FYP
Media
Memuat Halaman...
0%
Risiko Kesehatan Pernikahan Dini, Ancaman Kanker Serviks Mengintai

News

Risiko Kesehatan Pernikahan Dini, Ancaman Kanker Serviks Mengintai

Writer: Raodatul - Sabtu, 10 Januari 2026 17:21:09

Risiko Kesehatan Pernikahan Dini, Ancaman Kanker Serviks Mengintai
Sumber gambar: Ilustrasi Menikah Dini/Freepik

FYPMedia.id - Pernikahan dini kembali menjadi topik hangat yang memicu perdebatan publik. Fenomena ini mencuat seiring viralnya sejumlah pernikahan figur muda di media sosial. Sebut saja pernikahan Gus Zizan dengan Kamila Asy Syifa, yang kala itu masing-masing berusia 19 dan 17 tahun. 

Tak lama berselang, seorang konten kreator bernama Azkiave juga menuai sorotan setelah memutuskan menikah di usia 19 tahun dengan pasangan yang berusia 29 tahun.

Respons publik pun terbelah. Sebagian mendukung dengan alasan kesiapan mental dan keyakinan pribadi, sementara yang lain mempertanyakan dampak jangka panjangnya, terutama dari sisi kesehatan. 

Di balik polemik tersebut, kalangan medis mengingatkan bahwa pernikahan dini bukan sekadar isu sosial dan budaya, melainkan juga persoalan serius terkait risiko kesehatan reproduksi perempuan, termasuk meningkatnya ancaman kanker serviks.

Pernikahan Dini dalam Sorotan Medis

Dari perspektif kesehatan, pernikahan dini kerap dikaitkan dengan dimulainya aktivitas seksual pada usia yang terlalu muda. Padahal, secara biologis dan medis, tubuh perempuan—khususnya organ reproduksi, belum sepenuhnya matang pada usia remaja.

Spesialis obstetri dan ginekologi dr Fedrik Monte Kristo, SpOG, menegaskan bahwa pernikahan di usia muda menyimpan berbagai risiko, baik dari sisi psikologis maupun medis. Namun, risiko paling besar justru terletak pada kesehatan seksual dan reproduksi perempuan.

"Di sisi medis di bagian kandungan, wanita yang menikah muda di bawah 19 tahun akan meningkatkan hubungan seksual yang terlalu dini atau terlalu cepat," terang dr Fedrik, dilansir dari detikcom, Sabtu (10/1/2026).

Hubungan seksual yang dimulai terlalu dini berpotensi menimbulkan berbagai komplikasi kesehatan. 

Salah satu risiko yang kerap luput dari perhatian adalah meningkatnya peluang terjadinya gangguan pada sistem reproduksi akibat kondisi organ yang belum siap menerima rangsangan maupun beban biologis seperti kehamilan.

Baca Juga: Bahaya Seks di Luar Nikah: Risiko Kesehatan, Psikologis, dan Sosial yang Harus Diketahui

Risiko Kehamilan Usia Muda: Perdarahan hingga Anemia

Pernikahan dini sering kali berujung pada kehamilan di usia remaja. Kondisi ini dinilai berisiko tinggi oleh dunia medis. 

Dalam ilmu obstetri dan ginekologi, usia ideal untuk hamil adalah di atas 20 tahun. Kehamilan di bawah usia tersebut belum dianggap aman secara medis.

Menurut dr Fedrik, wanita yang hamil di usia muda memiliki risiko lebih besar mengalami perdarahan, baik selama kehamilan maupun setelah melahirkan. Selain itu, komplikasi seperti anemia juga lebih sering terjadi.

"Wanita hamil di usia yang ideal saja punya potensi terjadi anemia. Di usia yang lebih muda, potensinya sangat tinggi bisa mencapai 60 persen," jelas dr Fedrik.

Ia menambahkan bahwa anemia pada ibu hamil usia remaja bukanlah kondisi sepele. Kekurangan zat besi dapat berdampak pada kesehatan ibu dan janin, mulai dari kelelahan ekstrem, gangguan pertumbuhan janin, hingga risiko persalinan prematur.

"Hal itu terjadi karena usianya masih terlalu muda dan belum siap untuk hamil, sehingga menyebabkan kondisi anemia," pungkasnya.

Dampak Serius bagi Ibu dan Bayi

Risiko kehamilan remaja tidak berhenti pada anemia. Dikutip dari laman Universitas Airlangga, kehamilan di usia remaja juga meningkatkan kemungkinan terjadinya preeklampsia, yakni kondisi tekanan darah tinggi yang berbahaya bagi ibu dan janin. 

Selain itu, gangguan pertumbuhan pada bayi juga lebih sering ditemukan pada kehamilan usia muda.

Namun yang paling mengkhawatirkan, pernikahan dini juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker serviks, salah satu jenis kanker paling mematikan bagi perempuan di dunia.

"Dari perspektif reproduksi lainnya, jika remaja putri aktif secara seksual ketika organ mereka belum siap, serviks juga berisiko lebih tinggi terkena kanker serviks," tambahnya.

Pernikahan Dini dan Ancaman Kanker Serviks

Serviks atau leher rahim merupakan bagian bawah rahim yang berperan penting dalam sistem reproduksi perempuan. 

Kanker serviks terjadi ketika sel-sel di area ini tumbuh secara tidak terkendali, umumnya akibat infeksi Human Papillomavirus (HPV) yang persisten.

Dosen Program Spesialis Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga sekaligus praktisi medis, dr Birama Robby, SpOG, menegaskan bahwa pernikahan dini merupakan salah satu faktor risiko kanker serviks. Penyebab utamanya adalah kondisi sel-sel serviks yang belum matang pada usia remaja.

"Jika sel-sel tersebut terpengaruh terlalu dini, risiko perubahan sel akan meningkat. Begitu pula risiko kanker serviks," kata Dr. Ernawati.

Pernyataan ini sejalan dengan berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa semakin dini seorang perempuan terpapar aktivitas seksual, semakin panjang pula waktu paparan virus HPV terhadap sel-sel serviks yang masih rentan.

Baca Juga: Fenomena Gray Divorce Meningkat: Kemenkes Ungkap Cara Cegah Retaknya Pernikahan Lansia

Pandangan Dokter soal Hubungan Seksual Usia Muda

Dari sisi medis yang lebih luas, dr. Nadia Octavia menyebut bahwa hubungan seksual di usia terlalu muda, khususnya di bawah 18 tahun memang meningkatkan risiko masalah kesehatan organ intim perempuan, termasuk kanker serviks.

“Ya, khususnya pada wanita, karena sistem reproduksinya belum berkembang sempurna sehingga rentan mengalami kondisi itu. Apalagi bila dilakukan di bawah usia pubertas, risiko terkena infeksi menular seksual (IMS) atau kanker jadi makin besar,” jelas dr. Nadia, dikutip dari klikdokter, Sabtu 910/1/2026).

Infeksi menular seksual, termasuk HPV, lebih mudah terjadi ketika sistem kekebalan dan jaringan reproduksi belum matang. 

Jika infeksi ini berlangsung lama tanpa penanganan, risiko perubahan sel pra-kanker hingga kanker serviks pun meningkat signifikan.

Temuan Penelitian Internasional

Penelitian internasional juga memperkuat temuan tersebut. Dikutip dari media Inggris The Telegraph, dr. Silvia Franceschi, peneliti yang memimpin studi tentang hubungan seksual usia muda dan kanker serviks, menyatakan bahwa usia pertama kali berhubungan seksual memiliki pengaruh besar terhadap risiko kanker.

Menurutnya, risiko kanker serviks lebih tinggi pada perempuan yang melakukan hubungan seksual pertama di usia 20 tahun dibandingkan mereka yang memulainya di usia 25 tahun. Semakin dini hubungan seksual terjadi, semakin lama pula virus HPV memiliki waktu untuk berkembang menjadi kanker.

Franceschi juga menyoroti bahwa hubungan seksual di usia muda sering berkaitan dengan kehamilan dan persalinan dini. Padahal, usia saat melahirkan anak pertama juga merupakan faktor penting dalam risiko kanker serviks.

Faktor Sosial dan Ekonomi di Balik Pernikahan Dini

Di banyak wilayah, pernikahan dini masih terjadi karena faktor ekonomi. Franceschi mengungkapkan bahwa praktik ini umumnya ditemukan di daerah dengan tingkat kesejahteraan rendah, di mana pernikahan dianggap sebagai jalan keluar dari kesulitan hidup.

Kondisi ini membuat perempuan di wilayah tersebut menghadapi risiko ganda: keterbatasan akses pendidikan dan kesehatan, serta tingginya ancaman penyakit serius seperti kanker serviks.

Karena itu, dr. Lesley Walker dari Cancer Research Inggris menekankan pentingnya vaksinasi HPV, terutama bagi perempuan yang tinggal di wilayah berpendapatan rendah dan berisiko menikah muda.

Baca Juga: Kapan Usia Terbaik untuk Menikah dari Aspek Finansial?

Kanker Serviks: Ancaman Mematikan yang Sering Terlambat Disadari

Dikutip dari klikdokter pada sabtu 910/1/2026), secara global, kanker serviks diperkirakan menyebabkan sekitar 270.000 kematian setiap tahun, dan 85 persen kasus terjadi di negara berkembang. Ironisnya, kanker ini sering berkembang tanpa gejala berarti, sehingga banyak pasien baru terdiagnosis ketika sudah memasuki stadium lanjut.

Menurut dr. Atika, tidak semua infeksi HPV akan berujung pada kanker. Sebagian besar infeksi sebenarnya bisa dilawan oleh sistem imun tubuh.

“Faktor-faktor yang membuat infeksi itu menjadi kanker adalah tipe infeksi, durasi infeksi, daya tahan tubuh yang rendah, merokok, dan defisiensi vitamin.” kata dr. Atika.

Langkah Nyata Melindungi Diri dari Kanker Serviks

Meski pernikahan dini meningkatkan risiko kanker serviks, langkah pencegahan tetap dapat dilakukan. Para ahli menekankan pentingnya edukasi dan perlindungan sejak dini.

Beberapa langkah utama yang direkomendasikan antara lain:

  • Vaksinasi HPV, yang menurut WHO merupakan cara paling efektif untuk menurunkan risiko kanker serviks.

  • Skrining rutin dengan pap smear, yang dianjurkan setiap tiga tahun sejak usia 21 tahun.

  • Menghindari gonta-ganti pasangan seksual.

  • Tidak merokok, karena rokok meningkatkan risiko berbagai jenis kanker, termasuk kanker serviks.

Pernikahan Dini Bukan Sekadar Pilihan Pribadi

Pernikahan dini kerap dipandang sebagai pilihan pribadi atau urusan keluarga. Namun dari sudut pandang kesehatan, praktik ini menyimpan risiko serius yang dapat berdampak jangka panjang bagi perempuan.

Ancaman anemia, komplikasi kehamilan, hingga kanker serviks bukanlah mitos, melainkan fakta medis yang didukung penelitian dan pengalaman klinis. 

Oleh karena itu, edukasi kesehatan reproduksi, akses vaksinasi, serta skrining dini menjadi kunci utama untuk melindungi generasi muda dari risiko yang sebenarnya bisa dicegah.

Mau Diskusi Project Baru?

Contact Us