FYP
Media
Memuat Halaman...
0%
Persaingan Memanas, KFC dan Pizza Hut Lakukan Merger Strategis

News

Persaingan Memanas, KFC dan Pizza Hut Lakukan Merger Strategis

Writer: Raodatul - Sabtu, 03 Januari 2026 11:41:59

Persaingan Memanas, KFC dan Pizza Hut Lakukan Merger Strategis
Sumber gambar: Site News

FYPMedia.id - Industri makanan cepat saji di India memasuki fase konsolidasi besar. Dua operator waralaba raksasa, Sapphire Foods India dan Devyani International, resmi mengumumkan rencana penggabungan usaha senilai US$ 934 juta atau setara Rp 15,6 triliun. 

Langkah strategis ini dipandang sebagai upaya agresif untuk memperkuat posisi KFC dan Pizza Hut yang tertinggal dari Domino’s Pizza, pemimpin pasar yang semakin dominan.

Merger ini bukan sekadar penggabungan korporasi, melainkan sinyal kuat bahwa tekanan bisnis di sektor restoran cepat saji India telah mencapai titik kritis. 

Lonjakan biaya operasional, perlambatan pertumbuhan penjualan gerai, serta perubahan perilaku konsumen memaksa para pemain besar untuk mencari skala ekonomi yang lebih efisien.

Skema Merger dan Nilai Transaksi Fantastis

Berdasarkan ketentuan yang disepakati, Devyani International akan menerbitkan 117 saham untuk setiap 100 saham ekuitas Sapphire Foods India. 

Proses penggabungan ini diperkirakan rampung dalam 12 hingga 15 bulan, dengan catatan seluruh persetujuan regulator dan pemegang saham dapat dipenuhi.

Nilai kesepakatan yang hampir menembus US$ 1 miliar menjadikan merger ini salah satu konsolidasi terbesar di industri makanan cepat saji Asia Selatan. 

Entitas gabungan diharapkan mampu membentuk kekuatan baru yang lebih solid dalam menghadapi persaingan sengit, terutama dari Domino’s Pizza dan McDonald’s India.

Baca Juga: 10 Ide Bisnis Modal Kecil yang Bisa Cuan Besar

India Jadi Medan Pertarungan Utama

Manajemen Yum! Brands sebagai pemilik merek KFC dan Pizza Hut menegaskan bahwa India tetap menjadi pasar prioritas global. 

Negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia ini dinilai masih menyimpan potensi pertumbuhan jangka panjang, meski saat ini menghadapi tantangan ekonomi.

“India adalah pasar prioritas bagi kami. India memiliki ruang yang cukup untuk pertumbuhan lebih lanjut,” kata Ranjith Roy, Kepala Keuangan Yum! Brands, dikutip dari CNBC, Sabtu (3/1/2026).

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa merger ini bukan langkah defensif semata, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk menjadikan India sebagai pusat pertumbuhan Yum! Brands di kawasan Asia.

Domino’s Jadi Pemicu Konsolidasi

Dalam beberapa tahun terakhir, Domino’s Pizza yang dioperasikan oleh Jubilant Foodworks terus memperlebar jarak dari para pesaingnya. 

Dengan jaringan gerai yang luas, efisiensi logistik tinggi, serta penetrasi layanan pesan antar yang agresif, Domino’s berhasil menguasai pangsa pasar pizza India.

Sebaliknya, Pizza Hut justru tertinggal, baik dari sisi jumlah gerai maupun kinerja penjualan. KFC pun menghadapi tantangan serupa akibat perubahan selera konsumen dan meningkatnya biaya bahan baku.

Perusahaan menyebut, merger ini akan mempercepat ekspansi KFC di India sekaligus membantu menghidupkan kembali Pizza Hut yang performanya tertinggal jauh dari pemimpin pasar.

Target Sinergi dan Efisiensi Biaya

Devyani International menyebutkan, entitas hasil merger menargetkan sinergi tahunan hingga 2,2 miliar rupee atau sekitar US$ 25 juta. Manfaat sinergi ini diharapkan mulai terealisasi pada tahun kedua setelah proses merger rampung.

Sinergi tersebut mencakup efisiensi rantai pasok, pengendalian biaya operasional, integrasi sistem distribusi, hingga optimalisasi jaringan gerai. 

Dengan skala yang lebih besar, perusahaan berharap dapat meningkatkan daya tawar terhadap pemasok dan menekan biaya tetap.

Sumeet Narang, Direktur Nomine di Sapphire Foods India, menilai langkah ini sebagai momentum penting bagi Yum! Brands di India.

“India memiliki potensi untuk menjadi permata mahkota sejati di pasar global Yum! dan pengumuman ini merupakan langkah signifikan dalam perjalanan tersebut,” ujarnya.

Baca Juga: 5 Manfaat Investasi Leher ke Atas di Usia 20-an, Biar Masa Depan Makin Cerah!

Tekanan Keuangan Jadi Latar Belakang Merger

Di balik optimisme tersebut, data keuangan menunjukkan tekanan berat yang dihadapi kedua operator. Biaya operasional melonjak tajam seiring inflasi bahan pangan, kenaikan upah tenaga kerja, serta biaya sewa gerai di kota-kota besar India.

Pada kuartal yang berakhir September, total biaya konsolidasi Sapphire Foods naik 10% secara tahunan menjadi 7,68 miliar rupee. Sementara itu, pengeluaran Devyani International melonjak 14,4% menjadi 14,08 miliar rupee.

Dari sisi laba, Devyani mencatat rugi bersih 219 juta rupee pada kuartal yang berakhir 30 September, berbalik dari laba tipis pada periode yang sama tahun sebelumnya. 

Sapphire Foods juga membukukan rugi bersih konsolidasi 127,7 juta rupee, melebar signifikan dibandingkan tahun lalu.

Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa konsolidasi menjadi jalan paling realistis untuk keluar dari tekanan margin yang semakin menyempit.

Skala Usaha Jadi Kunci Bertahan

Analis menilai, skala usaha menjadi tantangan utama bagi operator KFC dan Pizza Hut di India. Tanpa ukuran bisnis yang memadai, upaya pengendalian biaya akan sulit dilakukan secara optimal.

“Sehingga skala usaha menjadi tantangan utama,” ujar Akshay D'Souza, konsultan independen sektor barang konsumsi, seperti dikutip CNBC International, Jumat (2/1/2026).

Ia menambahkan, penggabungan ini berpotensi mengubah arah kinerja keuangan kedua perusahaan.

“Dengan entitas tunggal, jika mereka mampu membuka bahkan setengah dari sinergi yang diharapkan, kita bisa melihat perusahaan yang menguntungkan, dengan kemampuan pengendalian biaya yang jauh lebih baik,” tambahnya.

Jaringan Gerai yang Masif

Saat ini, Devyani International mengoperasikan lebih dari 2.000 gerai restoran cepat saji di lebih dari 280 kota di India, Nigeria, Nepal, dan Thailand. 

Sementara Sapphire Foods mengelola 529 restoran KFC dan 338 restoran Pizza Hut di India, serta jaringan Pizza Hut dan Taco Bell di Sri Lanka.

Jika digabungkan, entitas baru akan mengelola lebih dari 3.000 gerai, menjadikannya salah satu operator restoran cepat saji terbesar di kawasan tersebut. Skala ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperluas jangkauan pasar.

Baca Juga: Cara Investasi ke Tanah yang Aman dan Menguntungkan

Respons Pasar Saham

Pengumuman merger ini langsung memicu reaksi pasar. Saham Devyani International melonjak hingga 5,3% setelah kabar tersebut dirilis. Sebaliknya, saham Sapphire Foods India justru terkoreksi hingga 6,4% pada pembukaan perdagangan.

Pergerakan berlawanan ini mencerminkan persepsi investor terhadap struktur transaksi dan potensi manfaat jangka panjang bagi masing-masing entitas.

Titik Balik Industri Fast Food India

Merger KFC dan Pizza Hut di India dinilai sebagai titik balik penting bagi industri makanan cepat saji di negara tersebut. Konsolidasi ini mencerminkan realitas baru bahwa pertumbuhan agresif tanpa efisiensi tidak lagi cukup untuk bertahan.

Dengan tekanan ekonomi global, perubahan pola konsumsi, serta persaingan yang semakin ketat, perusahaan dituntut untuk lebih adaptif dan strategis. 

Penggabungan usaha menjadi salah satu cara paling efektif untuk memperkuat daya saing dan menjaga keberlanjutan bisnis.

Ke depan, keberhasilan merger ini akan sangat bergantung pada kemampuan manajemen dalam merealisasikan sinergi, menekan biaya, serta mengembalikan kepercayaan konsumen. 

Jika berhasil, entitas gabungan KFC dan Pizza Hut berpeluang kembali menjadi kekuatan utama yang mampu menantang dominasi Domino’s di pasar makanan cepat saji India.

Mau Diskusi Project Baru?

Contact Us