Writer: Raodatul - Senin, 05 Januari 2026 14:51:55
FYPMedia.id - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini tak lagi sekadar alat bantu teknis untuk mencari informasi, membuat jadwal, hingga merencanakan liburan. Di Indonesia, AI mulai mengambil peran yang jauh lebih personal dan emosional.
Fakta terbaru menunjukkan bahwa tiga dari sepuluh orang Indonesia memilih berbicara dengan AI saat merasa sedih atau tidak bahagia.
Temuan ini menandai perubahan besar dalam pola interaksi manusia dengan teknologi. AI tidak lagi hanya diposisikan sebagai asisten digital, tetapi juga sebagai teman curhat virtual, terutama di kalangan generasi muda.
Namun di balik kemudahan dan rasa nyaman tersebut, para pakar keamanan siber memperingatkan adanya ancaman serius terhadap privasi dan keamanan data pribadi.
Tren Baru: AI Jadi Tempat Curhat Saat Sedih
Fenomena curhat ke AI terungkap dalam laporan global Kaspersky yang dilakukan pada November 2025.
Survei tersebut melibatkan ribuan responden dari berbagai negara dan mengungkap bagaimana peran AI berkembang dalam kehidupan sehari-hari manusia.
Hasilnya, 31 persen responden di Indonesia mengaku berinteraksi dengan AI ketika sedang tidak bahagia. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang berada di level 29 persen.
Artinya, kecenderungan masyarakat Indonesia untuk menjadikan AI sebagai pendamping emosional tergolong signifikan.
Fenomena ini paling kuat terlihat di kalangan Generasi Z dan milenial. Sekitar 35 persen responden usia muda memilih AI sebagai tempat curhat saat emosi sedang tidak stabil. Sebaliknya, hanya 19 persen responden berusia 55 tahun ke atas yang melakukan hal serupa.
Perbedaan ini menunjukkan adanya kesenjangan generasi dalam memandang teknologi. Generasi muda, yang sejak kecil terbiasa hidup berdampingan dengan internet dan gawai, cenderung melihat AI sebagai sesuatu yang responsif, selalu tersedia, dan tidak menghakimi.
Baca Juga: Cara Merawat Laptop agar Awet dan Tetap Optimal
Mengapa AI Terasa Nyaman untuk Curhat?
Kemampuan AI generatif yang semakin canggih membuat interaksi terasa semakin “manusiawi”. Chatbot modern mampu menyusun kalimat empatik, merespons dengan nada menenangkan, bahkan memberikan saran yang terdengar personal.
Bagi sebagian orang, terutama yang merasa kesepian atau enggan membuka diri kepada orang terdekat, AI menjadi alternatif yang terasa aman.
Tidak ada rasa takut dihakimi, tidak perlu menjelaskan latar belakang panjang, dan respons bisa didapat kapan saja. Namun, kenyamanan inilah yang justru memicu kekhawatiran para ahli.
Peringatan Pakar: Curhat ke AI Bukan Tanpa Risiko
Di balik kesan empatik, para pakar keamanan siber menegaskan bahwa AI tetaplah sistem berbasis data, bukan manusia. Setiap percakapan, termasuk curahan emosi, berpotensi menjadi bagian dari data yang dikumpulkan dan diproses oleh perusahaan pengembang.
Vladislav Tushkanov, Manager Group di Kaspersky AI Technology Research Center, mengingatkan pengguna agar tidak memandang AI sebagai pengganti manusia.
"AI belajar dari data, sebagian besar berasal dari internet. Artinya, ia bisa mengulang bias, kesalahan, dan asumsi yang keliru. Pengguna perlu bersikap kritis dan tidak menganggap AI sebagai pengganti manusia," ujar Vladislav Tushkanov, Manajer Grup di Kaspersky AI Technology Research Center.
Ia juga menambahkan: "Seiring dengan pesatnya perkembangan model LLM, potensi mereka untuk terlibat dalam dialog bermakna dengan pengguna juga meningkat."
Namun, dialog yang terasa bermakna itu tetap menyimpan risiko, terutama jika pengguna membagikan informasi sensitif tanpa batasan.
Data Emosional Tetaplah Data
Kaspersky menegaskan bahwa percakapan emosional dengan AI tetap merupakan data digital. Sebagian besar chatbot AI dimiliki oleh perusahaan komersial yang memiliki kebijakan pengumpulan dan pemrosesan informasi sendiri.
Informasi yang dibagikan pengguna, mulai dari kondisi emosional, kebiasaan, hingga masalah pribadi, dapat digunakan untuk berbagai tujuan, antara lain:
Analisis kondisi psikologis pengguna
Penyusunan profil perilaku digital
Penargetan iklan yang lebih agresif dan personal
Potensi penyalahgunaan oleh pihak tidak bertanggung jawab
Dalam skenario terburuk, data emosional dapat dimanfaatkan untuk phishing berbasis emosi, penipuan digital, pemerasan, hingga manipulasi perilaku pengguna.
Pakar menekankan bahwa curhat ke AI tidak sama dengan berbicara kepada psikolog, konselor, atau orang terdekat yang terikat etika dan kerahasiaan profesional.
Baca Juga: Gen Z Ketergantungan Curhat ke AI, Ilmuwan Peringatkan Risiko Serius
AI Bukan Terapis, Bukan Sahabat
Meski AI mampu memberikan respons yang terdengar suportif, para ahli sepakat bahwa teknologi ini tidak memiliki empati, intuisi, maupun tanggung jawab moral seperti manusia. AI hanya memprediksi jawaban berdasarkan pola data yang dipelajarinya.
Ketika pengguna terlalu bergantung pada AI untuk mengatasi kesedihan atau masalah emosional, ada risiko menunda pencarian bantuan profesional yang sebenarnya dibutuhkan.
Dalam kasus gangguan kesehatan mental yang serius, ketergantungan pada AI justru bisa memperburuk kondisi.
AI Tetap Digunakan, Tapi Harus Aman
Meski risiko nyata, para pakar tidak menyarankan masyarakat untuk sepenuhnya menghindari AI. Teknologi ini tetap memiliki manfaat besar jika digunakan secara bijak dan sadar risiko.
Berikut beberapa tips keamanan penting jika tetap menggunakan AI:
Jangan pernah membagikan data pribadi sensitif, seperti identitas, alamat rumah, nomor telepon, informasi keuangan, atau detail keluarga.
Perlakukan percakapan dengan AI seperti unggahan media sosial publik, bukan ruang rahasia.
Tinjau kebijakan privasi platform AI yang digunakan, termasuk opsi penonaktifan penggunaan data untuk pelatihan model.
Gunakan layanan AI dari perusahaan tepercaya dengan rekam jejak keamanan dan privasi yang jelas.
Hindari bot anonim atau tidak dikenal yang berpotensi dirancang untuk mengumpulkan data secara ilegal.
Lengkapi perangkat dengan solusi keamanan digital untuk mencegah phishing dan tautan berbahaya.
Perubahan Cara Manusia Menghadapi Kesedihan
Survei ini menunjukkan perubahan mendasar dalam cara manusia menghadapi emosi dan kesedihan. Bagi sebagian orang, AI kini menjadi tempat pertama untuk berbicara saat hati terasa berat.
Fenomena ini mencerminkan tantangan sosial yang lebih luas: berkurangnya ruang aman untuk berbagi perasaan di dunia nyata. AI hadir mengisi kekosongan tersebut, namun bukan tanpa konsekuensi.
Pakar menegaskan, teknologi seharusnya menjadi pendukung, bukan pengganti hubungan manusia. Kesadaran digital dan literasi privasi menjadi kunci agar masyarakat bisa memanfaatkan AI tanpa terjebak risiko tersembunyi.
Kesimpulan
Meningkatnya tren curhat ke AI di Indonesia menunjukkan betapa teknologi telah masuk ke ranah paling personal dalam kehidupan manusia.
Namun, di balik kemudahan dan kenyamanan, terdapat risiko serius terhadap privasi, keamanan data, dan kesehatan mental.
AI boleh digunakan sebagai alat bantu refleksi atau pencarian informasi, tetapi tidak boleh menggantikan peran manusia, psikolog, atau sistem pendukung sosial.
Bersikap kritis, membatasi informasi pribadi, dan memahami cara kerja AI adalah langkah penting agar teknologi tetap menjadi solusi, bukan sumber masalah baru.