FYP Media.ID – Kisruh di balik layar film animasi Merah Putih One For All semakin memanas setelah produser utama, Toto Soegriwo, mengeluarkan bantahan tegas atas tudingan menerima dana Rp6,7 miliar dari Pemerintah. Tuduhan ini viral di media sosial dan menimbulkan gelombang kontroversi serta hujatan tanpa dasar terhadap tim produksi. Dalam klarifikasinya, Toto menyebut kabar tersebut sebagai fitnah keji yang merusak reputasi tanpa alasan.
1. Tuduhan Dana Rp6,7 Miliar yang Menggemparkan
Belakangan ini, film Merah Putih One For All menjadi sorotan tajam netizen karena kabar bahwa proyek animasi tersebut menerima dana Rp6,7 miliar dari Pemerintah untuk produksi. Angka besar ini langsung mengundang skeptisisme, terutama karena kualitas animasi yang dirasa tidak sebanding dengan dana yang disebutkan.
Beberapa warganet bahkan menilai trailer dan poster film itu tampak amatir, jauh dari ekspektasi film dengan bujet miliaran rupiah. Dugaan korupsi dan penyalahgunaan dana pun ramai diperbincangkan, meski tanpa bukti konkret.
2. Klarifikasi Tegas dari Produser Toto Soegriwo
Pada 11 Agustus 2025, Toto Soegriwo secara resmi angkat bicara lewat akun Twitter pribadinya. Dalam pernyataan tertulis, ia menolak semua tuduhan tersebut dengan tegas:
“Menanggapi tudingan yang beredar luas di media sosial mengenai dugaan penerimaan dana sebesar Rp6,7 miliar dari Pemerintah untuk produksi film Merah Putih One For All, saya, Toto Soegriwo, selaku produser dengan tegas menyatakan bahwa tuduhan tersebut tidak benar. Dan merupakan fitnah keji,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa dana sebesar itu tidak pernah diterima sama sekali oleh dirinya maupun tim produksi. Produser ini bahkan menekankan bahwa mereka tidak melakukan tindakan korupsi atau memanfaatkan uang haram, sebagaimana yang beredar dalam kabar tak berdasar itu.
3. Gelombang Hujatan dan Fitnah yang Tak Berhenti
Toto juga mengungkapkan rasa kecewanya terhadap gelombang hujatan, fitnah, dan serangan tanpa dasar yang menghantam dirinya dan tim. Ia mengajak masyarakat dan netizen untuk berhenti menyebarkan informasi tidak benar yang bisa merusak nama baik tim produksi.
“Sehubungan dengan hal ini, kami memohon kepada masyarakat dan warganet untuk tidak serta merta ikut menyebarkan informasi-informasi yang tidak benar, serta menghentikan segala bentuk hujatan, fitnah, dan serangan tanpa dasar,” kicau Toto.
Seruan ini penting agar publik lebih bijak dalam menyikapi informasi, terlebih saat isu yang muncul belum jelas kebenarannya.
4. Peran Kementerian Ekonomi Kreatif dalam Film
Selain klarifikasi produser, isu ini juga mendapat tanggapan resmi dari Wakil Menteri Ekonomi Kreatif RI, Irene Umar. Dalam unggahan Instagram Stories pada 10 Agustus 2025, Irene menyatakan bahwa pihaknya memang pernah melakukan audiensi dengan tim produksi film tersebut.
“Saya sendiri menerima audiensi tim produksi film beberapa waktu yang lalu di mana saya menyampaikan beberapa masukan, termasuk yang teknis terkait cerita, karakter, tampilan, trailer, dan lain-lain,” jelas Irene.
Namun, ia menegaskan secara jelas bahwa Kementerian Ekonomi Kreatif tidak memberikan bantuan finansial maupun fasilitas promosi kepada film Merah Putih One For All. Pernyataan ini mempertegas bantahan produser terkait dana Rp6,7 miliar.
5. Kontroversi Berkepanjangan yang Memanas
Kontroversi dana film Merah Putih One For All bukan hanya soal nominal Rp6,7 miliar, melainkan juga bagaimana publik menilai transparansi dan profesionalisme industri film animasi Indonesia. Banyak yang berharap proyek seperti ini bisa lebih terbuka dan memperlihatkan bukti pendanaan resmi.
Di tengah maraknya kabar tak terbukti, film ini menjadi contoh bagaimana isu dana publik bisa dengan cepat menyulut kontroversi dan menyeret reputasi pelaku industri seni. Isu ini juga mengingatkan pentingnya edukasi literasi digital supaya masyarakat tidak mudah terprovokasi hoaks.
6. Dampak Negatif bagi Tim Produksi dan Industri Kreatif
Dampak dari tuduhan ini sangat besar bagi tim produksi. Bukan hanya tekanan mental dari serangan dan hujatan netizen, tetapi juga potensi kerugian reputasi yang bisa mempengaruhi peluang kerja dan pendanaan di masa depan.
Produser Toto Soegriwo dan tim harus menghadapi tantangan ganda: membuktikan integritas sekaligus memperjuangkan karya mereka yang tengah dipersiapkan untuk dinikmati publik. Hal ini menjadi peringatan keras bagi seluruh pelaku industri kreatif untuk menjaga nama baik dan selalu berkomunikasi transparan.
7. Penutup: Ajakan Bijak Menyikapi Informasi
Kasus ini menjadi pelajaran penting bagi semua pihak agar lebih berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi, terutama yang berkaitan dengan dana publik dan proyek kreatif.
Sebagai masyarakat dan netizen yang cerdas, kita wajib mengedepankan prinsip verifikasi dan tidak mudah terjebak dalam berita bohong yang bisa menghancurkan nama baik seseorang atau sebuah karya.
Bagi pendukung film Merah Putih One For All, mari kita hargai perjuangan kreator lokal dan menanti karya mereka dengan sikap positif dan kritis sekaligus.