FYP
Media
Memuat Halaman...
0%
Gejolak Global! Investor Ramai-ramai Jual Aset AS Imbas Ambisi Trump

News

Gejolak Global! Investor Ramai-ramai Jual Aset AS Imbas Ambisi Trump

Writer: Raodatul - Selasa, 20 Januari 2026 17:47:28

Gejolak Global! Investor Ramai-ramai Jual Aset AS Imbas Ambisi Trump
Sumber gambar: Ilustrasi Dollar/Freepik

FYPMedia.id - Pasar keuangan global kembali diguncang sentimen geopolitik setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka mengumumkan rencana kontroversial untuk mencaplok Greenland. 

Pernyataan tersebut tidak hanya memicu ketegangan diplomatik dengan Eropa, tetapi juga langsung berdampak ke pasar finansial dunia, ditandai dengan munculnya kembali gerakan “Jual Amerika” (Sell America).

Aksi ini tercermin dari pelemahan dolar AS, tekanan pada pasar saham, hingga meningkatnya kehati-hatian investor terhadap surat utang pemerintah Amerika Serikat. 

Kekhawatiran akan eskalasi konflik geopolitik, ketidakpastian kebijakan ekonomi, dan erosi kepercayaan global terhadap kepemimpinan AS menjadi faktor utama yang mendorong arus keluar modal.

Ambisi Trump Caplok Greenland Jadi Pemicu Sentimen Negatif

Dalam pernyataannya beberapa waktu lalu, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa Greenland memiliki nilai strategis tinggi bagi keamanan nasional Amerika Serikat. 

Bahkan, Trump secara terbuka menyatakan tidak segan-segan menjatuhkan tarif baru terhadap negara-negara Uni Eropa yang menentang rencana tersebut.

Sikap keras ini langsung menimbulkan kekhawatiran di pasar keuangan global. Investor menilai kebijakan agresif tersebut berpotensi memperburuk hubungan dagang internasional, memperpanjang ketegangan geopolitik, dan menciptakan ketidakpastian jangka panjang bagi stabilitas ekonomi dunia.

Baca Juga: Tarif Impor Donald Trump Siap Mengguncang Dunia Teknologi: Harga iPhone Bisa Naik 40%!

Gerakan “Jual Amerika” Kembali Menguat

Tak lama setelah pernyataan Trump, pasar mulai menunjukkan reaksi negatif. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih terhadap berbagai instrumen keuangan AS, mulai dari saham hingga obligasi pemerintah.

Fenomena ini dikenal sebagai gerakan “Jual Amerika”, yakni strategi investor global untuk mengurangi eksposur terhadap aset-aset AS akibat meningkatnya risiko politik dan ekonomi.

Tekanan tersebut langsung tercermin pada pergerakan indeks dolar AS yang turun sekitar 0,1 persen. Pelemahan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap stabilitas mata uang cadangan dunia tersebut.

Bukan Pertama Kali Terjadi

Gerakan “Jual Amerika” sejatinya bukan hal baru. Pada April tahun lalu, fenomena serupa sempat terjadi ketika Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif impor baru terhadap puluhan negara.

Kala itu, pasar bereaksi keras. Saham AS terkoreksi tajam, harga obligasi pemerintah melemah, dan dolar AS mengalami tekanan signifikan di pasar valuta asing. 

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa kebijakan proteksionis dan agresif dapat dengan cepat menggerus kepercayaan investor global.

Analis: Kepercayaan terhadap AS Mulai Tergerus

Market Analyst IG, Tony Sycamore, menilai bahwa aksi jual aset AS kali ini tidak semata dipicu oleh isu Greenland, tetapi juga oleh kekhawatiran yang lebih luas terkait arah kepemimpinan dan kebijakan geopolitik Amerika Serikat.

Menurutnya, ketidakpastian yang berkepanjangan telah mendorong investor global untuk meninjau ulang posisi mereka terhadap aset berbasis dolar.

"Meskipun ada harapan bahwa pemerintahan AS mungkin segera meredakan ancaman-ancaman ini, seperti yang telah dilakukan dengan pengumuman tarif sebelumnya, jelas bahwa mengamankan Greenland tetap menjadi tujuan keamanan nasional utama bagi pemerintahan saat ini," ungkap Tony dikutip dari Reuters, Selasa (20/1/2026).

Tony juga menyoroti bahwa fenomena ini sejalan dengan tren dedolarisasi yang semakin menguat di berbagai negara, terutama di tengah meningkatnya penggunaan mata uang alternatif dalam perdagangan internasional.

Baca Juga: Oposisi Venezuela Hadiahkan Nobel Perdamaian ke Trump, Komite Nobel Tegaskan Tak Bisa Dialihkan

Imbal Hasil Obligasi AS Jadi Sorotan

Di tengah gejolak tersebut, pasar obligasi AS juga berada dalam tekanan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat berada di level 4,2586%, mencerminkan kehati-hatian investor terhadap risiko jangka panjang.

Meski demikian, mayoritas pelaku pasar masih memperkirakan kebijakan moneter AS akan tetap stabil dalam waktu dekat. 

Sebanyak 94,5% responden memprediksi Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuannya.

Namun, ketidakpastian geopolitik dinilai tetap menjadi faktor risiko utama yang berpotensi mengubah arah pasar secara cepat.

Dolar AS Melemah terhadap Mata Uang Utama Dunia

Data Bloomberg menunjukkan bahwa dolar AS mengalami pelemahan terhadap sejumlah mata uang utama dunia. 

Terhadap yen Jepang, dolar AS turun sekitar 0,04%. Sementara itu, nilai tukar dolar juga melemah terhadap dolar Kanada (CAD) sebesar 0,14% dan terhadap franc Swiss (CHF) sebesar 0,18%.

Pelemahan ini mengindikasikan bahwa investor mulai mencari aset lindung nilai (safe haven) di luar dolar AS, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan luar negeri AS.

Risiko Geopolitik dan Dedolarisasi Menguat

Para analis menilai bahwa kombinasi antara kebijakan agresif Trump, ancaman perang dagang baru, dan meningkatnya rivalitas geopolitik global berpotensi mempercepat proses dedolarisasi.

Sejumlah negara mulai mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam transaksi perdagangan dan cadangan devisa mereka. Jika tren ini berlanjut, posisi dolar sebagai mata uang dominan dunia dapat semakin tertekan.

Baca Juga: Penangkapan Maduro oleh AS Guncang Dunia, Krisis Venezuela Memuncak

Dampak Global Tak Terelakkan

Gejolak yang dipicu oleh rencana pencaplokan Greenland ini tidak hanya berdampak pada pasar AS, tetapi juga berpotensi merembet ke pasar global, termasuk negara berkembang.

Investor global cenderung bersikap lebih defensif, mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, serta mengurangi eksposur terhadap pasar berisiko tinggi.

Kesimpulan: Pasar Menanti Kepastian

Rencana kontroversial Donald Trump untuk mencaplok Greenland telah menjadi katalis kuat yang memicu kembali aksi “Jual Amerika”. 

Pelemahan dolar AS, tekanan pada obligasi pemerintah, serta meningkatnya kekhawatiran investor menjadi sinyal bahwa pasar global tengah berada dalam fase waspada.

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati langkah lanjutan pemerintahan AS, khususnya apakah ancaman tarif dan kebijakan agresif tersebut benar-benar direalisasikan atau justru diredam demi menjaga stabilitas global.

Mau Diskusi Project Baru?

Contact Us