FYP
Media
Memuat Halaman...
0%
Padel, Gym, atau Lari? Panduan Realistis Menjaga Resolusi Bugar Awal Tahun

News

Padel, Gym, atau Lari? Panduan Realistis Menjaga Resolusi Bugar Awal Tahun

Writer: Raodatul - Senin, 05 Januari 2026 14:13:02

Padel, Gym, atau Lari? Panduan Realistis Menjaga Resolusi Bugar Awal Tahun
Sumber gambar: Ilustrasi Gym/Freepik

FYPMedia.id - Awal tahun hampir selalu identik dengan resolusi hidup sehat. Media sosial dipenuhi unggahan gym yang kembali ramai, olahraga padel yang sedang naik daun, hingga lari pagi yang dianggap paling sederhana dan murah. 

Banyak orang menyusun target kebugaran dengan optimisme tinggi, berharap Januari menjadi titik balik menuju tubuh yang lebih bugar dan disiplin.

Namun realitas sering berkata lain. Beberapa minggu berlalu, jadwal olahraga mulai terlewat, tubuh terasa cepat lelah, dan semangat yang semula menyala perlahan memudar. 

Bukan karena niat yang kurang kuat, melainkan karena pilihan olahraga yang tidak selaras dengan kondisi tubuh, rutinitas harian, dan kapasitas energi.

Di tengah euforia resolusi Tahun Baru, muncul satu pertanyaan krusial yang sering luput dibahas: olahraga mana yang paling realistis untuk dijalani secara konsisten, bukan sekadar paling tren atau paling cepat membakar kalori?

Jawabannya tidak bisa dilepaskan dari satu prinsip mendasar: setiap tubuh memiliki respons yang berbeda terhadap olahraga.

Kenali Kondisi Tubuh Sebelum Menentukan Resolusi Olahraga

Sebelum memilih padel, gym, atau lari sebagai bagian dari resolusi sehat, penting memahami bahwa kondisi fisik setiap individu tidak sama. 

Tingkat kebugaran awal, usia, riwayat cedera, hingga kondisi kesehatan tertentu sangat memengaruhi bagaimana tubuh merespons aktivitas fisik.

Kajian ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal Sports Medicine dan diarsipkan oleh PubMed Central (PMC) menegaskan bahwa pemilihan jenis latihan perlu disesuaikan dengan karakteristik fisiologis individu agar manfaat kesehatan optimal dapat diperoleh tanpa meningkatkan risiko cedera.

Faktor nonfisik juga tak kalah penting. Penelitian dalam Journal of Physical Education and Health Sport Universitas Negeri Semarang menunjukkan bahwa pola makan, kualitas tidur, dan tingkat aktivitas fisik saling berkaitan dalam menjaga kebugaran, terutama daya tahan jantung-paru dan ketersediaan energi saat berolahraga.

Temuan ini memperjelas bahwa resolusi sehat bukan soal mengikuti tren, melainkan tentang kesiapan tubuh dan keberlanjutan rutinitas.

Baca Juga: 6 Alasan Olahraga Padel Jadi Viral di Indonesia dan Disukai Banyak Kalangan

Padel: Seru dan Sosial, tapi Tidak Selalu Mudah Dijadikan Kebiasaan

Padel dikenal sebagai olahraga yang menyenangkan dan bersifat sosial. Namun dari sisi fisiologis, padel termasuk olahraga intermiten, menggabungkan gerakan cepat, perubahan arah mendadak, dan jeda singkat.

Karakter ini membuat padel lebih cocok bagi mereka yang memiliki kondisi jantung dan paru yang cukup baik, koordinasi tubuh stabil, serta sendi lutut dan pergelangan kaki yang relatif sehat. 

Bagi pemula, padel tetap bisa dicoba, tetapi sebaiknya dimulai dengan durasi singkat dan intensitas ringan.

Kajian dalam jurnal Sports Medicine menunjukkan bahwa olahraga raket dengan gerakan eksplosif memberi beban signifikan pada sistem muskuloskeletal. Risiko cedera meningkat bila tubuh belum terbiasa atau memiliki riwayat masalah sendi.

Artinya, meski tampak fun dan tidak terasa seperti olahraga berat, padel tetap membutuhkan kesiapan fisik. 

Dari sisi nutrisi, padel memerlukan karbohidrat sebagai sumber energi utama, protein untuk pemulihan otot, serta elektrolit guna menjaga keseimbangan cairan tubuh.

Tanpa dukungan gizi yang memadai, kelelahan bisa datang lebih cepat meski durasi bermain relatif singkat.

Gym: Fleksibel dan Terukur, tapi Menuntut Konsistensi Tinggi

Berbeda dengan padel, latihan di gym bersifat lebih terstruktur. Fokusnya bisa disesuaikan, mulai dari pembentukan otot, peningkatan kekuatan, hingga penurunan berat badan. Inilah yang membuat gym relatif fleksibel untuk berbagai tujuan kebugaran.

Kajian dalam Sports Medicine menyebutkan bahwa latihan resistensi progresif aman bagi berbagai kelompok, termasuk pemula dan individu dengan berat badan berlebih, selama teknik dilakukan dengan benar. 

Namun, mereka yang memiliki tekanan darah tinggi tidak terkontrol, nyeri punggung, atau cedera sendi tetap perlu selektif memilih jenis latihan.

Dari sisi energi, gym membutuhkan asupan yang lebih stabil. Penelitian dalam Journal of the International Society of Sports Nutrition menegaskan pentingnya kombinasi energi dan protein untuk mendukung pemulihan serta adaptasi otot setelah latihan beban.

Gym sering gagal dijalani bukan karena terlalu berat, melainkan karena kurang disiplin dalam jadwal dan pemulihan. Tanpa istirahat cukup dan pola makan seimbang, latihan justru terasa semakin melelahkan.

Baca Juga:  Manfaat Gym Setiap Hari bagi Pria: Rahasia Tubuh Bugar dan Sehat Maksimal

Lari: Paling Praktis, tapi Rentan Ditinggalkan

Lari sering dianggap sebagai olahraga paling mudah dan murah karena minim fasilitas. Namun, lari sepenuhnya mengandalkan beban tubuh dan kesiapan sistem kardiopulmonari.

Bagi mereka yang memiliki berat badan berlebih atau nyeri sendi, lari bukan selalu pilihan ideal di awal. Penelitian dalam British Journal of Sports Medicine menunjukkan bahwa peningkatan volume dan intensitas lari yang terlalu cepat menjadi penyebab utama cedera pada pelari pemula.

Karena itu, pendekatan bertahap, seperti kombinasi jalan dan lari, lebih disarankan. Dari sisi nutrisi, lari sangat bergantung pada cadangan karbohidrat. 

Studi dalam Medicine & Science in Sports & Exercise menunjukkan bahwa kecukupan karbohidrat membantu menunda kelelahan dan menjaga performa.

Lari sering ditinggalkan karena ekspektasi yang terlalu tinggi sejak awal, bukan karena olahraga ini tidak efektif.

Kenapa Tubuh Cepat Lelah di Awal Olahraga?

Rasa lelah di minggu-minggu awal sering dianggap sebagai tanda tubuh tidak kuat. Padahal, itu adalah fase adaptasi alami. Jurnal Sports Medicine menjelaskan bahwa tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri terhadap stres baru pada otot dan sistem jantung-paru.

Adaptasi awal biasanya terjadi dalam:

  • Gym: 2–4 minggu

  • Lari: 3–6 minggu

  • Padel: 2–3 minggu

Artinya, rasa tidak nyaman di awal bukan kegagalan, melainkan bagian dari proses menuju tubuh yang lebih efisien.

Mana yang Paling Realistis untuk Resolusi Bugar?

Tidak ada satu jawaban mutlak. Olahraga paling realistis adalah yang:

  • Sesuai dengan kondisi tubuh,

  • Cocok dengan jadwal harian,

  • Didukung pola makan dan istirahat, dan

  • Bisa dilakukan 2–3 kali seminggu secara konsisten.

Padel unggul dari sisi sosial, gym kuat dalam struktur latihan, dan lari juara dalam kesederhanaan. Namun manfaat terbesar justru datang dari olahraga yang bisa dijalani dalam jangka panjang, bukan yang dimulai dengan intensitas paling tinggi.

Resolusi sehat bukan tentang memulai sekeras mungkin, melainkan memilih cara paling masuk akal agar bisa bertahan. 

Dengan memahami kondisi tubuh sejak awal, resolusi Tahun Baru tak lagi berhenti di Januari, tetapi berlanjut menjadi kebiasaan yang berkelanjutan.

Mau Diskusi Project Baru?

Contact Us