FYP
Media
Memuat Halaman...
0%
Waspada Fenomena "Super Flu": Gejala Lebih Berat dari Flu Biasa, Kenali Tanda Bahayanya

News

Waspada Fenomena "Super Flu": Gejala Lebih Berat dari Flu Biasa, Kenali Tanda Bahayanya

Writer: Ami Fatimatuz Zahro - Sabtu, 03 Januari 2026 08:59:51

Waspada Fenomena "Super Flu": Gejala Lebih Berat dari Flu Biasa, Kenali Tanda Bahayanya
Sumber gambar: Freepik

Musim pancaroba dan tingginya curah hujan di awal tahun ini membawa ancaman kesehatan baru yang patut diwaspadai. Belakangan, istilah "Super Flu" atau flu super ramai diperbincangkan setelah banyak masyarakat mengeluhkan gejala flu yang jauh lebih berat dan durasi penyembuhan yang lebih lama dibandingkan biasanya.

Rumah sakit dan klinik di berbagai daerah melaporkan peningkatan pasien dengan keluhan demam tinggi, nyeri sendi hebat, hingga batuk yang tak kunjung sembuh meski sudah meminum obat warung. Di Indonesia sendiri terdapat 62 kasus influenza subclade K, hasil tersebut didapatkan dari hasil pemeriksaan pada 25 Desember 2025.

Apa Itu "Super Flu"?

Meski bukan istilah medis resmi, "Super Flu" sering digunakan untuk menggambarkan infeksi Influenza (biasanya tipe A) yang menyerang dengan intensitas tinggi. Kondisi ini diperparah oleh sistem imun masyarakat yang mungkin belum sepenuhnya pulih pasca-pandemi atau karena faktor kelelahan di musim penghujan.

Gejala yang dirasakan penderita "Super Flu" mirip dengan flu pada umumnya, namun dengan "volume" yang diputar lebih kencang: demam bisa mencapai 40 derajat Celcius, tubuh terasa remuk (nyeri otot ekstrem), sakit kepala hebat, hingga batuk kering yang menyiksa dada.

Mengutip dari berbagai fenomena flu yang "bandel" ini memang kerap terjadi di masa peralihan musim. Para ahli kesehatan paru mengingatkan bahwa meskipun gejalanya mirip dengan common cold (selesma) atau bahkan COVID-19, penanganan Super Flu tidak boleh disepelekan.

Salah satu ciri khas dari gelombang flu kali ini adalah efek lingering cough atau batuk yang bertahan lama. Banyak pasien yang sudah sembuh dari demam, namun masih mengalami batuk hingga berminggu-minggu (sering disebut 100-day cough dalam kasus pertusis, namun juga relevan untuk sisa gejala flu berat).

Selain itu, sumber dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) juga menyebutkan bahwa ko-infeksi atau infeksi ganda (misalnya terkena Flu dan COVID-19 secara bersamaan, atau Flu dan bakteri pneumonia) bisa membuat kondisi pasien memburuk dengan cepat, yang sering kali disalahartikan masyarakat sebagai varian flu baru yang ganas.

Waspadai Tanda Bahaya

Masyarakat diminta untuk tidak sekadar menganggap ini "masuk angin" biasa. Segera bawa ke fasilitas kesehatan jika menemui tanda-tanda berikut, terutama pada anak-anak dan lansia:

  1. Sesak Napas: Napas menjadi cepat, pendek, atau terasa berat.
  2. Demam Tidak Turun: Demam tinggi yang bertahan lebih dari 3 hari meski sudah minum penurun panas.
  3. Dehidrasi: Jarang buang air kecil, mulut kering, dan lemas luar biasa.
  4. Nyeri Dada: Timbul rasa sakit atau tekanan persisten di dada.
  5. Penurunan Kesadaran: Pasien tampak linglung atau sulit dibangunkan.

Langkah Pencegahan

Menghadapi ancaman Super Flu, para dokter menyarankan kembali ke protokol kesehatan dasar. Masker kembali disarankan digunakan di tempat keramaian atau transportasi umum, terutama jika Anda sedang merasa kurang enak badan.

Selain itu, vaksinasi Influenza setahun sekali menjadi benteng pertahanan terbaik karena vaksin flu sering dilupakan orang, padahal ini sangat efektif mencegah gejala berat dan komplikasi seperti pneumonia.

Istirahat cukup, hidrasi yang baik, dan asupan nutrisi seimbang menjadi kunci utama agar tubuh tidak mudah "tumbang" dihajar virus Super Flu yang sedang mengintai.


 

Mau Diskusi Project Baru?

Contact Us