Writer: Raodatul - Jumat, 02 Januari 2026 14:38:45
FYPMedia.id - Kontribusi pasar modal Indonesia terhadap perekonomian nasional terus menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kontribusi pasar modal terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia melonjak menjadi 72 persen pada akhir 2025, meningkat tajam dibandingkan posisi 56 persen pada 2024.
Meski demikian, capaian tersebut dinilai masih belum optimal jika dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia.
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar secara terbuka membandingkan kinerja pasar modal Indonesia dengan India, Thailand, dan Malaysia yang kontribusinya terhadap PDB jauh lebih besar.
"Angka itu masih berada di bawah negara-negara di kawasan kita seperti India 140%, Thailand 101%, dan Malaysia 97% dari PDB mereka masing-masing. Yang artinya, potensi pengembangan masih lebih besar lagi," ungkap Mahendra dalam sambutannya pada pembukaan perdagangan di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (2/1/2026).
Pasar Modal RI Tumbuh Pesat, Tapi Masih Punya Ruang Besar
Mahendra menilai, meskipun kontribusi pasar modal Indonesia belum setara dengan negara-negara pembanding, tren pertumbuhannya menunjukkan arah yang sangat positif.
Kenaikan dari 56 persen menjadi 72 persen dalam satu tahun mencerminkan meningkatnya peran pasar modal sebagai sumber pembiayaan ekonomi nasional.
Menurut OJK, perkembangan ini tidak terlepas dari membaiknya kepercayaan investor, stabilitas makroekonomi, serta semakin luasnya partisipasi masyarakat dalam instrumen pasar modal seperti saham, reksa dana, dan obligasi.
Namun, Mahendra menegaskan bahwa perbandingan dengan India, Thailand, dan Malaysia justru memperlihatkan besarnya potensi laten yang masih bisa digarap oleh Indonesia.
India, misalnya, telah berhasil menjadikan pasar modal sebagai salah satu tulang punggung utama pembiayaan ekonomi dengan rasio kapitalisasi pasar terhadap PDB mencapai sekitar 140 persen.
Thailand dan Malaysia juga mencatat rasio di atas 95 persen, menunjukkan kedalaman pasar yang lebih matang.
Baca Juga: BEI Cabut Suspensi 4 Saham Hari Ini: Ini Daftar Emiten dan Dampaknya!
Investor Ritel Jadi Kekuatan Unik Pasar Modal Indonesia
Di balik ketertinggalan rasio kontribusi terhadap PDB, Mahendra menyoroti satu keunggulan utama pasar modal Indonesia yang jarang dimiliki negara lain, yakni dominan dan aktifnya investor ritel.
OJK mencatat porsi transaksi investor ritel di pasar modal Indonesia melonjak drastis sepanjang 2025.
"Porsi transaksi investor retail meningkat pesat dari 38% di akhir tahun 2024 menjadi 50% berdasarkan data terakhir dan proporsi ini sangat besar dibandingkan negara-negara lainnya," ujar Mahendra.
Dominasi investor ritel ini mencerminkan semakin luasnya literasi dan inklusi keuangan di Indonesia.
Generasi muda, khususnya investor milenial dan Gen Z, menjadi motor utama pertumbuhan jumlah investor pasar modal dalam beberapa tahun terakhir.
OJK menilai fenomena ini sebagai fondasi penting bagi penguatan pasar modal jangka panjang, meski di sisi lain juga menuntut peningkatan edukasi dan perlindungan investor agar risiko dapat dikelola secara sehat.
IHSG Melonjak Tajam, Cerminan Kepercayaan Pasar
Dari sisi kinerja indeks, pasar saham Indonesia mencatat pencapaian impresif sepanjang 2025. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 8.646,94 pada akhir perdagangan 30 Desember 2025, menguat 22,13 persen sepanjang tahun.
Mahendra menilai lonjakan IHSG tersebut mencerminkan kinerja pasar modal yang solid dan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang tetap terjaga di tengah dinamika global.
Penguatan IHSG juga ditopang oleh sejumlah faktor, mulai dari stabilitas inflasi, kebijakan moneter yang terjaga, hingga ekspektasi positif terhadap pertumbuhan sektor riil dan investasi.
Baca Juga: 5 Manfaat Investasi Emas di Usia 20-an, Biar Masa Depan Nggak Cuma Wacana!
LQ45 Tertinggal, Alarm bagi Investor Institusional
Meski IHSG mencatat kenaikan signifikan, Mahendra mengingatkan bahwa tidak semua indikator pasar bergerak selaras. Indeks LQ45, yang berisi saham-saham unggulan dan menjadi acuan utama investor institusional global maupun domestik, justru hanya tumbuh 2,41 persen sepanjang 2025.
"Kita juga melihat bahwa masih banyak ruang perbaikan yang harus dilakukan. Indeks LQ45 yang berisi saham-saham perusahaan terbesar dan menjadi rujukan investasi fund manager global maupun domestik hanya tumbuh 2,41% jauh di bawah kenaikan IHSG," imbuh Mahendra.
Perbedaan kinerja antara IHSG dan LQ45 ini menunjukkan adanya ketimpangan pertumbuhan antar segmen saham. Saham lapis dua dan tiga relatif lebih aktif dan menjadi favorit investor ritel, sementara saham-saham besar cenderung bergerak lebih terbatas.
OJK menilai kondisi ini sebagai sinyal perlunya pendalaman pasar, peningkatan likuiditas saham-saham unggulan, serta penguatan fundamental emiten besar agar tetap menarik bagi investor institusional jangka panjang.
BEI Pasang Target Ambisius: Top 10 Bursa Dunia
Sejalan dengan optimisme regulator, Bursa Efek Indonesia (BEI) memasang target besar untuk lima tahun ke depan. Dalam Masterplan BEI 2026–2030, BEI menargetkan Indonesia masuk ke jajaran 10 besar bursa efek dunia.
Direktur Utama BEI Iman Rachman menyatakan target tersebut realistis dan dapat dicapai, baik dari sisi kapitalisasi pasar maupun nilai transaksi perdagangan.
"Harapannya Indonesia dapat masuk ke jajaran top 10 bursa dunia berdasarkan kapitalisasi pasar atau nilai transaksi sekaligus memberikan manfaat optimal bagi investor, emiten, dan perekonomian nasional," jelas Iman dalam acara pembukaan perdagangan di Main Hall BEI, Jakarta, Jumat (2/12/2025).
Target ambisius ini mencerminkan kepercayaan diri BEI terhadap prospek jangka panjang pasar modal Indonesia, terutama dengan dukungan demografi yang kuat dan potensi ekonomi yang besar.
Baca Juga: JIBOR Resmi Dihapus 2026, BI Beralih ke IndoNIA sebagai Acuan Baru
Target RNTH Rp15 Triliun pada 2026
Selain mengejar peringkat global, BEI juga menetapkan target konkret untuk meningkatkan aktivitas perdagangan.
Salah satunya adalah target Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) yang dipatok mencapai Rp15 triliun pada 2026.
Iman menyebut target tersebut disusun dengan mempertimbangkan kondisi makroekonomi nasional dan global, termasuk proyeksi pertumbuhan ekonomi, suku bunga, serta stabilitas sistem keuangan.
Peningkatan RNTH diharapkan tidak hanya mencerminkan tingginya minat investor, tetapi juga semakin dalam dan likuidnya pasar modal Indonesia.
Tantangan dan Strategi ke Depan
Meski prospek pasar modal Indonesia dinilai cerah, sejumlah tantangan masih harus dihadapi. Di antaranya adalah ketimpangan likuiditas, dominasi saham tertentu, serta perlunya memperluas basis investor institusional domestik seperti dana pensiun dan asuransi.
OJK dan BEI menegaskan komitmen untuk terus memperkuat regulasi, pengawasan, serta edukasi investor. Tujuannya agar pertumbuhan pasar modal tidak hanya cepat, tetapi juga berkelanjutan dan inklusif.
Perbandingan dengan India, Thailand, dan Malaysia menjadi pengingat bahwa Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang sangat besar.
Dengan populasi besar, ekonomi yang terus berkembang, dan basis investor ritel yang kuat, pasar modal Indonesia berpeluang menjadi kekuatan utama di kawasan Asia dalam satu dekade ke depan.