Writer: Raodatul - Senin, 05 Januari 2026 11:39:26
FYPMedia.id - Mata dunia tertuju ke benua Amerika pada awal Januari 2026. Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya Cilia Flores dikabarkan ditangkap oleh Amerika Serikat (AS) dalam operasi dramatis yang disertai serangan udara ke ibu kota Caracas.
Peristiwa ini langsung memicu ketegangan geopolitik global, memunculkan kecaman keras dari pemerintah Venezuela, serta membuka babak baru krisis politik dan energi di Amerika Latin.
Penangkapan tersebut terjadi pada Sabtu pagi, 3 Januari 2026, dan segera dikonfirmasi oleh berbagai media internasional.
Tak lama setelahnya, muncul pertanyaan besar di tingkat global: mengapa Presiden Venezuela ditangkap Amerika Serikat, dan apa dampaknya bagi masa depan Venezuela?
Venezuela Geger, Penangkapan Disebut Penculikan
Mengutip laporan Reuters, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez menyampaikan pernyataan resmi pemerintah beberapa jam setelah insiden terjadi.
Dalam siaran langsung televisi nasional yang menampilkan dirinya bersama sejumlah pejabat tinggi negara, Rodriguez mengecam tindakan Washington dengan nada keras.
"Kami menuntut pembebasan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores," ujar Rodriguez, dilansir dari detikcom, pada Senin (5/1/2026).
Ia menilai tindakan Amerika Serikat sebagai bentuk agresi bersenjata terhadap negara berdaulat.
"Kami menyerukan pembelaan kehidupan. Tidak seorang pun warga Venezuela, baik pria maupun wanita, boleh berdiam diri, karena para ekstremis yang telah memprovokasi agresi bersenjata ini terhadap negara kita akan dihukum oleh sejarah dan keadilan," tutur Rodriguez, dikutip dari detikNews.
Pemerintah Venezuela secara resmi menyebut penangkapan Maduro sebagai penculikan, bukan proses hukum yang sah. Pernyataan ini mempertegas sikap Caracas yang sejak lama menuding AS melakukan intervensi politik terhadap negara tersebut.
Baca Juga: Skandal 1MDB Berujung Vonis Berat, Najib Razak Dihukum 165 Tahun Penjara
Diekstraksi Tengah Malam, Maduro Dibawa ke AS
Berdasarkan laporan yang beredar luas, setelah diekstraksi dari wilayah Venezuela, Maduro diangkut menggunakan kapal perang USS Iwo Jima. Dari kapal tersebut, ia kemudian dipindahkan ke pesawat militer AS yang mendarat di New York pada Sabtu malam waktu setempat.
Operasi senyap ini dilakukan di tengah serangan udara Amerika ke Caracas. Presiden AS Donald Trump bahkan memuji operasi tersebut dan menyebutnya sebagai keberhasilan militer luar biasa.
"Tidak ada negara di dunia yang dapat mencapai apa yang dicapai Amerika kemarin," ujar Trump.
"Semua kemampuan militer Venezuela dilumpuhkan karena para pria dan wanita militer kita, bekerja sama dengan kita, penegak hukum, berhasil menangkap Maduro di tengah malam. Saat itu gelap, lampu-lampu Caracas sebagian besar dimatikan karena keahlian tertentu yang kita miliki," katanya.
Mengapa Presiden Venezuela Ditangkap Amerika Serikat?
Mengacu laporan The Guardian, Nicolás Maduro naik ke tampuk kekuasaan Venezuela pada 2013, menggantikan Presiden Hugo Chavez, tokoh sosialis yang dikenal vokal menentang dominasi Amerika Serikat. Sejak era Chavez, hubungan AS–Venezuela telah berada di titik beku.
Ketegangan semakin memuncak dalam beberapa bulan terakhir. Presiden Donald Trump, yang kembali menjabat pada 2025, secara terbuka menyerukan penggulingan Maduro.
Trump menuduh pemerintahan Maduro terlibat dalam perdagangan narkoba internasional, kejahatan lintas negara, dan pencurian minyak.
Trump juga menuding bahwa rezim Maduro telah mengirim kriminal dan narkoba ke wilayah Amerika Serikat. Tuduhan tersebut secara konsisten dibantah Caracas.
Maduro justru menuduh AS berusaha menggulingkan pemerintahannya demi menguasai cadangan minyak Venezuela, yang merupakan salah satu terbesar di dunia.
Dakwaan Berat Sejak 2020
Menurut keterangan resmi US Department of State, Nicolás Maduro telah didakwa sejak Maret 2020. Dakwaan itu mencakup tuduhan serius, mulai dari narkoterorisme hingga kepemilikan senjata berat.
Jaksa Agung AS Pamela Bondi menegaskan hal tersebut melalui akun X miliknya, @AGPamBondi.
"Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, telah didakwa di distrik selatan New York. Nicolas Maduro telah didakwa dengan konspirasi Narkoterorisme, konspirasi impor kokain, kepemilikan senjata api dan perangkat destruktif lainnya, dan konspirasi untuk menggunakan senjata mesin dan perangkat destruktif terhadap Amerika Serikat," tulis Bondi, dikutip dari detikcom, pada Senin (5/1/2026).
AS bahkan telah menawarkan hadiah besar bagi siapa pun yang memberikan informasi terkait penangkapan Maduro. Nilai hadiah tersebut meningkat secara bertahap sejak 2020 dan mencapai 50 juta dolar AS pada 7 Agustus 2025.
Baca Juga: AeroMexico Pecahkan Rekor, Maskapai Paling Tepat Waktu di Dunia Tahun 2025
Maduro Segera Hadapi Pengadilan Federal
Disadur dari CBS News, Maduro dan istrinya kemungkinan akan dihadirkan di pengadilan federal Manhattan pada Senin, 5 Januari 2026. Persidangan ini berkaitan langsung dengan dakwaan yang telah diajukan lima tahun sebelumnya.
Selain Maduro dan Cilia Flores, terdapat empat nama lain dalam dakwaan tersebut, yakni:
Nicolas Ernesto Maduro (putra Maduro)
Diosdado Cabello, Menteri Dalam Negeri Venezuela
Ramon Rodriguez Chacin, mantan menteri dalam negeri
Hector Rusthenford Guerrero Flores, pemimpin geng Tren de Arague
Namun hingga kini belum ada konfirmasi apakah Ernesto Maduro juga telah ditangkap. Tiga terdakwa lainnya masih bebas.
Trump menegaskan bahwa Maduro dan istrinya akan menjalani proses hukum penuh di AS.
"Maduro dan istrinya akan segera menghadapi kekuatan penuh keadilan Amerika dan diadili di tanah Amerika," ujar Trump dalam konferensi pers di Mar-a-Lago.
Penahanan Sementara dan Ketidakpastian Jadwal Sidang
Mengutip Independent, Maduro dan Flores kemungkinan besar akan ditahan sementara di Metropolitan Detention Center, Brooklyn. Jadwal persidangan resmi masih menunggu pengumuman otoritas pengadilan.
Situasi ini menambah ketidakpastian politik di Venezuela, yang kini berada dalam kondisi tanpa presiden aktif di dalam negeri.
Siapa yang Memimpin Venezuela Sekarang?
Penangkapan presiden yang masih berkuasa memicu pertanyaan besar mengenai kepemimpinan Venezuela. Wakil Presiden Delcy Rodriguez menyatakan akan mengambil alih kewenangan administratif, namun menolak disebut sebagai presiden pengganti.
"Hanya ada satu presiden di Venezuela, dan namanya adalah Nicolas Maduro Moros," tegas Rodriguez.
Di sisi lain, Trump mengklaim bahwa Rodriguez telah dilantik sebagai presiden sementara.
"Pada dasarnya, dia bersedia melakukan apa yang menurut kami perlu untuk menjadikan Venezuela hebat kembali. Sangat sederhana," kata Trump.
Pernyataan ini dinilai kontradiktif oleh banyak pengamat.
Laura Dib, kepala program Venezuela di Washington Office on Latin America (WOLA), menilai situasi ini belum bisa disebut sebagai transisi kekuasaan.
"Meskipun Maduro mungkin sudah tidak berkuasa lagi, itu tidak serta merta berarti bahwa transisi kekuasaan telah terjadi," katanya kepada Al Jazeera.
"Salah satu skenario terburuk yang dapat diprediksi oleh warga Venezuela adalah apa yang saya sebut transisi tanpa transisi," tambahnya.
Baca Juga: Rusia–China Kecam Aksi Militer AS ke Venezuela, Disebut Koboi Global
Trump Klaim AS Akan Kelola Minyak Venezuela
Di tengah kekosongan kepemimpinan, Trump menyampaikan rencana kontroversial: Amerika Serikat akan memimpin Venezuela dalam masa transisi dan mengelola sektor minyaknya.
Mengutip CNN Internasional dan Associated Press, Trump mengatakan AS akan memperbaiki infrastruktur minyak Venezuela dan menjualnya ke pasar global.
"Kita akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak besar Amerika Serikat, yang terbesar di dunia, untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, dan memperbaiki infrastruktur yang rusak parah," kata Trump.
Trump tidak menyebutkan batas waktu masa transisi tersebut.
Konflik Lama Soal Minyak Kembali Memanas
Hubungan AS, Venezuela memang lama diwarnai konflik energi. Pada Desember 2025, AS menyita sebuah kapal tanker minyak raksasa di lepas pantai Venezuela.
"Kami baru saja menyita sebuah kapal tanker di lepas pantai Venezuela, sebuah kapal tanker besar, sangat besar, yang terbesar yang pernah disita, sebenarnya," kata Trump, dikutip AFP.
Maduro kala itu mengecam keras tindakan AS.
"Dari Venezuela, kami meminta dan menuntut diakhirinya intervensionisme ilegal dan brutal oleh pemerintah Amerika Serikat di Venezuela dan di Amerika Latin," ucap Maduro.
"Kami menolak intervensionisme, menolak rencana destabilisasi untuk perubahan rezim, Biarkan pemerintah AS fokus pada pemerintahan negaranya sendiri," tambahnya.
Kesimpulan: Krisis Politik dan Energi di Titik Kritis
Penangkapan Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat bukan sekadar peristiwa hukum, melainkan titik balik geopolitik yang berpotensi mengubah peta kekuasaan di Amerika Latin.
Dengan tuduhan narkoterorisme, rencana pengelolaan minyak, dan ketidakpastian kepemimpinan, Venezuela kini berada di persimpangan sejarah.
Dunia menunggu: apakah ini awal transisi damai, atau justru babak baru konflik berkepanjangan?