struktural.
Didukung oleh investasi besar, strategi digital yang dipimpin langsung oleh CEO, serta pertumbuhan pasar digital yang pesat, kawasan ini menjelma menjadi wilayah AI paling dinamis di dunia, tempat lahirnya perusahaan AI frontier dan laboratorium alami transformasi digital global.
Baca Juga: 5 Fakta Mengejutkan Tentang Deepfake AI yang Harus Anda Ketahui
AI: Senjata Ganda dalam Keamanan Siber
Di tengah lonjakan adopsi tersebut, para pemimpin keamanan siber menghadapi dilema besar. AI tidak hanya membantu meningkatkan sistem pertahanan digital, tetapi juga dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk melancarkan serangan yang semakin canggih dan terotomatisasi.
Kaspersky menegaskan bahwa AI kini berperan sebagai senjata bermata dua dalam dunia keamanan siber.
"AI membentuk kembali keamanan siber dari kedua sisi. Penyerang menggunakannya untuk mengotomatiskan serangan, mengeksploitasi kerentanan, dan membuat konten palsu yang sangat meyakinkan. Pada saat yang sama, pihak pertahanan menerapkan AI untuk memindai sistem, mendeteksi ancaman, dan membuat keputusan yang lebih cepat dan cerdas," ujar Vladislav Tushkanov, Manajer Grup Pengembangan Riset di Kaspersky, dilansir dari CNN Indonesia, Kamis (15/12026).
Ia menambahkan bahwa kemampuan manusia dan organisasi dalam mengelola AI secara aman akan sangat menentukan arah masa depan keamanan digital.
"AI adalah alat yang ampuh untuk serangan dan pertahanan, dan kemampuan untuk mengelolanya dengan aman pasti akan memengaruhi masa depan keamanan siber," tambahnya.
Prediksi Besar Kaspersky: Lanskap Keamanan Siber 2026
Para pakar Kaspersky memetakan setidaknya delapan tren utama yang diperkirakan akan mendefinisikan keamanan siber pada 2026. Berikut ulasannya:
1. Deepfake Menjadi Ancaman Mainstream
Deepfake tidak lagi menjadi fenomena langka. Pada 2026, konten sintetis diprediksi akan menjadi ancaman sehari-hari yang masuk dalam agenda tetap keamanan organisasi.
Perusahaan mulai menyadari risikonya dan meningkatkan pelatihan internal untuk mencegah penipuan berbasis video, suara, maupun identitas palsu. Kesadaran juga meningkat di kalangan pengguna umum yang semakin sering terpapar konten manipulatif.
Deepfake tidak lagi sekadar isu teknologi, tetapi sudah menjadi risiko bisnis dan reputasi yang nyata.
Baca Juga: Meningkatnya Penggunaan AI dan AI Deepfake untuk Kampanye Politik
2. Kualitas Deepfake Makin Sulit Dikenali
Jika kualitas visual deepfake sudah mencapai level tinggi saat ini, maka kualitas audio diperkirakan akan melonjak signifikan pada 2026. Suara tiruan yang nyaris identik dengan aslinya akan semakin mudah dibuat.
Yang mengkhawatirkan, alat pembuat deepfake kini semakin user-friendly. Bahkan pengguna non-teknis dapat menghasilkan konten palsu berkualitas menengah hanya dalam hitungan menit.
Dampaknya, penjahat siber akan semakin mudah mengeksploitasi kepercayaan manusia.
3. Watermark AI Terus Dikembangkan, Tapi Belum Solid
Hingga kini, belum ada standar global yang benar-benar andal untuk menandai konten hasil AI. Watermark yang ada masih mudah dihapus, terutama pada model open source.
Kaspersky memprediksi bahwa pada 2026 akan muncul lebih banyak inisiatif teknis dan regulasi untuk mengatasi masalah ini, meski tantangan implementasinya masih besar.
4. Deepfake Real-Time Mulai Digunakan
Teknologi pertukaran wajah dan suara secara real-time semakin matang. Meski penggunaannya masih memerlukan keterampilan teknis tinggi, risiko penyalahgunaan dalam skenario tertentu, seperti penipuan CEO fraud atau pemerasan digital, akan meningkat signifikan.
Adopsi massal mungkin belum terjadi, namun dampaknya bisa sangat destruktif dalam kasus yang ditargetkan.
5. Model Open Source Semakin Berbahaya
Model AI tertutup masih memiliki kontrol dan pengaman yang relatif ketat. Namun model open source terus mengejar dari sisi kemampuan, tanpa pembatasan yang sebanding.
Perbedaan antara AI berpemilik dan open source semakin kabur, membuka peluang penyalahgunaan dalam skala yang lebih luas dan sulit dikendalikan.
6. Batas Konten Asli dan AI Kian Kabur
AI kini mampu menghasilkan email phishing yang sangat rapi, identitas visual palsu yang meyakinkan, hingga situs web penipuan berkualitas tinggi.
Di sisi lain, merek-merek besar justru menggunakan konten sintetis untuk iklan dan komunikasi visual, membuat hasil AI terlihat semakin “normal”.
Akibatnya, baik manusia maupun sistem deteksi otomatis akan semakin kesulitan membedakan mana yang asli dan mana yang palsu.
Baca Juga: 66% Warga Singapura Lebih Waspada: Bahaya Deepfake Pornografi yang Mengerikan
7. AI Jadi Mesin Operasional Penjahat Siber
Kaspersky mencatat bahwa pelaku ancaman siber telah memanfaatkan Large Language Model (LLM) untuk menulis kode, membangun infrastruktur serangan, hingga mengotomatiskan proses operasional.
AI akan memperkuat seluruh tahapan serangan siber, mulai dari perencanaan, komunikasi, eksploitasi celah, hingga distribusi malware, serta menyamarkan jejak keterlibatan AI agar lebih sulit dianalisis.
8. AI Jadi Otak Analisis Keamanan
Di sisi pertahanan, AI berbasis agen diprediksi mampu memindai infrastruktur secara berkelanjutan, mengidentifikasi celah keamanan, dan menyajikan konteks investigasi secara otomatis.
Hal ini akan menggeser peran analis keamanan dari pekerjaan manual menuju pengambilan keputusan strategis berbasis konteks.
Selain itu, sistem keamanan akan semakin mengadopsi antarmuka bahasa alami, memungkinkan perintah otomatis tanpa harus memahami teknis yang rumit.
2026: Tahun Penentuan Keamanan Digital
Prediksi Kaspersky menunjukkan bahwa 2026 bukan sekadar tentang AI yang lebih canggih, tetapi tentang perlombaan antara inovasi dan ancaman. Siapa pun yang gagal memahami dan mengelola AI dengan bijak berisiko tertinggal, atau bahkan menjadi korban.
Bagi Asia Pasifik, posisi sebagai pusat inovasi AI dunia adalah peluang sekaligus peringatan keras. Tanpa kesiapan keamanan yang memadai, keunggulan teknologi bisa berubah menjadi titik lemah paling berbahaya.
Satu hal yang pasti, AI bukan lagi masa depan, ia adalah realitas hari ini, dan cara kita mengelolanya akan menentukan keamanan digital esok hari.