7 Fakta Menegangkan Penculikan Rengasdengklok dan Susu Guntur Soekarno

7 Fakta Menegangkan Penculikan Rengasdengklok dan Susu Guntur Soekarno

FYP Media.ID – Kisah penculikan Rengasdengklok menjadi salah satu momen paling menegangkan dan bersejarah menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Di balik drama politik tingkat tinggi antara para pemuda dan tokoh-tokoh bangsa, terdapat juga cerita-cerita humanis yang kerap luput dari sorotan, seperti botol susu milik Guntur Soekarnoputra, putra pertama Bung Karno dan Fatmawati, yang tertinggal di rumah saat penculikan terjadi.

Berikut adalah 7 fakta mengejutkan dan menyentuh dari kisah penculikan Rengasdengklok, sebagaimana dikisahkan oleh Fatmawati dalam buku Fatmawati: Catatan Kecil Bersama Bung Karno.

1. Fatmawati Terbangun karena Suara Gaduh di Malam Hari

Pagi buta, tanggal 16 Agustus 1945, Fatmawati terbangun karena suara gaduh dari arah ruang makan. Ia tengah menemani Guntur yang masih bayi. Di luar kamar, ia melihat suaminya, Bung Karno, sedang berbincang serius dengan para pemuda dari kelompok Menteng 31.

Fatmawati menuliskan bahwa para pemuda tersebut tampak garang dan penuh semangat revolusioner. Beberapa di antara mereka bahkan membawa senjata tajam dan pistol, termasuk Sukarni yang mencabut pisau sambil berkata, “Berpakaianlah, Bung. Sudah tiba waktunya.”

2. Bung Karno Menolak Desakan Pemuda untuk Segera Proklamasi

Meski sudah tersebar kabar kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, Bung Karno dan Bung Hatta menolak proklamasi sepihak. Mereka menginginkan kemerdekaan Indonesia diputuskan secara sah melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Namun para pemuda menganggap keputusan itu terlalu lamban dan khawatir akan adanya intervensi Jepang jika kemerdekaan ditunda. Inilah yang mendorong terjadinya penculikan ke Rengasdengklok.

3. Fatmawati: “Ke mana Mas Pergi, Aku Ikut”

Setelah melihat ketegangan antara Bung Karno dan para pemuda, Fatmawati memutuskan untuk ikut. Bung Karno sempat bertanya apakah ia ingin turut serta, dan Fatmawati menjawab dengan mantap, “Fat sama Guntur ikut. Ke mana Mas pergi, di situ aku berada.”

Tak sempat membawa pakaian pribadi, Fatmawati hanya menggendong Guntur dengan selembar kain dan membawa perlengkapan bayi seadanya. Keputusan ini menunjukkan keberanian seorang istri pejuang yang siap mendampingi suami dalam situasi penuh ketidakpastian.

4. Botol Susu Guntur Tertinggal di Rumah

Salah satu momen paling menyentuh adalah ketika dalam perjalanan gelap menuju Rengasdengklok, Fatmawati menyadari bahwa susu bubuk Guntur tertinggal di rumah. Dalam kondisi panik dan cuaca dingin, mobil sempat kembali ke rumah di Pegangsaan untuk mengambilnya.

Cerita kecil ini menggambarkan sisi manusiawi dari peristiwa besar sejarah Indonesia—bahwa proklamasi kemerdekaan dimulai dengan tangisan bayi yang kehausan.

5. Pindah Kendaraan untuk Rahasiakan Lokasi Tujuan

Setelah mengambil susu Guntur, mereka diminta pindah dari sedan Fiat ke truk militer yang dikemudikan Iding. Strategi ini dilakukan agar sopir sedan tidak mengetahui lokasi tujuan mereka.

Tujuan mereka ternyata adalah Rengasdengklok, sebuah kota kecil di Karawang, tepatnya di asrama PETA (Pembela Tanah Air). Ruangannya sederhana, beralaskan tikar pandan, dengan cuaca dingin yang menusuk.

6. Hatta Diguyur Pipis Guntur, Tapi Tetap Kalem

Selama di Rengasdengklok, suasana santai sempat tercipta meski dalam tekanan revolusi. Fatmawati dan Bung Karno bergantian mengasuh Guntur, begitu pula Bung Hatta yang sempat menggendong Guntur hingga diguyur pipis di pangkuannya.

Alih-alih marah, Hatta tetap santai. Celana basah akibat kencing bayi itu tetap ia pakai hingga kering sendiri. Momen ini menjadi bukti bahwa para proklamator bukan hanya tokoh besar, tapi juga manusia biasa dengan empati luar biasa.

7. Kepulangan Bung Karno dan Isyarat Proklamasi

Sementara di Jakarta, kabar penculikan membuat panik banyak pihak. Ahmad Subardjo, anggota PPKI, akhirnya mengetahui lokasi Bung Karno dan Hatta di Rengasdengklok setelah negosiasi panjang dengan para pemuda.

Setelah kabar resmi kekalahan Jepang diumumkan, Bung Karno dan Hatta diizinkan kembali ke Jakarta pada malam hari, 16 Agustus 1945. Pukul 21.00 WIB, mereka tiba kembali, dan keesokan harinya, 17 Agustus 1945, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan di Pegangsaan Timur No. 56.

Kesimpulan

Kisah penculikan Rengasdengklok bukan hanya tentang strategi politik dan desakan revolusi. Di dalamnya ada potret keluarga, pengorbanan seorang ibu, dan momen-momen emosional yang mengiringi lahirnya kemerdekaan Indonesia. Dari suara gaduh di malam hari hingga susu Guntur yang tertinggal, semua menjadi bagian dari mozaik perjuangan bangsa.

Cerita ini mengajarkan kita bahwa sejarah besar sering dimulai dari hal-hal kecil dan personal. Semangat pemuda, keteguhan para tokoh bangsa, serta kasih seorang ibu—semuanya menyatu dalam detik-detik menuju 17 Agustus 1945.