FYP
Media
Memuat Halaman...
0%
Ancaman PHK Kian Nyata, Ini Strategi Dana Darurat Agar Tetap Bertahan

News

Ancaman PHK Kian Nyata, Ini Strategi Dana Darurat Agar Tetap Bertahan

Writer: Raodatul - Sabtu, 24 Januari 2026 14:56:41

Ancaman PHK Kian Nyata, Ini Strategi Dana Darurat Agar Tetap Bertahan
Sumber gambar: Ilustrasi PHK/Freepik

FYPMedia.id - Tekanan ekonomi yang semakin berat membuat ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) bukan lagi sekadar isu, melainkan kenyataan yang menghantui banyak pekerja, khususnya kelas menengah di Indonesia. 

Ketika lapangan kerja baru semakin menipis dan daya beli terus tergerus, satu pertanyaan krusial pun muncul: apa yang harus disiapkan jika tiba-tiba kehilangan pekerjaan dan tidak memiliki uang cadangan?

Situasi ini bukan sekadar kekhawatiran berlebihan. Data resmi menunjukkan bahwa risiko PHK memang meningkat dan berdampak luas, membuat kesiapan finansial menjadi kebutuhan mendesak, bukan lagi pilihan.

Lonjakan PHK Tekan Kelas Menengah

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat jumlah pekerja yang mengalami PHK sepanjang tahun 2025 telah mencapai 88.519 orang. Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode Januari–Desember 2024 yang tercatat sebanyak 77.965 orang.

Perlu dicatat, data tersebut hanya mencakup pekerja yang terdaftar sebagai peserta program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) BPJS Ketenagakerjaan. 

Artinya, jumlah tersebut belum termasuk pekerja sektor informal, pekerja kontrak tertentu, maupun mereka yang tidak memiliki perlindungan JKP.

Kondisi ini menunjukkan bahwa risiko kehilangan penghasilan jauh lebih besar daripada yang tercermin di data resmi. Bagi kelas menengah dengan pendapatan pas-pasan dan pengeluaran yang ketat, kehilangan pekerjaan dapat langsung mengguncang stabilitas keuangan keluarga.

Baca Juga: Amazon PHK 100 Karyawan Lagi: Efisiensi atau Krisis?

Dana Darurat Jadi Tameng Utama Saat Krisis

Di tengah ketidakpastian ekonomi dan ancaman PHK, kepemilikan dana darurat menjadi fondasi penting bagi ketahanan finansial masyarakat. 

Dana darurat berfungsi sebagai bantalan keuangan saat terjadi kondisi tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, sakit, atau musibah lainnya.

Perencana keuangan dari Tatadana Consulting, Tejasari, menegaskan bahwa dana darurat memiliki peran vital dalam menjaga kelangsungan hidup finansial seseorang saat krisis.

"Dana darurat, memang digunakan untuk kebutuhan darurat, musibah, bencana, yang mungkin terjadi dalam kehidupan kita. Ketika ada masalah dan kita perlu uang cepat, maka dana darurat akan sangat menolong kita untuk melewati masa sulit itu," kata Tejasari, dikutip dari detikcom, Sabtu (24/1/2026).

Tanpa dana darurat, seseorang yang terkena musibah atau PHK biasanya tidak memiliki banyak pilihan selain berutang. Dalam jangka panjang, hal ini justru berpotensi memperburuk kondisi keuangan.

"Hal ini akan menjadi lebih parah lagi, kalau keuangan kita saat itu sudah memiliki banyak utang, bahkan blacklist. Sehingga akan berat untuk menambah utang," terang Tejasari.

Berapa Ideal Dana Darurat yang Harus Dimiliki?

Besaran dana darurat sering menjadi pertanyaan utama, terutama bagi masyarakat kelas menengah yang merasa penghasilannya sudah habis untuk kebutuhan bulanan.

Secara teori, Tejasari menyarankan dana darurat minimal sebesar tiga kali pengeluaran bulanan. Jumlah ini dinilai cukup untuk menopang kebutuhan hidup dasar dalam jangka pendek.

"Secara teori kebutuhan dana darurat adalah tiga kali pengeluaran bulanan. Misalnya gaji kita Rp 5 juta, kita tabung Rp 500 ribu dan pengeluaran bulanan Rp 4,5 juta. Maka dana darurat disarankan minimal Rp 4,5 juta kali 3, sama dengan Rp 13,5 juta," jelasnya.

Pendekatan ini memberikan ruang bagi seseorang untuk bertahan sambil mencari pekerjaan baru atau menyesuaikan kondisi keuangan.

Pandangan senada disampaikan Perencana Keuangan Eko Endarto. Ia menilai bahwa semakin tinggi ketidakpastian ekonomi, semakin besar pula urgensi memiliki dana darurat.

Menurut Eko, kebutuhan dana darurat sebaiknya disesuaikan dengan sumber penghasilan masing-masing individu.

"Agak berbeda-beda, untuk karyawan yang bekerja minimal 3 bulan sampai 6 bulan. Sedangkan untuk pengusaha minimal 12 bulan pengeluaran bulanan," papar Eko.

Artinya, pekerja dengan pendapatan tetap dianjurkan memiliki dana darurat setara 3–6 bulan pengeluaran, sementara pelaku usaha yang penghasilannya fluktuatif membutuhkan cadangan yang lebih besar.

Baca Juga: Gaji Habis Tengah Bulan? Ini Strategi Ampuh Bangun Dana Darurat Aman

Tantangan Kelas Menengah: Gaji Habis untuk Hidup

Salah satu hambatan terbesar dalam membangun dana darurat adalah keterbatasan sisa pendapatan. Banyak pekerja kelas menengah mengaku penghasilan bulanan mereka habis untuk kebutuhan pokok, cicilan, dan biaya hidup lainnya.

Namun, menurut Tejasari, keterbatasan bukan alasan untuk tidak memulai. Kunci utamanya adalah konsistensi, bukan nominal besar.

"Tetapkan berapa besar sih yang bisa kita sisihkan setiap bulan. Secara teori sebaiknya 10%, tapi kalau sering habis, cuma bisa 1% nggak apalah yang penting kita mulai," tuturnya.

Ia menekankan bahwa dana darurat dapat dikumpulkan secara bertahap tanpa harus memaksakan diri mencapai target besar dalam waktu singkat.

"Misalnya gaji Rp 5 juta, kita hanya bisa sisihkan Rp 50 ribu, nggak apa, yang penting kita mulai. Pisahkan di awal gajian langsung Rp 50 ribu, dan pisahkan di tabungan lain atau investasikan misalnya di tabungan emas atau reksadana pasar uang," terangnya.

Jika kebiasaan menabung sudah terbentuk dan kondisi keuangan mulai stabil, nominal tabungan dapat ditingkatkan secara perlahan.

"Kita coba beberapa bulan, kalau ini lancar dan berjalan lancar, yuk kita tambah sedikit lagi menjadi Rp 100 ribu. Lakukan secara bertahap sampai ini bisa menjadi kebiasaan yang baik dan bisa kita teruskan," sambung Tejasari.

Sisihkan di Awal, Bukan Sisa di Akhir

Eko Endarto juga menegaskan pentingnya menyisihkan dana darurat di awal saat menerima pendapatan, bukan menunggu sisa uang di akhir bulan.

Menurutnya, metode ini lebih efektif karena memaksa seseorang menyesuaikan gaya hidup dengan sisa anggaran yang ada.

Eko menyarankan besaran dana yang disisihkan sekitar 10% dari penghasilan bulanan.

"Mulai dengan sisihkan 10% dari penghasilan bulanan sampai terkumpul dana sesuai yang dibutuhkan," tegasnya.

Pendekatan ini membantu membangun disiplin finansial dan mengurangi risiko dana habis untuk konsumsi yang tidak mendesak.

Baca Juga: PT Sritex Resmi Tutup, 8.400 Karyawan Terkena PHK Massal

Dana Darurat Bukan Investasi Berisiko Tinggi

Para perencana keuangan sepakat bahwa dana darurat sebaiknya ditempatkan pada instrumen yang likuid dan rendah risiko. Tujuannya agar dana tersebut dapat diakses dengan cepat saat dibutuhkan.

Instrumen yang umum digunakan antara lain:

  • Tabungan terpisah
  • Deposito jangka pendek
  • Reksadana pasar uang
  • Tabungan emas yang mudah dicairkan

Dana darurat tidak disarankan ditempatkan pada instrumen berisiko tinggi seperti saham, karena nilainya bisa turun saat kondisi pasar bergejolak—justru di saat dana tersebut dibutuhkan.

PHK Bisa Datang Tanpa Peringatan

Lonjakan PHK dalam beberapa tahun terakhir menjadi pengingat keras bahwa keamanan pekerjaan tidak lagi bisa dianggap pasti. 

Restrukturisasi perusahaan, tekanan global, hingga perubahan teknologi dapat memicu PHK massal tanpa banyak peringatan.

Dalam kondisi seperti ini, dana darurat bukan hanya penopang finansial, tetapi juga penjaga ketenangan mental. Seseorang dengan dana darurat memiliki waktu dan ruang untuk mengambil keputusan rasional, bukan keputusan panik.

Kesimpulan

Ancaman PHK yang semakin nyata menuntut kesiapan finansial yang lebih matang, terutama bagi kelas menengah Indonesia. 

Dana darurat menjadi kunci utama untuk bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi dan risiko kehilangan penghasilan.

Meski terasa berat, membangun dana darurat bisa dimulai dari nominal kecil dengan konsistensi tinggi. Seperti disarankan para perencana keuangan, yang terpenting bukan seberapa besar jumlahnya di awal, tetapi keberanian untuk memulai dan disiplin untuk melanjutkan.

Di tengah ekonomi yang tak menentu, dana darurat bukan lagi sekadar saran finansial, melainkan kebutuhan hidup yang krusial.

Mau Diskusi Project Baru?

Contact Us