Writer: Raodatul - Selasa, 20 Januari 2026 18:38:34
FYPMedia.id - Labuan Bajo kembali menghadapi ujian serius di tengah puncak musim liburan. Cuaca ekstrem berupa hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi membuat aktivitas pelayaran wisata di perairan Labuan Bajo dan sekitarnya kembali dihentikan.
Otoritas pelabuhan resmi memperpanjang larangan berlayar bagi seluruh kapal wisata hingga 27 Januari 2026.
Kebijakan ini bukan keputusan mendadak. Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo menilai kondisi cuaca dan perairan masih berisiko tinggi bagi keselamatan pelayaran, khususnya kapal wisata yang membawa wisatawan menuju kawasan Taman Nasional Komodo, salah satu destinasi super prioritas Indonesia.
Larangan Berlayar Kembali Diperpanjang
Sebelumnya, KSOP Labuan Bajo telah menutup pelayaran kapal wisata sejak 14 Januari hingga 20 Januari 2026. Namun, berdasarkan evaluasi terbaru dan informasi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), penutupan tersebut kembali diperpanjang selama sepekan.
"Benar (larangan pelayaran kapal wisata diperpanjang hingga 27 Januari)," kata Kepala KSOP Kelas III Labuan Bajo, Stephanus Risdiyanto, dikutip dari detikcom, Selasa (20/1/2026).
Larangan ini mencakup seluruh kapal wisata, mulai dari kapal pinisi hingga speedboat, yang biasa melayani perjalanan wisatawan menuju Pulau Komodo, Padar, Pink Beach, dan sejumlah destinasi laut lainnya di sekitar Labuan Bajo.
Cuaca Buruk dan Gelombang Tinggi Jadi Ancaman Serius
Keputusan memperpanjang penutupan pelayaran diambil setelah mempertimbangkan prakiraan cuaca maritim dari BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Tenau Kupang, serta hasil pengamatan langsung kondisi perairan oleh petugas lapangan.
Stephanus menegaskan bahwa keselamatan pelayaran menjadi prioritas utama. Risiko gelombang tinggi dan angin kencang dinilai masih terlalu besar untuk diabaikan.
"Maka pelayanan surat persetujuan berlayar untuk semua kapal wisata termasuk speedboat ditutup sementara tanggal 20–27 Januari atau sampai cuaca membaik kembali berdasarkan informasi dari BMKG," imbuhnya.
Baca Juga: Liburan Aman dan Nyaman! Tips Traveling Bebas Gangguan Pencernaan
Sudah Lebih dari Sebulan Kapal Wisata Terhenti
Dengan perpanjangan terbaru ini, total penutupan pelayaran kapal wisata di Labuan Bajo telah berlangsung lebih dari satu bulan, terhitung sejak 26 Desember 2025.
Selama periode tersebut, pelayaran sempat dibuka terbatas selama tiga hari, yakni pada 9–11 Januari 2026, sebelum kembali ditutup pada 12 Januari akibat memburuknya cuaca.
Situasi ini membuat banyak pelaku wisata harus menunda operasional, sementara wisatawan terpaksa mengubah atau membatalkan rencana perjalanan laut mereka.
Data BMKG: Gelombang Capai 1,2 Meter
Data prakiraan cuaca maritim yang dirilis BMKG menunjukkan kondisi perairan Labuan Bajo masih cukup menantang. Pada periode 14–15 Januari 2026, tinggi gelombang signifikan mencapai 0,80 hingga 1,20 meter, masuk kategori rendah hingga sedang, namun tetap berbahaya bagi kapal kecil dan kapal wisata.
Arah angin dominan bertiup dari Barat (W) dan Barat Laut (NW) dengan kecepatan 6–13 knot, bahkan dapat meningkat hingga 23 knot saat angin kencang.
Pada periode 15–17 Januari 2026, kondisi diperkirakan sedikit membaik, tetapi angin masih berpotensi bertiup hingga 25 knot, sehingga risiko pelayaran tetap tinggi.
Perairan TN Komodo Lebih Tenang, Tapi Tetap Diwaspadai
Meski data BMKG menunjukkan perairan di kawasan Taman Nasional Komodo relatif lebih tenang dengan tinggi gelombang hanya 0,20–0,40 meter, KSOP tetap memberlakukan larangan total.
Hal ini disebabkan cuaca ekstrem bersifat dinamis dan dapat berubah cepat, terutama di wilayah perairan terbuka yang menghubungkan Labuan Bajo dengan pulau-pulau wisata.
Baca Juga: 6 Kota Teraman di Eropa 2025, Bebas Copet & Nyaman untuk Solo Traveler!
Maklumat Pelayaran dan Instruksi Ketat KSOP
KSOP Labuan Bajo telah menerbitkan maklumat pelayaran tentang peringatan cuaca ekstrem yang ditujukan kepada seluruh nakhoda dan operator kapal. Dalam maklumat tersebut, KSOP mengeluarkan sejumlah instruksi penting, antara lain:
- Nakhoda wajib memastikan kelayakan kapal sebelum berlayar
- Kapal yang berada di laut harus segera mencari tempat berlindung jika cuaca memburuk
- Berbagi informasi cuaca dan kondisi bahaya dengan kapal lain di sekitar
- Menyesuaikan rute atau melakukan labuh di area aman
- Melakukan koordinasi dengan KSOP dan Basarnas jika terjadi situasi darurat
"Lakukan koordinasi dengan syahbandar dan Badan SAR Nasional (Basarnas) jika menghadapi situasi darurat akibat cuaca," tulis KSOP dalam maklumatnya.
Keselamatan Wisatawan Jadi Prioritas Utama
Larangan berlayar ini memang berdampak besar terhadap sektor pariwisata Labuan Bajo. Namun, otoritas pelabuhan menegaskan bahwa kebijakan tersebut diambil demi mencegah risiko kecelakaan laut yang dapat mengancam nyawa wisatawan dan awak kapal.
Sejumlah insiden kecelakaan laut akibat cuaca buruk di berbagai wilayah Indonesia menjadi pengingat bahwa keputusan menghentikan pelayaran adalah langkah preventif yang krusial.
Dampak ke Industri Pariwisata
Penutupan pelayaran kapal wisata berdampak langsung pada:
- Operator kapal pinisi dan speedboat
- Pemandu wisata laut
- Agen perjalanan dan hotel
- UMKM wisata di pulau-pulau sekitar
Meski demikian, banyak pelaku wisata menyatakan memahami keputusan KSOP dan berharap cuaca segera membaik agar aktivitas pelayaran bisa kembali normal.
Baca Juga: 5 Tips Cerdas Gunakan AI Rencana Liburan Tanpa Boncos & Jebakan
Pelayaran Dibuka Jika Cuaca Sudah Aman
KSOP Labuan Bajo menegaskan bahwa pelayaran akan kembali dibuka setelah BMKG menyatakan kondisi cuaca dan perairan telah aman untuk aktivitas laut. Hingga saat itu, seluruh kapal wisata dilarang berlayar tanpa pengecualian.
Wisatawan yang berencana mengunjungi Labuan Bajo diimbau untuk selalu memantau informasi resmi dari KSOP dan BMKG, serta menyiapkan rencana alternatif selama pelarangan berlangsung.
Kesimpulan: Keputusan Sulit Demi Keselamatan
Perpanjangan larangan pelayaran kapal wisata di Labuan Bajo hingga 27 Januari 2026 menjadi bukti bahwa keselamatan tetap menjadi prioritas utama di tengah cuaca ekstrem yang tak menentu. Meski berdampak pada pariwisata, langkah ini dinilai penting untuk mencegah risiko fatal di laut.
Dengan cuaca yang semakin sulit diprediksi akibat perubahan iklim, koordinasi antara otoritas, pelaku wisata, dan wisatawan menjadi kunci agar Labuan Bajo tetap aman, berkelanjutan, dan siap bangkit kembali saat kondisi membaik.