Writer: Raodatul - Selasa, 13 Januari 2026 17:47:05
FYPMedia.id - Di era digital, mencari informasi kesehatan hanya sejauh satu sentuhan layar. Namun di balik kemudahan itu, tersembunyi risiko psikologis yang sering luput disadari: kecanduan mencari penyakit di internet yang berujung pada gangguan kecemasan serius.
Banyak orang merasa tubuhnya baik-baik saja secara fisik, tetapi pikirannya dipenuhi ketakutan berlebihan akan penyakit berat.
Sedikit pusing, nyeri ringan, atau sensasi tubuh yang wajar kerap dimaknai sebagai tanda penyakit serius. Jika kondisi ini terjadi berulang dan sulit dikendalikan, para ahli menyebutnya sebagai health anxiety.
Health anxiety bukan sekadar rasa khawatir biasa. Ini adalah kondisi psikologis ketika seseorang yang secara medis sehat terus-menerus merasa sakit, takut terkena penyakit serius, dan terobsesi pada kondisi tubuhnya sendiri.
Dalam jangka panjang, kecemasan ini bisa menurunkan kualitas hidup, memicu stres kronis, bahkan berkembang menjadi gangguan mental yang lebih berat.
Ketika Internet Jadi “Dokter Palsu”
Akses luas terhadap informasi medis di internet membuat banyak orang terbiasa melakukan diagnosis mandiri.
Gejala ringan yang seharusnya tidak berbahaya justru dihubungkan dengan penyakit mematikan setelah membaca artikel atau forum kesehatan tanpa validasi medis.
Fenomena ini dikenal sebagai cyberchondria, yaitu kebiasaan mencari informasi kesehatan secara berlebihan di internet hingga memicu kepanikan. Alih-alih menenangkan, informasi yang tidak terkurasi justru memperkuat asumsi terburuk.
Seseorang bisa dengan mudah mengaitkan sakit kepala ringan dengan tumor otak, jantung berdebar dengan serangan jantung, atau nyeri perut dengan kanker. Akibatnya, individu terjebak dalam lingkaran kecemasan yang berulang dan sulit dihentikan.
Psikolog menilai, semakin sering seseorang mencari kepastian melalui internet, semakin sulit pula rasa cemas itu mereda. Tanpa disadari, aktivitas “googling penyakit” justru memperburuk kondisi mental.
Baca Juga: 8 Dampak Negatif Begadang terhadap Kesehatan Tubuh
Health Anxiety Bukan Sekadar Khawatir
Secara klinis, health anxiety dapat diklasifikasikan sebagai illness anxiety disorder, somatic symptom disorder, atau berkaitan dengan obsessive compulsive disorder (OCD).
Penderitanya sering kali melakukan pemeriksaan tubuh berulang, meminta validasi dari orang lain, atau bolak-balik menjalani pemeriksaan medis meski hasilnya normal.
Perilaku ini bukan didorong oleh penyakit fisik, melainkan oleh ketakutan yang terus dipelihara oleh pikiran. Ironisnya, semakin sering mencari kepastian, semakin besar pula kecemasan yang dirasakan.
Salah satu pendekatan terapi yang banyak digunakan untuk menangani kondisi ini adalah terapi perilaku kognitif, khususnya metode exposure response prevention (ERP). Terapi ini membantu pasien belajar menerima ketidakpastian kesehatan tanpa menuruti dorongan kompulsif untuk terus mengecek atau mencari informasi.
Psikolog Kata Moritz, PhD, menjelaskan: "Keterampilan perilaku kognitif mengajarkanmu bagaimana memiliki pikiran (mengganggu) tersebut, tidak melakukan tindakan apapun, dan menerima bahwa kamu tidak tahu apakah kamu sakit atau tidak," terangnya.
Ia menambahkan: "Kamu akan membangun kekuatan ini, semacam otot mental, sehingga saat pikiran itu muncul lagi, ia tidak akan menyakitimu lagi," sambungnya, dikutip dari Women's Health.
Mengapa Cyberchondria Mudah Terjadi?
Internet memang memberi manfaat besar bagi kehidupan modern. Selain mempermudah komunikasi dan transaksi, internet memungkinkan siapa saja mengakses informasi kapan pun dan di mana pun. Namun, di sisi lain, ketergantungan terhadap internet juga membawa dampak psikologis.
Cyberchondria muncul ketika seseorang terlalu sering mengidentifikasi kondisi kesehatannya berdasarkan informasi online, lalu melakukan self-diagnose tanpa bantuan tenaga medis. Kondisi ini sering diperparah oleh stres pekerjaan, tekanan lingkungan, hingga masalah pribadi.
Contoh yang kerap terjadi adalah orang tua yang panik ketika anaknya menunjukkan gejala ringan. Tanpa konsultasi dokter, orang tua tersebut langsung mencari informasi di internet dan mendiagnosis penyakit sendiri, yang justru meningkatkan kecemasan.
Baca Juga: 7 Faktor Risiko Anxiety Disorder: Salah Satunya Rentan pada Si Pemalu!
Ciri-Ciri Cyberchondria yang Perlu Diwaspadai
Beberapa tanda umum cyberchondria antara lain:
- Merasa mengidap penyakit berbahaya atau mengancam nyawa, padahal gejalanya ringan
- Kecemasan meningkat setelah membaca informasi medis di internet
- Membesar-besarkan sensasi tubuh yang sebenarnya normal
- Sulit merasa tenang meski hasil pemeriksaan medis menunjukkan kondisi sehat
- Terus-menerus mencari informasi kesehatan sebagai bentuk “kepastian”
Padahal, banyak penyakit memiliki gejala awal yang mirip. Tanpa pemeriksaan medis yang tepat, diagnosis mandiri justru berisiko salah tafsir dan memperparah kecemasan.
Dampak Mental Jika Dibiarkan
Jika cyberchondria dan health anxiety dibiarkan tanpa penanganan, dampaknya bisa sangat serius. Mulai dari gangguan konsentrasi, kelelahan mental, gangguan tidur, hingga penurunan hubungan sosial.
Dalam kondisi yang lebih berat, kecemasan kronis dapat berkembang menjadi depresi. Oleh karena itu, penting untuk menyadari bahwa kecemasan berlebihan tidak membuat tubuh lebih sehat, justru memperburuk kondisi mental dan emosional.
Cara Menghindari Health Anxiety dan Cyberchondria
Para ahli menyarankan beberapa langkah praktis untuk memutus siklus kecemasan:
1. Batasi Waktu Mencari Informasi Kesehatan: Tetapkan durasi khusus saat mencari informasi medis dan hindari pencarian berulang yang tidak perlu.
2. Sadari Kecemasan Tidak Melindungi Tubuh: Khawatir berlebihan tidak mencegah penyakit, justru menambah beban mental.
3. Kenali Pemicu Kecemasan: Informasi kesehatan di media sosial, cerita orang lain, atau sensasi tubuh tertentu bisa menjadi pemicu.
4. Jangan Menuruti Dorongan Mengecek Tubuh Terus-Menerus: Pemeriksaan berulang justru memperkuat kecemasan.
5. Diskusikan dengan Tenaga Profesional: Jika kecemasan sudah mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, atau aktivitas sehari-hari, konsultasi dengan psikolog atau dokter sangat disarankan.
Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital
Menghindari cyberchondria bukan berarti menutup diri dari informasi kesehatan, melainkan mengelolanya dengan bijak. Menjaga keseimbangan antara kebutuhan informasi dan kesehatan mental menjadi kunci di era digital.
Aktivitas sederhana seperti beribadah, menonton film, mendengarkan musik, berolahraga ringan, atau berlibur bersama orang terdekat dapat membantu menenangkan pikiran.
Jika kecemasan terus berlanjut, mencari bantuan profesional bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah berani untuk menjaga kesehatan diri.
Di tengah banjir informasi, satu hal penting perlu diingat: tidak semua yang kita baca di internet adalah diagnosis, dan tidak semua sensasi tubuh adalah penyakit.
Mengendalikan kecemasan adalah bagian dari menjaga kesehatan, sama pentingnya dengan menjaga tubuh itu sendiri.