Writer: Raodatul - Sabtu, 17 Januari 2026 15:43:57
FYPMedia.id - Kebijakan perdagangan Amerika Serikat kembali menjadi sorotan dunia. Presiden AS Donald Trump secara resmi memberlakukan tarif impor sebesar 25% terhadap sejumlah chip semikonduktor canggih, termasuk chip kecerdasan buatan (AI) buatan Nvidia dan produk sejenis dari Advanced Micro Devices (AMD).
Langkah agresif ini dinilai akan mengguncang rantai pasok industri teknologi global, sekaligus menandai babak baru proteksionisme sektor strategis Amerika.
Tarif baru tersebut tertuang dalam perintah keamanan nasional yang dikeluarkan Gedung Putih dan ditandatangani Trump pada Rabu (14/1/2026). Kebijakan ini menyasar chip komputasi tingkat lanjut, termasuk chip AI Nvidia serta AMD MI325X, yang selama ini menjadi tulang punggung pengembangan kecerdasan buatan, komputasi awan, hingga riset teknologi mutakhir.
Melansir Reuters, Sabtu (17/1/2026), Gedung Putih menegaskan bahwa langkah ini diambil demi melindungi keamanan nasional Amerika Serikat, mengingat tingginya ketergantungan Negeri Paman Sam terhadap produksi semikonduktor di luar negeri.
Ketergantungan Asing Dinilai Ancaman Strategis
Dalam dokumen resmi perintah keamanan nasional tersebut, pemerintah AS secara gamblang menyoroti lemahnya kapasitas produksi chip domestik. Amerika Serikat dinilai berada dalam posisi rawan karena tidak mampu memenuhi kebutuhan semikonduktor secara mandiri.
"Amerika Serikat saat ini hanya mampu memproduksi sekitar 10% dari chip secara mandiri dari yang dibutuhkannya, sehingga sangat bergantung pada rantai pasokan asing. Ketergantungan itu merupakan risiko ekonomi dan keamanan nasional yang signifikan," tulis dokumen perintah keamanan nasional AS tersebut.
Meski perusahaan teknologi asal AS seperti Nvidia, AMD, dan Intel mendesain chip-chip paling canggih di dunia, realitanya sebagian besar chip tersebut diproduksi di luar negeri. Salah satu produsen utama adalah Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), perusahaan raksasa asal Taiwan yang menguasai pangsa besar produksi semikonduktor global.
Ketergantungan pada manufaktur luar negeri inilah yang kini ingin dipangkas oleh pemerintahan Trump melalui kebijakan tarif agresif.
Baca Juga: Harga Chip Melejit 60%: 7 Dampak Global dari Lonjakan Memori Samsung akibat AI
Tarif Selektif, Tak Semua Chip Kena Imbas
Meski terkesan keras, Gedung Putih menegaskan bahwa kebijakan tarif ini bersifat selektif dan terarah. Tidak semua chip dan produk turunannya akan dikenakan bea masuk 25%.
Dalam penjelasannya, pemerintah AS menyebutkan bahwa tarif tidak berlaku untuk chip yang diimpor untuk:
- Pengembangan pusat data di AS
- Kebutuhan perusahaan rintisan teknologi
- Aplikasi konsumen non–pusat data
- Aplikasi industri sipil non–pusat data
- Aplikasi sektor publik Amerika Serikat
Kebijakan ini menunjukkan bahwa Trump berupaya menyeimbangkan antara perlindungan industri strategis dan menjaga laju inovasi teknologi domestik.
Lebih lanjut, Gedung Putih memberikan kewenangan luas kepada Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick untuk menetapkan berbagai pengecualian tambahan terhadap produk tertentu jika dinilai krusial bagi kepentingan nasional.
Bagian dari Strategi Besar Trump Perkuat Manufaktur AS
Kebijakan tarif chip ini bukanlah langkah yang berdiri sendiri. Sejak kembali menjabat, Trump telah meluncurkan serangkaian kebijakan perdagangan agresif dengan satu tujuan utama: memulihkan dan memperkuat manufaktur Amerika Serikat.
Pada September sebelumnya, Trump mengumumkan rencana tarif impor besar-besaran, termasuk:
- Bea masuk 100% untuk obat-obatan bermerek
- Tarif 25% untuk truk berat
Kebijakan tersebut langsung memicu kekhawatiran baru di pasar global dan menciptakan ketidakpastian perdagangan internasional.
Tak hanya itu, pada April 2025, pemerintahan Trump juga membuka penyelidikan resmi terhadap impor obat-obatan dan semikonduktor.
Penyelidikan itu menjadi dasar hukum untuk mengenakan tarif tambahan, dengan alasan bahwa ketergantungan pada produksi luar negeri berpotensi melemahkan posisi strategis AS.
Potensi Tarif Lebih Luas Masih Mengintai
Menurut perintah keamanan nasional terbaru, kebijakan tarif 25% ini belum menjadi akhir. Trump disebut membuka peluang untuk menerapkan tarif yang lebih luas terhadap impor semikonduktor dan produk turunannya dalam waktu dekat.
Langkah tersebut bertujuan mendorong investasi besar-besaran di sektor manufaktur chip domestik, termasuk pembangunan fasilitas produksi baru di wilayah AS.
Namun, dokumen tersebut juga menegaskan bahwa tarif 25% untuk semikonduktor tidak akan ditumpuk dengan tarif lain yang sudah diberlakukan oleh pemerintahan Trump.
Tarif ini secara eksplisit dikecualikan dari:
- Bea masuk atas tembaga
- Aluminium
- Baja
- Suku cadang mobil dan truk
Klarifikasi ini dilakukan untuk menghindari beban berlapis yang berpotensi memicu inflasi harga produk teknologi di dalam negeri.
Nvidia dan AMD Jadi Sorotan Dunia
Masuknya Nvidia dan AMD ke dalam daftar chip yang dikenakan tarif langsung menjadi perhatian global. Nvidia, khususnya, saat ini menjadi pemain utama dalam ekosistem AI dunia, dengan chip-chipnya digunakan oleh perusahaan teknologi raksasa, pusat data, hingga institusi riset.
Chip AI Nvidia seperti H200 dan produk sejenis dari AMD dinilai sebagai komponen strategis yang menentukan keunggulan teknologi suatu negara.
Oleh karena itu, kebijakan tarif ini tidak hanya berdampak pada perdagangan, tetapi juga berpotensi memengaruhi peta persaingan teknologi global.
Channel News Asia mencatat bahwa kebijakan tarif ini secara eksplisit dikaitkan dengan agenda keamanan nasional AS.
“Amerika Serikat saat ini hanya sepenuhnya memproduksi sekitar 10% dari chip yang dibutuhkannya, sehingga sangat bergantung pada rantai pasokan asing. Ketergantungan pada rantai pasokan asing ini merupakan risiko ekonomi dan keamanan nasional yang signifikan,” demikian bunyi lembar fakta Gedung Putih, dikutip Kamis (15/1/2026).
Dampak Global dan Respons Pasar
Para analis menilai kebijakan ini berpotensi memicu respons balasan dari negara-negara produsen chip, terutama di Asia. Taiwan, Korea Selatan, hingga China diprediksi akan mencermati langkah Trump dengan sangat serius.
Selain itu, kebijakan ini juga dikhawatirkan dapat:
- Menaikkan biaya produksi teknologi global
- Memperlambat rantai pasok chip AI
- Mendorong fragmentasi industri semikonduktor dunia
Namun, bagi pemerintahan Trump, risiko tersebut dinilai sepadan demi tujuan jangka panjang: kemandirian teknologi Amerika Serikat.
Babak Baru Perang Teknologi?
Dengan diberlakukannya tarif 25% untuk chip AI canggih, Trump secara efektif mengirimkan pesan keras kepada dunia: industri semikonduktor bukan sekadar bisnis, melainkan aset strategis nasional.
Kebijakan ini berpotensi membuka babak baru dalam perang teknologi global, di mana negara-negara besar berlomba mengamankan rantai pasok chip mereka masing-masing.
Apakah langkah Trump akan berhasil memperkuat manufaktur chip AS atau justru memicu ketegangan ekonomi global baru, masih harus diuji oleh waktu. Namun satu hal pasti, keputusan ini telah mengubah lanskap industri semikonduktor dunia secara signifikan.