FYP
Media
Memuat Halaman...
0%
Longsor Maut Cisarua Bandung Barat: 6 Tewas, 84 Warga Masih Hilang

News

Longsor Maut Cisarua Bandung Barat: 6 Tewas, 84 Warga Masih Hilang

Writer: Raodatul - Sabtu, 24 Januari 2026 11:55:08

Longsor Maut Cisarua Bandung Barat: 6 Tewas, 84 Warga Masih Hilang
Sumber gambar: Rumah warga di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, terdampak longsor, Sabtu (24/1/2026).(Whisnu Pradana/detikJabar).

FYPMedia.id - Bencana longsor dahsyat mengguncang kawasan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, pada Sabtu dini hari (24/1/2026). Peristiwa memilukan ini menimbun puluhan rumah warga di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, dan menelan korban jiwa. 

Hingga Sabtu siang, enam orang dilaporkan meninggal dunia, sementara puluhan warga lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian intensif oleh tim gabungan.

Longsor yang terjadi di kaki Gunung Burangrang tersebut menjadi salah satu bencana alam paling mematikan di wilayah Bandung Barat pada awal 2026. 

Selain menewaskan warga, longsor juga meluluhlantakkan permukiman, memaksa ratusan orang mengungsi, dan memicu kekhawatiran akan potensi longsor susulan.

30 Rumah Tertimbun, Korban Masih Terus Didata

Material longsor berupa tanah, bebatuan, dan lumpur menimbun sedikitnya 30 rumah warga yang berada di RW 10 dan RW 11 Kampung Pasir Kuning. Longsoran datang secara tiba-tiba saat sebagian besar warga masih tertidur lelap, sehingga menyulitkan upaya penyelamatan diri.

Kepala Desa Pasirlangu, Nur Awaludin Lubis, menyampaikan bahwa data korban masih bersifat dinamis dan dapat berubah seiring proses pencarian yang terus berlangsung.

"Jadi datanya ini masih bergerak, terbaru 6 orang meninggal dunia, 21 dilaporkan selamat, terus ada 84 orang masih dicari sampai saat ini," kata Nur Awaludin Lubis, dilansir detikJabar, Sabtu (24/1/2026).

Enam korban tewas ditemukan dalam kondisi tertimbun material longsor dari bukit di kaki Gunung Burangrang. 

Proses evakuasi dilakukan secara manual dan menggunakan alat berat, meski terkendala medan yang sulit serta kondisi tanah yang masih labil.

Baca Juga: Pemulihan Cepat! Akses Tarutung–Sibolga Pulih 39 KM Usai Longsor Besar

Korban Selamat Dirawat, Warga Dievakuasi

Selain korban meninggal dan hilang, sejumlah warga berhasil menyelamatkan diri dari terjangan longsor. Mereka saat ini mendapatkan penanganan medis dan pendampingan di fasilitas kesehatan serta posko darurat.

"Kemudian untuk 21 korban yang selamat, mereka saat ini ditangani oleh Puskesmas Pasirlangu, sebagian ada yang di posko kantor desa," ujar Nur Awaludin.

Sebagian korban mengalami luka ringan hingga trauma psikologis akibat kejadian tersebut. Aparat desa bersama tenaga kesehatan terus melakukan pemantauan kondisi korban selamat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

Sebagai langkah antisipasi, warga yang tinggal dalam radius 100 meter dari titik longsor turut dievakuasi ke lokasi yang lebih aman. Hal ini dilakukan untuk menghindari risiko longsor susulan yang masih mengancam kawasan tersebut.

"Jumlah data masih bisa berubah, kita terus monitor dari posko kantor desa. Sebagian warga yang rumahnya radius 100 meter masih mengungsi, cuma kita akan pulangkan sebagian karena fokus pengungsian buat mereka yang rumahnya terdampak," kata Nur Awaludin.

Longsor Terjadi Dini Hari Usai Hujan Lebat

Berdasarkan keterangan aparat desa, longsor terjadi sekitar pukul 03.00 WIB. Sebelumnya, wilayah Cisarua diguyur hujan deras disertai angin kencang selama dua hari berturut-turut. 

Intensitas hujan yang tinggi diduga menjadi pemicu utama terjadinya pergerakan tanah di kawasan perbukitan tersebut.

"Kejadiannya sekitar jam 3 pagi, pusatnya di RT 05/11. Memang sudah dua hari ini hujan terus. Kebutuhan mendesak saat ini seperti makanan, selimut, pakaian," ujar Nur Awaludin.

Hujan yang mengguyur tanpa henti membuat struktur tanah menjadi jenuh air dan kehilangan daya ikat, sehingga longsor tidak dapat dihindari. 

Material dari bukit kaki Gunung Burangrang meluncur deras ke arah permukiman warga yang berada di bawahnya.

Baca Juga: Longsor Mojokerto: 1 Korban Masih Terjebak, Evakuasi Terkendala Cuaca

Proses Pencarian Korban Masih Berlangsung

Hingga saat ini, tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, relawan, serta warga setempat masih melakukan pencarian terhadap 84 orang yang dilaporkan hilang. 

Proses pencarian dilakukan dengan sangat hati-hati mengingat kondisi tanah yang masih rawan bergerak.

Alat berat dikerahkan untuk mempercepat evakuasi material longsor, namun cuaca dan akses jalan yang terbatas menjadi tantangan tersendiri. 

Selain itu, tim penyelamat juga terus memantau potensi longsor lanjutan yang dapat membahayakan petugas di lapangan.

Pihak berwenang mengimbau masyarakat agar tidak mendekati lokasi longsor tanpa izin petugas, serta tetap waspada terhadap cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan.

Kebutuhan Mendesak Pengungsi

Seiring bertambahnya jumlah warga terdampak, kebutuhan logistik menjadi perhatian utama. Saat ini, kebutuhan mendesak di lokasi pengungsian meliputi makanan siap saji, air bersih, selimut, pakaian layak pakai, serta perlengkapan bayi dan obat-obatan.

Pemerintah daerah bersama relawan telah mendirikan posko bantuan untuk menyalurkan kebutuhan dasar bagi para pengungsi. 

Bantuan dari berbagai pihak juga mulai berdatangan sebagai bentuk solidaritas terhadap korban bencana longsor di Cisarua Bandung Barat.

Peringatan Dini dan Mitigasi Bencana

Peristiwa longsor maut ini kembali menjadi pengingat akan pentingnya mitigasi bencana, khususnya di wilayah rawan longsor seperti Bandung Barat. 

Curah hujan tinggi yang terjadi secara terus-menerus menjadi faktor risiko utama yang perlu diantisipasi dengan sistem peringatan dini dan pengelolaan lingkungan yang lebih baik.

Pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat edukasi kebencanaan kepada masyarakat, termasuk langkah evakuasi mandiri saat terjadi hujan ekstrem dalam durasi panjang. 

Selain itu, penataan kawasan permukiman di daerah perbukitan juga menjadi isu krusial untuk mencegah jatuhnya korban jiwa di masa mendatang.

Bencana longsor di Cisarua ini tidak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga menjadi alarm keras bagi semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana alam yang kian sering terjadi.

Mau Diskusi Project Baru?

Contact Us