Writer: Raodatul - Rabu, 14 Januari 2026 17:32:23
FYPMedia.id - China kembali mencatat sejarah dalam perekonomian global. Di tengah tekanan perang dagang dan kebijakan tarif keras dari Amerika Serikat (AS), Negeri Tirai Bambu justru membukukan surplus perdagangan fantastis sebesar US$1,2 triliun sepanjang 2025.
Angka ini bukan hanya menjadi rekor nasional, tetapi juga surplus perdagangan terbesar di dunia, menegaskan posisi China sebagai kekuatan ekspor utama global.
Capaian tersebut meningkat sekitar 20% dibandingkan tahun 2024, sekaligus memperpanjang tren surplus perdagangan China selama sembilan tahun berturut-turut.
Data resmi menunjukkan total perdagangan luar negeri barang China pada 2025 mencapai US$6,48 triliun, mencerminkan skala ekonomi dan jejaring dagang yang kian luas meski dibayangi konflik geopolitik.
“China terus maju meskipun menghadapi lingkungan eksternal yang kompleks dan menantang,” kata Wang Jun, Wakil Administrasi Umum Bea Cukai China dalam konferensi pers tahunan, dikutip dari CNN, Rabu (14/1/2026).
Ekspor teknologi tinggi menjadi motor utama surplus
Kinerja perdagangan China tidak lagi bertumpu semata pada produk manufaktur murah. Sepanjang 2025, ekspor barang berteknologi tinggi justru menjadi mesin utama surplus. Produk seperti peralatan mesin kelas atas, robot industri, kendaraan listrik, baterai lithium, dan panel surya mencatat pertumbuhan signifikan.
Ekspor mesin dan robot industri meningkat 13% secara tahunan, sementara ekspor kendaraan listrik, baterai lithium, serta produk fotovoltaik melonjak hingga 27%.
Lonjakan ini menegaskan transformasi struktural ekonomi China menuju manufaktur bernilai tambah tinggi, sejalan dengan strategi jangka panjang pemerintah Beijing.
Para pejabat China berulang kali menegaskan bahwa kekuatan perdagangan ini merupakan bukti ketahanan ekonomi nasional, terutama ketika ekonomi global dilanda perlambatan dan ketidakpastian kebijakan perdagangan internasional.
Baca Juga: Rusia–China Kecam Aksi Militer AS ke Venezuela, Disebut Koboi Global
Ekspor ke AS anjlok tajam akibat perang dagang
Di balik capaian impresif tersebut, terdapat satu fakta mencolok: ekspor China ke Amerika Serikat merosot tajam. Sepanjang 2025, hubungan dagang dua ekonomi terbesar dunia kembali memanas akibat kebijakan tarif yang digulirkan Presiden AS Donald Trump.
Data Bea Cukai China menunjukkan bahwa pengiriman barang ke AS anjlok hampir 29% secara tahunan, menandai delapan bulan berturut-turut penurunan dua digit.
Penurunan ini menjadi dampak langsung dari tarif tinggi, pembatasan teknologi, serta sentimen politik yang memburuk.
Meski demikian, penurunan ekspor ke AS tidak menggoyahkan surplus perdagangan China secara keseluruhan. Hal ini disebabkan oleh diversifikasi pasar ekspor yang agresif ke berbagai kawasan lain.
Pasar non-AS jadi penyelamat perdagangan China
Ketika pintu pasar AS menyempit, China justru memperluas penetrasi dagang ke Asia Tenggara, Afrika, Amerika Latin, Timur Tengah, hingga Uni Eropa. Kawasan-kawasan ini mencatat pertumbuhan impor barang China yang kuat sepanjang 2025.
Strategi ini bukan hal baru. Sejak perang dagang pertama pada masa kepemimpinan Trump, China secara sistematis membangun jejak ekonomi global, memperkuat rantai pasok, dan menjalin kemitraan dagang bilateral maupun regional.
Dalam 11 bulan pertama 2025, surplus perdagangan China bahkan telah mencapai hampir US$1,08 triliun, melampaui surplus penuh tahun 2024 yang sebesar US$992 miliar.
Total ekspor China per November 2025 tercatat US$330,3 miliar, tumbuh 5,9% secara tahunan, berbalik arah dari kontraksi pada bulan sebelumnya.
Impor mulai pulih, tapi ekonomi domestik masih tertekan
Di sisi lain, impor China juga menunjukkan perbaikan moderat. Pada November 2025, impor naik 1,9% menjadi US$218,6 miliar, sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 1% pada Oktober.
Namun, para analis menilai pemulihan impor masih tertahan oleh lesunya sektor properti, yang selama ini menjadi salah satu motor utama permintaan domestik.
Lemahnya investasi dan konsumsi dalam negeri menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah China untuk menjaga keseimbangan pertumbuhan.
Aktivitas pabrik pun masih berada di zona kontraksi selama delapan bulan berturut-turut hingga November, menandakan bahwa pemulihan ekonomi belum sepenuhnya solid.
Baca Juga: Aksi Brutal Oknum WN China Bersenjata Serang TNI di Tambang Ketapang
Gencatan dagang China-AS belum berdampak signifikan
Pada akhir Oktober 2025, China dan AS sempat menyepakati gencatan dagang selama satu tahun, dalam pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping di Korea Selatan.
Dalam kesepakatan tersebut, AS setuju menurunkan sebagian tarif, sementara China berjanji menghentikan pembatasan ekspor logam tanah jarang (rare earth).
Namun, analis menilai data neraca dagang per November belum sepenuhnya mencerminkan dampak kebijakan tersebut.
Efek pelonggaran tarif diperkirakan baru akan terlihat dalam beberapa bulan ke depan, tergantung pada stabilitas hubungan politik kedua negara.
Banyak pihak juga meragukan ketahanan gencatan dagang ini, mengingat hubungan China-AS masih berada dalam fase kebuntuan strategis dan penuh ketidakpastian.
Gesekan global akibat banjir produk China
Keberhasilan China membanjiri pasar global juga memicu kekhawatiran di banyak negara. Mitra dagang China di berbagai kawasan menilai penetrasi produk China berpotensi merugikan industri domestik mereka, terutama di sektor baja, otomotif, tekstil, dan energi terbarukan.
Sejumlah negara menuding praktik perdagangan China tidak sepenuhnya adil, terutama ketika produk bersubsidi dijual dengan harga sangat kompetitif di pasar internasional.
Isu ini diperkirakan akan menjadi sumber gesekan dagang baru di masa depan, bahkan di luar konflik China-AS.
Baca Juga: Rial Iran Ambruk ke Titik Terendah, Sanksi AS Picu Chaos Nasional
Target pertumbuhan ekonomi tetap terjaga
Meski tantangan eksternal masih besar, kinerja ekspor yang solid membuat China diperkirakan mampu mencapai target pertumbuhan ekonomi sekitar 5% pada 2025. Beberapa lembaga keuangan global bahkan optimistis terhadap prospek jangka panjang China.
Morgan Stanley, misalnya, memproyeksikan pangsa ekspor global China dapat mencapai 16,5% pada 2030, didorong oleh keunggulan di sektor kendaraan listrik, robotika, baterai, dan manufaktur canggih.
Pemerintah China sendiri telah menegaskan bahwa manufaktur berteknologi tinggi akan menjadi fokus utama dalam lima tahun ke depan.
Rapat perencanaan ekonomi tahunan yang dipimpin Presiden Xi Jinping juga menekankan pentingnya stabilitas dan kemajuan dalam menghadapi dinamika global yang kian kompleks.
Kesimpulan: China kian kokoh di tengah tekanan global
Rekor surplus perdagangan US$1,2 triliun pada 2025 menjadi bukti nyata bahwa China berhasil mempertahankan dominasinya dalam perdagangan global, bahkan ketika dihadapkan pada tarif Trump, perang dagang, dan ketidakpastian geopolitik.
Dengan strategi diversifikasi pasar, transformasi industri, dan fokus pada teknologi tinggi, China menunjukkan bahwa tekanan eksternal tidak selalu berujung pada pelemahan.
Namun demikian, tantangan ke depan masih besar, mulai dari hubungan China-AS yang rapuh, perlambatan ekonomi domestik, hingga potensi gesekan dagang dengan negara lain.
Satu hal yang pasti, peta perdagangan global terus bergeser, dan China tetap menjadi aktor sentral yang sulit diabaikan.