Writer: Raodatul - Kamis, 15 Januari 2026 14:00:36
FYPMedia.id - Pasar modal Indonesia mencetak sejarah baru. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) resmi menembus level psikologis 9.000 dan mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) pada perdagangan Rabu, 14 Januari 2026.
Capaian monumental ini menjadi penanda kuatnya kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi nasional serta prospek pertumbuhan pasar modal Indonesia ke depan.
Berdasarkan data perdagangan, IHSG ditutup di level 9.032,584, menguat 0,94 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Sepanjang sesi perdagangan, indeks bahkan sempat menyentuh level 9.049, sebelum akhirnya ditutup sedikit lebih rendah namun tetap berada di zona rekor.
Lonjakan IHSG ini langsung mendapat respons dari Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menilai pencapaian tersebut bukan sekadar euforia sesaat, melainkan refleksi dari fondasi ekonomi yang semakin solid.
BEI: Cerminan Kepercayaan Investor terhadap Ekonomi Nasional
Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, menegaskan bahwa rekor IHSG di awal 2026 mencerminkan optimisme dan keyakinan pelaku pasar terhadap arah perekonomian Indonesia.
"Capaian ini merupakan cerminan semakin kuatnya kepercayaan investor terhadap erekonomian nasional di tahun 2026. Dukungan kebijakan Pemerintah Republik Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi turut berperan penting dalam menciptakan sentimen positif yang konsisten di pasar," ujar Kautsar Primadi Nurahmad dalam keterangan tertulis, dilansir dari CNN Indonesia, Kamis (15/1/2026).
Menurut BEI, konsistensi kebijakan pemerintah, stabilitas makroekonomi, serta koordinasi antarotoritas menjadi kombinasi krusial yang mendorong arus dana investor tetap deras mengalir ke pasar saham domestik.
Baca Juga: 5 Manfaat Investasi Emas di Usia 20-an, Biar Masa Depan Nggak Cuma Wacana!
Sinergi BEI, OJK, dan SRO Jadi Mesin Penggerak
Tidak hanya faktor eksternal, penguatan IHSG juga ditopang oleh sinergi kuat antara BEI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Self-Regulatory Organization (SRO) lainnya.
Lembaga-lembaga tersebut meliputi PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Kolaborasi ini dinilai berhasil memperkuat infrastruktur pasar modal, meningkatkan kepercayaan investor, serta menciptakan ekosistem investasi yang semakin transparan dan efisien.
"Sinergi yang kuat antara BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) lainnya, yakni PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia serta PT Kustodian Sentral Efek Indonesia, serta seluruh pemangku kepentingan, turut mendorong penguatan ekosistem pasar modal Indonesia sehingga mampu menghasilkan berbagai pencapaian," jelas Kautsar.
Rekor Panjang Pasar Modal Sepanjang 2025
Capaian IHSG di atas 9.000 tidak berdiri sendiri. Sepanjang tahun 2025, pasar modal Indonesia telah mencatatkan sederet prestasi impresif yang menjadi fondasi penguatan indeks saat ini.
BEI mencatat jumlah investor pasar modal melonjak signifikan hingga mencapai 20,3 juta investor. Selain itu, sepanjang 2025 terdapat 26 saham baru yang tercatat melalui skema Initial Public Offering (IPO) dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp18,1 triliun.
Menariknya, dari total IPO tersebut, enam di antaranya masuk kategori Lighthouse IPO, yakni perusahaan dengan skala besar, fundamental kuat, serta daya tarik tinggi bagi investor institusi global.
"Sepanjang tahun 2025, pasar modal Indonesia mencatatkan berbagai rekor tertinggi, antara lain jumlah investor yang mencapai 20,3 juta, pencatatan 26 saham baru dengan total dana yang dihimpun melalui Initial Public Offering (IPO) sebesar Rp 18,1 triliun dengan enam di antaranya merupakan Lighthouse IPO," terang Kautsar.
IHSG Melonjak 22,10% Sepanjang 2025
Dari sisi kinerja indeks, IHSG sepanjang 2025 menunjukkan tren yang sangat solid. Pada penutupan perdagangan 29 Desember 2025, IHSG berada di level 8.644,26, menguat 22,10 persen secara tahunan (year on year).
Tak hanya itu, sepanjang 2025 IHSG tercatat memecahkan rekor ATH sebanyak 24 kali, mencerminkan tren naik yang konsisten dan didukung oleh likuiditas pasar yang kuat.
Momentum tersebut kemudian berlanjut ke awal 2026, hingga akhirnya IHSG sukses menembus level historis 9.000.
Baca Juga: IHSG Cetak Rekor Baru di Sesi Pertama, Didorong Kenaikan Saham BBRI, BREN, dan TLKM
Transaksi Jumbo dan Dominasi Saham Hijau
Data perdagangan dari RTI Infokom menunjukkan antusiasme investor yang sangat tinggi pada hari bersejarah tersebut. Total nilai transaksi mencapai Rp29,29 triliun, dengan volume perdagangan sebesar 64,37 miliar saham.
Dari sisi pergerakan saham:
- 440 saham menguat
- 240 saham terkoreksi
- 128 saham stagnan
Secara sektoral, hampir seluruh indeks sektor berada di zona hijau.
Sebanyak 10 dari 11 indeks sektoral tercatat menguat. Penguatan tertinggi dipimpin oleh sektor barang konsumen non primer yang melesat 3,08 persen, mencerminkan optimisme terhadap daya beli dan konsumsi masyarakat. Satu-satunya sektor yang terkoreksi adalah barang konsumen primer, yang turun tipis 0,08 persen.
Daya Saing Global Pasar Modal Indonesia
BEI menilai capaian IHSG di atas 9.000 semakin menegaskan posisi pasar modal Indonesia sebagai salah satu yang paling resilien dan kompetitif di kawasan emerging markets.
Stabilitas politik, pertumbuhan ekonomi yang terjaga, serta reformasi struktural dinilai menjadi faktor penting yang membuat Indonesia tetap menarik di mata investor global, di tengah dinamika geopolitik dan ketidakpastian ekonomi dunia.
"Pencapaian tersebut menegaskan posisi pasar modal Indonesia yang semakin resilien dan berdaya saing global, sekaligus memperkuat peran BEI dalam mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan," ujar Kautsar.
Baca Juga: 5 Manfaat Investasi Properti di Usia 20-an, Modal Muda Menuju Kaya Raya
Komitmen BEI: Infrastruktur, Literasi, dan Inklusi
Ke depan, BEI menegaskan komitmennya untuk tidak berpuas diri. Fokus pengembangan pasar modal akan diarahkan pada penguatan infrastruktur, peningkatan kualitas pengawasan, serta perluasan literasi dan inklusi keuangan masyarakat.
Langkah ini dinilai krusial agar pertumbuhan pasar modal tidak hanya dinikmati investor besar, tetapi juga menjangkau investor ritel di seluruh Indonesia.
"BEI bersama SRO dan seluruh pemangku kepentingan serta dengan dukungan OJK berkomitmen untuk terus memperkuat infrastruktur pasar modal, serta meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat, guna mendukung pertumbuhan pasar modal yang berkelanjutan dan inklusif," tutur Kautsar.
Kesimpulan: IHSG 9.000 Bukan Akhir, Tapi Awal Babak Baru
Tembusnya IHSG ke level 9.000 bukan sekadar angka simbolik, melainkan tonggak sejarah yang menandai babak baru pasar modal Indonesia.
Rekor ini mencerminkan kepercayaan investor yang kian menguat, sinergi kebijakan yang efektif, serta fondasi ekonomi nasional yang semakin matang.
Dengan dukungan kebijakan pemerintah, penguatan ekosistem pasar modal, serta partisipasi investor yang terus meningkat, IHSG berpeluang melanjutkan tren positifnya di tahun 2026.
Namun, BEI tetap mengingatkan pentingnya kewaspadaan, disiplin investasi, dan pengelolaan risiko di tengah volatilitas global yang masih membayangi.