FYP Media.ID – Banyak orang tua masih belum sadar bahwa anak mereka bisa saja mengidap penyakit jantung bawaan (PJB) meskipun tampak sehat. Padahal, deteksi dini bisa menyelamatkan nyawa dan mencegah komplikasi berat seperti gagal jantung hingga hipertensi paru.
Penyakit Jantung Bawaan (PJB) adalah kelainan struktural pada jantung yang sudah ada sejak bayi masih dalam kandungan. Kelainan ini bisa berupa kebocoran, penyempitan, atau saluran yang gagal menutup sempurna, yang membuat aliran darah tidak normal.
Apa Itu Penyakit Jantung Bawaan?
Menurut dr. Asmoko Resta Permana, SpJP(K), Subsp. Ped. PJB(K) dari Siloam Heart Hospital, PJB dibagi menjadi dua kelompok besar:
-
Asianotik (tidak biru): Anak tidak mengalami perubahan warna kulit menjadi biru, tapi tetap berisiko tinggi karena aliran darah abnormal.
-
Sianotik (biru): Terjadi penurunan kadar oksigen dalam darah, sehingga kulit anak tampak kebiruan, terutama di bibir dan kuku.
Meski beberapa anak dengan PJB tampak normal secara kasat mata, banyak gejala tersembunyi yang sering terlewat oleh orang tua karena mirip dengan kondisi umum lainnya.
7 Gejala Tersembunyi Penyakit Jantung Bawaan pada Anak
1. Cepat Lelah Saat Menyusu atau Bermain
Bayi yang cepat berhenti menyusu karena kelelahan, atau anak yang mudah lelah saat bermain, adalah tanda utama yang harus diwaspadai.
“Kalau anak terlihat lebih mudah capek dibanding teman sebayanya, itu bisa jadi sinyal awal penyakit jantung bawaan,” jelas dr. Asmoko.
2. Berat Badan Tidak Naik Sesuai Kurva Posyandu
Salah satu gejala klasik PJB adalah gagal tumbuh. Anak tidak bertambah berat badan meski makannya cukup, atau malah terus berada di bawah garis merah pertumbuhan.
3. Infeksi Paru-Paru Berulang
Jika anak mengalami infeksi saluran pernapasan 2–3 kali dalam setahun, terutama pada usia dini, perlu diwaspadai adanya kelainan jantung. Kebocoran darah ke paru-paru bisa menyebabkan paru “banjir” dan lebih rentan infeksi.
4. Sesak Napas Saat Aktivitas Ringan
Anak sering terlihat terengah-engah saat naik tangga atau berlari ringan? Itu bukan sekadar kelelahan biasa. Bisa jadi aliran darah ke paru-paru terlalu banyak akibat kebocoran pada jantung, memicu sesak napas.
5. Bibir atau Kuku Membiru
Gejala ini umum ditemukan pada PJB jenis sianotik. Warna kebiruan di ujung jari, bibir, atau lidah menandakan kadar oksigen dalam darah rendah.
6. Kesulitan Menyusu dan Tetap Lapar
Bayi dengan PJB sering menyusu sebentar lalu berhenti, padahal masih lapar. Mereka terlalu lelah untuk melanjutkan menyusu, menyebabkan kurangnya asupan kalori.
7. Keringat Berlebihan pada Bayi
Bayi yang berkeringat banyak saat menyusu atau tidur, padahal tidak kepanasan, bisa menunjukkan adanya beban kerja jantung yang tinggi.
Jenis Penyakit Jantung Bawaan yang Paling Umum
dr. Asmoko menjelaskan beberapa jenis PJB yang sering ditemukan, antara lain:
Atrial Septal Defect (ASD)
Lubang pada dinding antara serambi kanan dan kiri jantung. Umumnya tanpa gejala saat bayi, tapi dapat menyebabkan kelelahan dan infeksi paru jika dibiarkan.
Ventricular Septal Defect (VSD)
Kebocoran pada bilik jantung dengan tekanan tinggi, menyebabkan gejala lebih berat dan muncul sejak usia dini. Paling umum dijumpai pada bayi.
Patent Ductus Arteriosus (PDA)
Saluran antara aorta dan arteri paru yang seharusnya menutup setelah lahir, tetap terbuka. Sering terjadi pada bayi prematur. Lubang kecil bisa menutup sendiri, tapi lubang besar butuh intervensi.
Komplikasi Akibat PJB Jika Tidak Ditangani
Jika tidak segera diobati, penyakit jantung bawaan bisa menimbulkan komplikasi serius, antara lain:
-
Gagal jantung kongestif
-
Hipertensi paru
-
Infeksi endokarditis
-
Gagal tumbuh kembang
-
Kematian mendadak pada kasus berat
“Jika darah terus bocor ke paru-paru, lama-lama paru jadi kaku dan terjadi hipertensi paru. Anak sulit bernapas dan jantung bisa kolaps,” jelas dr. Asmoko.
Teknologi Medis Modern: Solusi Aman untuk PJB
Kabar baiknya, kemajuan teknologi memungkinkan penanganan PJB dilakukan dengan risiko minimal dan hasil maksimal. Tak perlu selalu operasi jantung terbuka!
Kateterisasi Jantung: Minim Invasif, Maksimal Efektif
Kini tersedia prosedur kateterisasi jantung yang lebih aman dan minim luka. Caranya:
-
Kateter dimasukkan lewat pembuluh darah di paha.
-
Alat penutup berbentuk seperti payung kecil dipasang di lubang jantung.
-
Prosedur hanya 1 jam dengan bius lokal.
-
Pasien pulih dalam waktu singkat.
“Risiko alat lepas sangat kecil, di bawah 1%. Metode ini menghindari pembedahan besar, sangat cocok untuk anak,” ujar dr. Asmoko.
Tips untuk Orang Tua: Cegah Terlambat Diagnosa
Agar PJB tidak luput dari deteksi, lakukan hal-hal berikut:
-
Perhatikan perkembangan anak secara menyeluruh, bukan hanya berat badan.
-
Rutin kontrol ke dokter anak, terutama jika ada gejala yang mencurigakan.
-
Lakukan skrining jantung jika bayi lahir prematur atau memiliki riwayat keluarga dengan PJB.
-
Jangan menunggu gejala memburuk, karena PJB sering muncul tanpa tanda khas.
Kesimpulan
Penyakit jantung bawaan bukan vonis, tapi bisa diatasi jika dideteksi dan ditangani sejak dini. Gejala seperti cepat lelah, infeksi paru berulang, berat badan tidak naik, dan kesulitan menyusu adalah tanda peringatan yang tidak boleh diabaikan.
Dengan dukungan teknologi medis terkini seperti kateterisasi jantung, anak-anak dengan PJB kini memiliki peluang hidup normal dan sehat tanpa operasi besar.