Writer: Raodatul - Sabtu, 24 Januari 2026 14:22:49
FYPMedia.id - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung turun langsung meninjau lokasi banjir di kawasan Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, Sabtu (24/1/2026). Kehadirannya di tengah warga terdampak menjadi sorotan, terutama setelah ia merespons cepat permintaan masyarakat yang mendesak agar pemerintah menambah pompa penyedot air guna mempercepat surutnya banjir.
Banjir yang melanda wilayah Rawa Buaya sejak beberapa hari terakhir menyebabkan ratusan warga terpaksa mengungsi.
Genangan air dengan ketinggian bervariasi masih terlihat di sejumlah gang permukiman, memicu kekhawatiran akan dampak kesehatan dan aktivitas warga yang lumpuh.
Tinjau Pengungsian, Pramono Disambut Warga
Pantauan di lokasi menunjukkan Pramono tiba di Rawa Buaya dengan didampingi Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah. Rombongan langsung menuju lokasi pengungsian warga yang dipusatkan di Masjid Jami Baiturrahman.
Di area masjid, puluhan warga yang terdampak banjir tampak sudah menunggu. Sebagian besar pengungsi merupakan anak-anak, lansia, dan ibu rumah tangga yang memilih bertahan di tempat aman sambil menunggu air benar-benar surut.
Pramono tampak menyapa satu per satu warga, bersalaman, dan berbincang singkat dengan para pengungsi. Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan warga agar menjaga kondisi kesehatan selama berada di pengungsian.
Kehadiran Gubernur disambut antusias, terutama karena warga berharap adanya solusi cepat untuk mengatasi banjir yang kerap berulang di wilayah tersebut.
Baca Juga: Longsor Maut Cisarua Bandung Barat: 6 Tewas, 84 Warga Masih Hilang
Warga Minta Pompa Air Ditambah
Di tengah kunjungan tersebut, suasana mendadak riuh ketika seorang warga yang berada di lantai dua masjid menyampaikan aspirasi secara langsung kepada Pramono. Dengan suara lantang, warga itu meminta agar jumlah pompa air ditambah untuk mempercepat penyedotan genangan.
"Pak Pram, Pak Pram, Pak pompanya tambah lagi dong Pak," kata warga di lokasi.
Warga tersebut kembali menegaskan permintaannya dengan nada penuh harap.
"Pompanya Pak tambah lagi. Biar (banjir) cepat surut," lanjutnya.
Mendengar teriakan itu, Pramono yang tengah bersalaman dengan warga lain langsung menoleh ke arah suara tersebut. Tanpa ragu, ia menyatakan persetujuannya.
"Ya, nanti ditambah," kata Pramono.
Jawaban singkat itu langsung disambut sorak gembira dan tepuk tangan dari para pengungsi. Respons cepat tersebut dinilai sebagai angin segar bagi warga yang sudah berhari-hari terdampak banjir.
Total Tujuh Pompa Dikerahkan
Tak hanya sekadar janji, Pramono memastikan bahwa tambahan pompa air langsung dikerahkan ke lokasi. Ia menyampaikan bahwa saat ini total tujuh unit pompa penyedot air telah beroperasi di kawasan Rawa Buaya.
"Alhamdulillah per sekarang ini sudah ada tambahan pompa kurang lebih empat. Jadi sekarang di tempat ini sudah ada tujuh pompa," kata Pramono.
Menurutnya, penambahan pompa tersebut diharapkan mampu mempercepat proses penyurutan air, terutama di titik-titik permukiman yang selama ini menjadi langganan genangan.
Langkah ini juga menjadi bagian dari respons darurat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menghadapi curah hujan tinggi yang masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Baca Juga: Banjir dan Longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar: 774 Meninggal, 551 Hilang
Genangan Masih Bertahan di Permukiman
Meski pompa telah ditambah, pantauan di lapangan menunjukkan bahwa genangan air masih terlihat di sejumlah gang dan jalan lingkungan.
Ketinggian air bervariasi, mulai dari sekitar 20 sentimeter hingga mencapai 60 sentimeter di beberapa titik terendah.
Genangan tersebut menyebabkan aktivitas warga terganggu. Sejumlah rumah masih terendam, dan kendaraan roda dua maupun roda empat kesulitan melintas di beberapa ruas jalan.
Petugas gabungan dari PPSU, BPBD, dan dinas terkait terus berjaga untuk memastikan pompa berfungsi optimal serta membantu warga yang membutuhkan evakuasi tambahan.
Bantuan Logistik dan Posko Kesehatan
Selain menambah pompa air, Pramono juga memastikan kebutuhan dasar warga terdampak banjir terpenuhi. Dalam kunjungannya ke Masjid Jami Baitul Rahman, Pemprov DKI Jakarta menyalurkan berbagai bantuan logistik.
"Ada beras, minyak, mi instan, kasur lipat, matras, selimut, family kit, kids wear, dan juga tadi ada bantuan dari PMI Jakarta berupa minyak penghangat tubuh," ujar Pramono.
Bantuan tersebut ditujukan untuk meringankan beban warga selama berada di pengungsian. Selain logistik, pemerintah juga mendirikan posko kesehatan guna memantau kondisi pengungsi dan memberikan layanan medis dasar.
Tenaga kesehatan disiagakan untuk menangani keluhan seperti gatal-gatal, demam, hingga kelelahan akibat kondisi lingkungan yang lembap dan kurang nyaman.
Baca Juga: TikTokers Asal Sumut Ditangkap Usai Menistakan Agama Kristen
Kondisi Hulu Berangsur Surut
Pramono juga menyampaikan perkembangan kondisi di hulu, khususnya di Cengkareng Drain yang menjadi salah satu pintu air utama di wilayah Jakarta Barat. Menurut laporan yang diterimanya, ketinggian air di saluran tersebut mulai menunjukkan tren penurunan.
"Saat ini kondisi air di Cengkareng Drain berangsur surut," ujar Pramono.
Ia memaparkan bahwa pada Sabtu (24/1/2026), ketinggian air di Cengkareng Drain tercatat sekitar 315 sentimeter. Angka ini sedikit di atas batas aman yang berada di kisaran 310 sentimeter.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah terus melakukan pemantauan intensif untuk memastikan air tidak kembali meluap, terutama jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.
Komitmen Tangani Banjir Jakarta Barat
Kunjungan Pramono ke Rawa Buaya menegaskan komitmen Pemprov DKI Jakarta dalam menangani persoalan banjir yang masih menjadi tantangan besar ibu kota.
Penambahan pompa air, distribusi bantuan, dan pemantauan pintu air menjadi langkah jangka pendek yang terus dioptimalkan.
Namun, Pramono juga menekankan pentingnya solusi jangka panjang, mulai dari normalisasi saluran air, peningkatan kapasitas drainase, hingga pengendalian tata ruang di kawasan rawan banjir.
Bagi warga Rawa Buaya, kehadiran langsung gubernur dan respons cepat terhadap aspirasi mereka memberikan harapan bahwa persoalan banjir tidak lagi hanya menjadi rutinitas tahunan, melainkan ditangani secara serius dan berkelanjutan.