Writer: Raodatul - Jumat, 23 Januari 2026 15:11:53
FYPMedia.id - Paparan logam berat timbal pada anak kembali menjadi sorotan serius. Data terbaru menunjukkan ancaman ini bukan sekadar isu lingkungan, melainkan krisis kesehatan anak yang nyata dan mengkhawatirkan.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap fakta mengejutkan: 1 dari 7 anak di Indonesia terpapar timbal melebihi ambang batas aman.
Temuan ini menjadi alarm keras bagi orang tua, tenaga kesehatan, hingga pemerintah daerah. Pasalnya, paparan timbal tidak menimbulkan gejala instan, namun efeknya dapat merusak masa depan anak secara perlahan dan permanen.
1 dari 7 Anak RI Terpapar Timbal di Atas Ambang WHO
Dalam survei kesehatan lingkungan yang dilakukan belum lama ini, BRIN menemukan bahwa kadar timbal dalam darah anak-anak Indonesia masih berada pada level yang berbahaya.
Dari total 1.617 anak yang terlibat dalam penelitian di 12 lokasi surveilans, sebanyak satu dari tujuh anak memiliki kadar timbal darah di atas 5 mikrogram per desiliter, yang merupakan batas aman menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Angka ini menunjukkan bahwa paparan timbal bukan kasus sporadis, melainkan masalah sistemik yang membutuhkan perhatian lintas sektor.
Wilayah dengan prevalensi paparan tertinggi antara lain:
- Kabupaten Bima: 33 persen
- Kabupaten Lamongan: 28 persen
- Kota Surabaya: 22 persen
Data tersebut memperlihatkan bahwa paparan timbal tidak hanya terjadi di kawasan industri berat, tetapi juga menyebar di wilayah permukiman padat penduduk.
Baca Juga: Rekomendasi Buku untuk Anak-Anak yang Edukatif dan Menyenangkan
Ancaman Senyap yang Menurunkan IQ Anak
Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Dr dr Then Suyanti, MM, menegaskan bahwa dampak timbal sering kali luput dari perhatian karena tidak langsung terlihat secara kasat mata.
Efek kesehatan akibat timbal biasanya muncul setelah paparan berlangsung lama dan berulang, sehingga sering terlambat disadari oleh orang tua.
Dikutip dari detikcom, dijelaskan oleh dr Then, bahwa efek dari timbal bisa berdampak pada IQ anak-anak.
"Kasihan anak-anak kita, IQ-nya jadi tidak bagus," ujar dr Then.
Paparan timbal dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan otak dan sistem saraf, yang berdampak langsung pada kemampuan kognitif anak.
Penurunan IQ ini bersifat permanen dan dapat memengaruhi prestasi belajar, perilaku, hingga kualitas hidup anak di masa depan.
Tak Hanya IQ, Timbal Picu Stunting dan Anemia
Dampak timbal tidak berhenti pada gangguan kecerdasan. Kepala Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Dr Wahyu Pudji Nugraheni, SKM, MKes, mengungkapkan bahwa paparan logam berat ini juga berkontribusi terhadap masalah gizi kronis.
"Jadi sebenarnya untuk dampak kesehatan dari kadar timbal ini tidak hanya kecerdasan, tetapi juga anemia dan stunting," ungkap Wahyu.
Ia menambahkan bahwa sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kadar timbal dalam darah dengan kejadian stunting dan anemia pada anak.
"Beberapa referensi yang saya temukan memang signifikan ya, ada hubungan yang signifikan antara kadar timbal dengan kejadian stunting dan juga anemia," tambahnya.
Kondisi ini membuat paparan timbal menjadi ancaman ganda: menghambat pertumbuhan fisik sekaligus perkembangan mental anak.
Sumber Paparan Timbal Ada di Sekitar Anak
Salah satu hal paling mengkhawatirkan adalah sumber timbal yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari anak. Berdasarkan hasil penelitian BRIN, paparan timbal dapat berasal dari berbagai sumber, antara lain:
- Tanah yang terkontaminasi
- Lokasi daur ulang aki atau baterai bekas
- Debu dari cat tembok yang mengelupas
- Mainan anak dengan cat mengandung timbal
- Alat masak berbahan logam tertentu
- Produk kosmetik tanpa standar keamanan
Dalam temuan lapangan, BRIN bahkan mendapati mainan anak yang terkontaminasi timbal akibat penggunaan cat berbahaya, sehingga anak terpapar saat bermain atau memasukkan benda ke dalam mulut.
Baca Juga: 5 Kandungan Penting dalam Susu yang Terbukti Jaga Imunitas Anak Sejak Dini
Paparan dari Orang Tua Tanpa Disadari
Paparan timbal juga bisa terjadi secara tidak langsung melalui orang tua. Wahyu mencontohkan kasus ayah yang bekerja di lingkungan industri dengan paparan timbal, namun tidak membersihkan diri sebelum berinteraksi dengan keluarga.
"Misalnya orang tua yang ayahnya bekerja di pabrik cat. Dia pulang, pulang ke rumah masih memakai baju bekas dia bekerja di pabrik cat. Itu sebenarnya memberikan paparan kepada istri, anak. Nah, itu mestinya harus bersih dulu, baru pegang anak," kata Wahyu.
Debu timbal dapat menempel di pakaian, sepatu, dan kulit, lalu berpindah ke lingkungan rumah tanpa disadari.
PHBS Jadi Kunci Pencegahan Paparan Timbal
Menghadapi ancaman serius ini, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi langkah paling krusial. Wahyu menegaskan bahwa pencegahan sebenarnya dapat dilakukan sejak dari rumah, tanpa biaya mahal.
Beberapa langkah pencegahan paparan timbal pada anak antara lain:
- Membersihkan rumah secara rutin menggunakan kain basah
- Mencuci tangan anak sebelum makan
- Mengganti pakaian dan mandi setelah bekerja
- Melepas alas kaki sebelum masuk rumah
- Membersihkan mainan dan area bermain anak secara berkala
- Menggunakan alat masak berbahan stainless steel
- Memilih produk yang memiliki standar BPOM RI atau SNI
Selain itu, asupan gizi juga berperan penting dalam menkan dampak timbal.
Peran Nutrisi dalam Melawan Timbal
Anak-anak disarankan mengonsumsi makanan yang kaya akan:
- Kalsium
- Zat besi
- Vitamin C
Nutrisi tersebut dapat membantu mengurangi penyerapan timbal dalam tubuh. Pemeriksaan rutin di posyandu juga menjadi langkah penting untuk memantau tumbuh kembang anak sejak dini.
Ancaman Nyata yang Tak Bisa Diabaikan
Temuan BRIN ini menegaskan bahwa paparan timbal bukan isu masa lalu, melainkan ancaman nyata yang masih menghantui anak-anak Indonesia. Tanpa intervensi serius dan kesadaran kolektif, dampaknya dapat berlangsung lintas generasi.
Edukasi orang tua, pengawasan produk anak, serta pengendalian lingkungan menjadi kunci utama agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh sehat, cerdas, dan bebas dari ancaman logam berat berbahaya.