FYP
Media
Memuat Halaman...
0%
Gaji Habis Tengah Bulan? Ini Strategi Ampuh Bangun Dana Darurat Aman

News

Gaji Habis Tengah Bulan? Ini Strategi Ampuh Bangun Dana Darurat Aman

Writer: Raodatul - Jumat, 23 Januari 2026 14:55:36

Gaji Habis Tengah Bulan? Ini Strategi Ampuh Bangun Dana Darurat Aman
Sumber gambar: Ilustrasi Terima Gaji/Freepik

FYPMedia.id - Fenomena gaji habis di tengah bulan masih menjadi masalah klasik yang dihadapi banyak pekerja kelas menengah di Indonesia. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, risiko pemutusan hubungan kerja (PHK), biaya hidup yang terus naik, hingga kejadian tak terduga seperti sakit atau kerusakan aset, membuat dana darurat menjadi kebutuhan yang tak bisa ditawar.

Namun ironisnya, justru kelompok kelas menengah, yang pendapatannya pas-pasan dan habis untuk kebutuhan rutin, sering kali menjadi kelompok paling rentan karena tidak memiliki bantalan keuangan yang memadai. 

Para perencana keuangan menilai, dana darurat kini bukan lagi sekadar opsi, melainkan tameng utama untuk bertahan di masa krisis.

Dana Darurat, Pelindung Finansial Saat Situasi Tak Terduga

Perencana keuangan dari Tatadana Consulting, Tejasari, menegaskan bahwa dana darurat adalah fondasi penting dalam perencanaan keuangan pribadi. 

Secara umum, ia menyarankan masyarakat memiliki dana darurat setidaknya tiga kali pengeluaran bulanan agar kondisi keuangan tetap aman ketika terjadi musibah.

"Secara teori kebutuhan dana darurat adalah 3 kali pengeluaran bulanan. Misalnya gaji kita Rp 5 juta, kita tabung Rp 500 ribu dan pengeluaran bulanan Rp 4,5 juta. Maka dana darurat disarankan minimal Rp 4,5 juta kali 3, sama dengan Rp 13,5 juta," jelas Tejasari, dilansir dari detikcom, Jumat (23/1/2026).

Dana ini berfungsi sebagai penyangga saat penghasilan terhenti atau muncul kebutuhan mendesak, tanpa harus berutang atau mengorbankan aset penting.

Baca Juga: Kenaikan UMP 2025: Berikut Ini Besaran Gaji di 38 Provinsi Indonesi

Realita Kelas Menengah: Niat Ada, Uang Tak Cukup

Meski idealnya dana darurat harus disiapkan sejak dini, kenyataannya banyak masyarakat kelas menengah kesulitan memulainya. Penghasilan bulanan sering kali habis untuk kebutuhan pokok, cicilan, dan biaya gaya hidup.

Tejasari menilai kondisi tersebut bukan alasan untuk menunda. Menurutnya, kunci utama bukan besarannya, melainkan konsistensi.

"Tetapkan berapa besar sih yang bisa kita sisihkan setiap bulan. Secara teori sebaiknya 10%, tapi kalau sering habis, cuma bisa 1% nggak apalah yang penting kita mulai," tuturnya.

Ia menekankan bahwa dana darurat dapat dikumpulkan secara bertahap, tanpa harus memaksakan target besar sejak awal.

Mulai dari Nominal Kecil, Bangun Kebiasaan Besar

Bagi pekerja dengan gaji pas-pasan, Tejasari menyarankan untuk memulai dari nominal sekecil apa pun, bahkan puluhan ribu rupiah. Yang terpenting, dana tersebut dipisahkan sejak awal menerima gaji.

"Misalnya gaji Rp 5 juta, kita hanya bisa sisihkan Rp 50 ribu, nggak apa, yang penting kita mulai. Pisahkan di awal gajian langsung Rp 50 ribu, dan pisahkan di tabungan lain atau investasikan misalnya di tabungan emas atau reksadana pasar uang," terangnya.

Setelah beberapa bulan berjalan dan dirasa lancar, jumlah tabungan bisa ditingkatkan secara perlahan.

"Kita coba beberapa bulan, kalau ini lancar dan berjalan lancar, yuk kita tambah sedikit lagi menjadi Rp 100 ribu. Lakukan secara bertahap sampai ini bisa menjadi kebiasaan yang baik dan bisa kita teruskan," sambung Tejasari.

Pendekatan bertahap ini dinilai efektif untuk membangun disiplin finansial tanpa mengorbankan kebutuhan pokok.

Dana Darurat Semakin Penting di Tengah Ancaman PHK

Pandangan serupa juga disampaikan oleh perencana keuangan Eko Endarto. Ia menilai dana darurat menjadi semakin krusial di tengah ketidakpastian ekonomi dan meningkatnya risiko PHK di berbagai sektor.

Menurut Eko, besaran dana darurat perlu disesuaikan dengan status pekerjaan seseorang.

"Agak berbeda-beda, untuk karyawan yang bekerja minimal 3 bulan sampai 6 bulan. Sedangkan untuk pengusaha minimal 12 bulan pengeluaran bulanan," papar Eko.

Artinya, pekerja formal disarankan memiliki dana darurat setara 3–6 bulan gaji, sementara pelaku usaha membutuhkan bantalan yang lebih besar karena penghasilan mereka cenderung fluktuatif.

Baca Juga: Tips Memulai Investasi dengan Dana Rp1 Juta untuk Pemula

Sisihkan di Awal, Bukan dari Sisa

Eko menekankan kesalahan umum yang sering dilakukan masyarakat adalah menunggu sisa uang di akhir bulan untuk ditabung. Padahal, cara tersebut hampir selalu gagal.

"Mulai dengan sisihkan 10% dari penghasilan bulanan sampai terkumpul dana sesuai yang dibutuhkan," tegasnya.

Menurutnya, pengeluaran konsumsi harus menyesuaikan sisa anggaran setelah dana darurat dipisahkan, bukan sebaliknya.

Fakta Literasi Keuangan: Banyak Orang Tak Siap Hadapi Krisis

Pentingnya dana darurat juga tercermin dari hasil survei OECD/INFE tahun 2020 tentang literasi keuangan orang dewasa. 

Survei tersebut menunjukkan bahwa 46% penduduk Indonesia hanya mampu bertahan selama satu minggu jika terjadi krisis keuangan.

Sebanyak 18% mampu bertahan satu bulan, 5,8% hingga tiga bulan, dan hanya 8,6% yang mampu bertahan lebih dari enam bulan. Angka ini menunjukkan betapa rapuhnya kondisi keuangan sebagian besar masyarakat tanpa dana darurat yang memadai.

Cara Praktis Mengumpulkan Dana Darurat dari Gaji Bulanan

Agar tidak sekadar wacana, berikut beberapa strategi praktis yang dapat diterapkan pekerja kelas menengah untuk membangun dana darurat secara realistis:

1. Catat pemasukan dan pengeluaran bulanan
Dengan pencatatan yang rapi, kamu bisa melihat pos pengeluaran yang bisa ditekan dan dialihkan ke dana darurat.

2. Pangkas pengeluaran tidak penting
Mengurangi frekuensi nongkrong, belanja impulsif, atau langganan yang jarang digunakan dapat membuka ruang tabungan yang signifikan.

3. Sisihkan langsung setelah gajian
 Jangan menunggu sisa uang. Sisihkan dana darurat di awal agar tidak terpakai.

4. Gunakan rekening khusus dana darurat
Memisahkan rekening membantu menghindari dana darurat terpakai untuk kebutuhan sehari-hari.

5. Atur cash flow sebelum menabung
 Perencanaan keuangan yang baik akan membuat tabungan terasa lebih ringan dan terkontrol.

6. Manfaatkan fitur gratis transfer
 Menghemat biaya admin transfer bisa menjadi tambahan dana darurat tanpa terasa.

7. Gunakan fitur autodebet
 Autodebet membantu menjaga konsistensi bagi mereka yang sering lupa menabung.

Dana Darurat Bukan Beban, Tapi Penyelamat

Para perencana keuangan sepakat bahwa dana darurat bukan beban tambahan, melainkan alat perlindungan finansial yang memberi rasa aman. 

Dalam kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, dana darurat dapat menjadi pembeda antara krisis sementara dan masalah keuangan jangka panjang.

Bagi kelas menengah, langkah kecil yang dilakukan secara konsisten jauh lebih penting daripada menunggu kondisi ideal yang belum tentu datang. 

Mulai dari sekarang, berapa pun nominalnya, dana darurat adalah investasi terbaik untuk ketenangan masa depan.

Mau Diskusi Project Baru?

Contact Us