7 Fakta Panas Demo DPR Ricuh karena Tunjangan Rp100 Juta, Motor Dibakar!

Fakta Panas Demo DPR Ricuh karena Tunjangan Rp100 Juta

FYP Media.ID – Jakarta kembali membara. Demo besar-besaran yang digelar sejumlah elemen masyarakat di depan Gedung DPR/MPR RI pada Senin (25/8) berakhir ricuh dan mencekam. Aksi tersebut menjadi sorotan publik karena memprotes gaji dan tunjangan anggota DPR yang ditaksir mencapai lebih dari Rp100 juta per bulan, di tengah kesulitan ekonomi yang menjerat banyak warga.

Apa saja pemicu dan fakta di balik demo yang berakhir dengan motor dibakar dan gas air mata ditembakkan? Berikut 7 fakta panas yang perlu kamu tahu:

1. Tuntutan Utama: Gaji dan Tunjangan DPR Rp100 Juta Dinilai Tidak Masuk Akal

Isu utama yang memicu kemarahan massa adalah tingginya gaji dan tunjangan DPR. Dalam orasinya, pendemo menuding bahwa di saat rakyat berjuang melawan harga kebutuhan pokok yang melonjak, para wakil rakyat justru menerima fasilitas mewah dan tunjangan berlebihan yang nilainya mencapai lebih dari Rp100 juta per bulan.

Tagar seperti #DPRMewahRakyatLemah dan #TolakTunjanganSultan pun viral di media sosial, memperkuat gelombang unjuk rasa ini.

2. Kericuhan Pecah Saat Massa Coba Jebol Pagar DPR

Sekitar pukul 12.50 WIB, suasana mulai panas saat massa aksi mencoba mendekati pagar utama Gedung DPR. Teriakan, dorongan, dan lemparan benda mulai terlihat. Situasi dengan cepat berubah dari damai menjadi kacau.

Polisi yang berjaga langsung menembakkan water cannon untuk membubarkan massa yang mulai anarkis.

3. Gas Air Mata Ditembakkan, Massa Balik Melawan

Upaya pembubaran tidak berjalan mulus. Massa balik menyerang dengan petasan, batu, dan botol. Polisi kemudian menembakkan gas air mata berkali-kali ke arah demonstran.

Kericuhan meluas ke Jalan Gatot Subroto dan Gerbang Pancasila, dengan sebagian massa menutup Jalan Gelora. Kepulan gas air mata dan asap hitam membumbung di udara.

4. Motor Dibakar, Pos Satpam DPR Dirusak

Situasi makin tidak terkendali saat massa berhasil menjebol pintu kecil Gedung DPR. Mereka menyeret masuk satu unit sepeda motor dan langsung membakarnya. Api besar disertai asap hitam mengepul tinggi di halaman gedung wakil rakyat.

Tak cukup sampai di situ, massa juga merusak pos satpam DPR, melempar kaca dan membalikkan meja. Beberapa bagian pagar bahkan dirobohkan paksa.

5. Bentrokan Berlanjut hingga Malam, Pos Polisi di GBK Dirusak

Pada malam harinya, bentrokan berlanjut di Jalan Gerbang Pemuda, dekat Pintu 11 Gelora Bung Karno (GBK). Kali ini, sebuah pos polisi (pospol) jadi sasaran amuk massa.

Sambil berteriak, “Woi jangan mundur, jangan lari!” sejumlah demonstran melemparkan batu ke arah pospol. Kaca pecah, tembok rusak, dan perabot hancur. Polisi yang berjaga langsung melakukan tindakan tegas dengan kembali menembakkan gas air mata dari arah Kemenpora.

Massa, yang diketahui sebagian besar pelajar dan kelompok anarko, panik dan lari ke arah Jalan Asia Afrika.

6. Polisi: 1.250 Personel Dikerahkan, Beberapa Demonstran Diamankan

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Ade Ary, menyayangkan aksi anarkis tersebut. Ia menyebut bahwa kerusakan terhadap fasilitas umum dan pembakaran motor dilakukan oleh oknum yang memanfaatkan situasi.

“Kami sudah menurunkan 1.250 personel gabungan dari Polri, TNI, dan Satpol PP untuk mengamankan aksi,” ujar Ade.

Beberapa demonstran, terutama dari kalangan pelajar dan kelompok anarko, telah diamankan oleh pihak kepolisian. Namun, jumlah pasti belum diumumkan secara resmi karena masih dalam proses pendataan.

7. Puan Maharani Janji DPR Terima Aspirasi Rakyat

Menanggapi demo yang memanas ini, Ketua DPR RI Puan Maharani akhirnya angkat bicara. Ia mengaku DPR siap mendengar dan menampung semua aspirasi dari masyarakat, termasuk soal tuntutan pemangkasan tunjangan anggota dewan.

“Kami minta semua masyarakat ikut membantu memperbaiki kinerja DPR. Mari kita sama-sama memperbaiki bangsa,” kata Puan dari Kompleks Istana Kepresidenan.

Namun, ia juga mengimbau masyarakat untuk tetap saling menghormati dalam menyampaikan pendapat. Terkait barikade dan beton yang dipasang di sekitar DPR, Puan menyebut hal itu demi keamanan bersama.

Analisis Singkat: Mengapa Demo DPR Ini Jadi Viral dan Meledak?

Demo ini mencerminkan kekecewaan publik yang sudah menumpuk. Di tengah krisis ekonomi, ketimpangan penghasilan antara pejabat dan rakyat kecil menjadi isu yang mudah menyulut emosi massa. Tambahan lagi, minimnya transparansi soal anggaran dan fasilitas DPR membuat masyarakat mudah curiga.

Apalagi dalam era media sosial, video pembakaran motor, gas air mata, dan pos rusak langsung viral—mendorong emosi publik makin panas. Penggunaan tagar dan meme politik juga mempercepat penyebaran isu ini ke ranah digital.

Kesimpulan: Krisis Kepercayaan, DPR Harus Introspeksi

Demo 25 Agustus 2025 jadi bukti nyata bahwa kepercayaan publik terhadap DPR sedang berada di titik kritis. Gaji dan tunjangan fantastis anggota DPR menjadi simbol ketidakadilan struktural, khususnya di mata generasi muda.

Jika tuntutan ini tidak segera ditanggapi dengan langkah nyata dan terbuka, aksi-aksi serupa sangat mungkin kembali membara, bahkan lebih besar.