FYP
Media
Memuat Halaman...
0%
Rial Iran Ambruk ke Titik Terendah, Sanksi AS Picu Chaos Nasional

News

Rial Iran Ambruk ke Titik Terendah, Sanksi AS Picu Chaos Nasional

Writer: Raodatul - Rabu, 14 Januari 2026 17:11:18

Rial Iran Ambruk ke Titik Terendah, Sanksi AS Picu Chaos Nasional
Sumber gambar: Protes atas anjloknya nilai mata uang di Teheran, Iran, Kamis (8/1/2026). (Stringer/WANA via REUTERS)

FYPMedia.id - Nilai mata uang Iran, rial, resmi mencatatkan rekor terburuk dalam sejarah modern. Pada 14 Januari 2026, kurs pasar bebas menembus 1.092.500 rial per 1 dolar Amerika Serikat (AS), menandai kolapsnya kepercayaan publik terhadap perekonomian nasional Iran.

Krisis nilai tukar ini bukan sekadar gejolak pasar. Kejatuhan rial menjadi pemicu ledakan sosial, memperparah ketegangan politik domestik, serta menyeret Iran ke pusaran konflik geopolitik yang semakin berbahaya. 

Di tengah inflasi yang melambung, sanksi internasional yang menjerat, serta ancaman militer dari Amerika Serikat, Iran menghadapi tekanan multidimensi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ekonomi Domestik Memburuk, Daya Beli Rakyat Runtuh

Anjloknya nilai tukar rial berakar dari kemerosotan ekonomi domestik yang kronis. Harga kebutuhan pokok melonjak tajam, sementara pendapatan masyarakat stagnan. Inflasi yang tinggi membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, bahan bakar, dan transportasi.

Ketika nilai mata uang terus melemah, daya beli masyarakat runtuh. Tekanan ini tidak hanya dirasakan oleh kelompok berpenghasilan rendah, tetapi juga kelas menengah yang selama ini menjadi penopang stabilitas sosial.

Situasi ini memicu gelombang protes besar-besaran yang pecah sejak 28 Desember 2025. Awalnya dipicu oleh mahalnya harga pangan dan melemahnya rial, aksi protes berkembang menjadi tuntutan politik yang lebih luas, termasuk desakan perubahan pemerintahan.

Demonstrasi yang bermula dari pedagang Grand Bazaar Tehran dan kalangan mahasiswa dengan cepat menyebar ke seluruh 31 provinsi Iran, menunjukkan skala krisis yang bersifat nasional.

Baca Juga: Kemlu Pulangkan 27.768 WNI dari Krisis Global, Negara Hadir Lindungi Rakyat

Enam Penyebab Utama Kolapsnya Mata Uang Iran

1. Sanksi Internasional dan Terputusnya Akses Devisa

Penyebab paling fundamental dari kejatuhan rial adalah sanksi internasional, terutama sanksi Amerika Serikat setelah Washington keluar dari perjanjian nuklir Iran (JCPOA). Sanksi ini membatasi ekspor minyak dan memutus akses perbankan Iran ke sistem keuangan global.

Akibatnya, pasokan devisa menyusut drastis, sementara kebutuhan impor tetap tinggi. Ketidakseimbangan ini membuat nilai rial jatuh bebas di pasar bebas.

2. Inflasi Sangat Tinggi dan Hilangnya Kepercayaan Publik

Inflasi di Iran telah berada di atas 40% selama beberapa tahun terakhir. Bahkan pada akhir 2025, inflasi tercatat mencapai 42,5%, menurut laporan EBC.

Inflasi tinggi membuat masyarakat dan pelaku usaha enggan menyimpan aset dalam bentuk rial karena nilainya terus tergerus. Mereka beralih ke dolar AS, emas, atau aset riil lainnya, mempercepat pelemahan mata uang domestik.

3. Pendapatan Negara Tertekan, Defisit Membengkak

Sanksi dan pelemahan ekonomi membuat pendapatan negara Iran menurun drastis. Di sisi lain, belanja pemerintah tetap tinggi untuk subsidi energi, pangan, dan program sosial demi meredam gejolak sosial.

Ketika penerimaan pajak dan devisa tidak mencukupi, pemerintah dan bank sentral terpaksa memperluas uang beredar. Kebijakan ini justru memperburuk inflasi dan mempercepat kejatuhan rial.

4. Pertumbuhan Ekonomi Lemah dan Produktivitas Stagnan

Ekonomi Iran diperkirakan mengalami kontraksi pada 2025 dan 2026. Pertumbuhan yang lemah berarti dunia usaha tidak berkembang, lapangan kerja terbatas, dan produktivitas rendah.

Tanpa pertumbuhan ekonomi yang sehat, mata uang domestik kehilangan fondasi fundamentalnya.

5. Ketidakpastian Politik dan Keresahan Sosial

Protes sosial yang meluas menciptakan ketidakpastian politik yang akut. Investor, baik domestik maupun asing, menarik dana mereka karena khawatir terhadap stabilitas jangka panjang Iran.

Di dalam negeri, kebijakan subsidi bahan bakar baru yang diterapkan Desember 2025 justru memperparah situasi. Harga bahan bakar naik signifikan, sementara rencana evaluasi harga setiap tiga bulan menciptakan ketidakpastian lanjutan.

6. Ketergantungan Tinggi pada Ekspor Minyak

Iran sangat bergantung pada minyak sebagai sumber utama devisa. Ketika ekspor minyak terganggu oleh sanksi, pembatasan logistik, dan risiko geopolitik, pendapatan dolar langsung anjlok. Ketergantungan ini membuat ekonomi Iran sangat rentan terhadap tekanan eksternal.

Baca Juga: Iran Dilanda Krisis Air Terburuk 50 Tahun: 7 Fakta Mengejutkan tentang Operasi Penyemaian Awan

Chaos Iran Memicu Ketegangan Global

Krisis domestik Iran kini bertransformasi menjadi krisis geopolitik regional dan global. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Iran mulai menunjukkan sinyal ingin bernegosiasi, namun di saat yang sama melontarkan ancaman keras.

"Saya pikir mereka lelah dipukul oleh Amerika Serikat. Iran ingin bernegosiasi," ujar Trump kepada wartawan di Air Force One, dikutip dari CNBC Indonesia, Rabu (14/1/2026)..

Trump menegaskan bahwa AS siap mengambil langkah ekstrem jika Iran melakukan serangan balasan.

"Jika mereka melakukan itu [balas dendam], kami akan memukul mereka pada tingkat yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya, “ lanjut Trump.

Sumber internal Gedung Putih menyebutkan bahwa tim keamanan nasional AS tengah mengkaji berbagai opsi, mulai dari serangan siber hingga operasi militer langsung, baik oleh AS maupun sekutunya, Israel.

“Perang Dagang” Baru: Tarif 25% untuk Rekanan Iran

Tak hanya ancaman militer, Trump juga meluncurkan serangan ekonomi besar-besaran. Melalui media sosial, ia mengumumkan pemberlakuan tarif 25% bagi negara-negara yang tetap menjalin hubungan bisnis dengan Iran.

"Berlaku segera," tulis Trump.

Kebijakan ini berpotensi mengguncang ekonomi global, terutama negara-negara yang memiliki hubungan dagang erat dengan Iran seperti China, Rusia, Turki, Brasil, dan Uni Emirat Arab.

Langkah ini mempertegas gaya diplomasi Trump yang menjadikan tarif sebagai alat tekanan geopolitik.

Baca Juga: Kemlu Pulangkan 300 WNI Rentan dari Malaysia, 66 Perempuan dan 8 Anak Diselamatkan

Krisis Kemanusiaan Memburuk, Ratusan Tewas

Di dalam negeri, situasi kemanusiaan Iran kian kritis. Menurut Human Rights Activists News Agency (HRANA), setidaknya 646 orang tewas dalam dua pekan terakhir bentrokan.

Rinciannya mencakup 512 demonstran sipil dan 134 anggota pasukan keamanan. Selain itu, lebih dari 10.700 orang ditangkap sejak protes pecah.

Tekanan meningkat setelah Jaksa Agung Iran memperingatkan bahwa demonstran dapat dikategorikan sebagai “musuh Tuhan”, dakwaan yang berisiko hukuman mati.

Pemerintah Iran juga melakukan pemutusan akses internet dan komunikasi secara luas, menyulitkan pemantauan independen dan memicu kekhawatiran akan penindasan brutal.

Respons Teheran: “Situasi Terkendali”

Pemerintah Iran bersikeras situasi masih berada di bawah kendali. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuding Israel dan AS sebagai dalang kekerasan, meski tanpa bukti konkret.

Namun, juru bicara Kemenlu Iran Esmail Baghaei mengakui bahwa saluran komunikasi dengan AS tetap terbuka.

Ia menegaskan bahwa setiap negosiasi harus dilakukan atas dasar kepentingan bersama, bukan tekanan sepihak.

Rial Jatuh, Masa Depan Iran di Persimpangan

Kolapsnya mata uang Iran bukan sekadar krisis ekonomi, melainkan krisis kepercayaan nasional. Ketika inflasi tak terkendali, protes meluas, dan tekanan global meningkat, masa depan Iran kini berada di persimpangan paling genting dalam beberapa dekade terakhir.

Tanpa reformasi ekonomi mendasar, perbaikan hubungan internasional, dan stabilitas politik domestik, kejatuhan rial berpotensi menjadi awal dari krisis yang lebih besar, baik bagi Iran maupun stabilitas kawasan Timur Tengah.

Mau Diskusi Project Baru?

Contact Us