5 Fakta Tragis Kecelakaan Kereta di Padang yang Tewaskan Anak Kapolres Solok

5 Fakta Tragis Kecelakaan Kereta di Padang yang Tewaskan Anak Kapolres Solok

FYP Media.ID – Insiden memilukan kembali terjadi di perlintasan kereta api sebidang di Kota Padang. Pada Kamis, 21 Agustus 2025, sebuah minibus berpenumpang tujuh orang dihantam oleh kereta api di kawasan Jati. Tragedi ini menewaskan dua orang, salah satunya adalah Nabila Khairunisa, putri dari Kapolres Kota Solok, AKBP Mas’ud Ahmad, dan juga cucu dari keluarga besar Polri. Peristiwa ini mengejutkan publik dan menyita perhatian nasional.

Berikut adalah 5 fakta penting dan memilukan dari kecelakaan maut di Padang yang menewaskan anak pejabat polisi tersebut.

1. Korban Tewas: Anak Kapolres Solok dan Satu Penumpang Lain

Kecelakaan ini merenggut dua nyawa, salah satunya adalah Nabila Khairunisa, anak pertama dari dua bersaudara dan putri kesayangan dari Kapolres Solok. Diketahui bahwa ibunya juga merupakan seorang anggota Polri. Nabila menumpang sebuah minibus putih bersama enam orang lainnya.

Kecelakaan tragis ini terjadi ketika mobil mereka melintasi perlintasan kereta tanpa palang pintu. Kereta api yang melintas dari arah Simpang Haru menuju Stasiun Tabing tidak sempat berhenti atau memperlambat laju karena situasi tidak memungkinkan. Akibat benturan keras tersebut, dua penumpang meninggal dunia di lokasi kejadian, sementara lima lainnya mengalami luka-luka dan langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat.

2. Lokasi Rawan: Perlintasan Sebidang Tanpa Palang Pintu di Jati, Padang

Kawasan Jati, Kota Padang, dikenal memiliki sejumlah perlintasan sebidang yang rawan kecelakaan. Banyak dari perlintasan ini tidak memiliki palang pintu resmi, sehingga mengandalkan kehati-hatian pengguna jalan. Warga sekitar menyebut bahwa kecelakaan di lokasi tersebut bukan kali pertama terjadi. Bahkan, beberapa tahun terakhir tercatat beberapa kasus serupa yang berujung pada korban jiwa.

Minimnya pengawasan serta tidak adanya sistem pengamanan seperti palang otomatis dan penjaga perlintasan membuat jalur ini sangat berbahaya. Perlintasan semacam ini memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, PT KAI, hingga masyarakat itu sendiri.

3. Pernyataan Resmi PT KAI: Keselamatan adalah Prioritas

Menanggapi insiden mengenaskan ini, PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengeluarkan pernyataan resmi yang disampaikan oleh Vice President Public Relations, Anne Purba. Dalam keterangannya pada Jumat (22/08/2025), pihak KAI menyampaikan belasungkawa mendalam atas insiden yang merenggut nyawa dua warga sipil.

“Dengan hati yang penuh duka, PT Kereta Api Indonesia Persero menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas kecelakaan yang terjadi di perlintasan sebidang,” ujar Anne Purba.

Anne menegaskan bahwa keselamatan adalah prioritas utama dalam seluruh operasi KAI. Ia juga menyebutkan bahwa insiden seperti ini menjadi pengingat keras bagi semua pihak bahwa masih banyak pekerjaan rumah dalam hal keamanan perlintasan.

4. Langkah Nyata: Edukasi, Teknologi, dan Disiplin Kolektif

Dalam pernyataan lanjutan, Anne Purba menyebut bahwa PT KAI terus berupaya memperkuat sistem keselamatan dengan menggabungkan teknologi dan edukasi masyarakat. Beberapa langkah strategis yang kini terus diperkuat adalah:

  • Penambahan rambu dan sistem pengamanan aktif di perlintasan sebidang

  • Pemasangan palang pintu otomatis dan sensor pergerakan

  • Sosialisasi keselamatan berlalu lintas di area rel kereta

  • Pelatihan kepada masyarakat dan pengguna jalan tentang risiko menyeberang rel tanpa pengawasan

Meski demikian, Anne menegaskan bahwa disiplin bersama adalah kunci. Tanpa partisipasi aktif dari pengguna jalan, edukasi dan teknologi tak akan banyak membantu.

5. Desakan Penutupan dan Perbaikan Perlintasan Rawan

Setelah insiden tragis ini, publik mendorong agar pemerintah dan KAI menutup perlintasan sebidang yang tidak aman dan segera membangun flyover atau underpass di titik-titik rawan. Banyak pihak menilai bahwa solusi sementara seperti penjaga sukarelawan atau rambu manual tidak cukup efektif.

Beberapa anggota DPRD Kota Padang menyuarakan perlunya penganggaran khusus untuk infrastruktur keselamatan kereta api, khususnya di daerah padat kendaraan seperti Jati. Dengan lalu lintas yang semakin padat dan kereta yang beroperasi lebih sering, potensi kecelakaan akan terus menghantui warga jika tidak segera ditindaklanjuti.

Tragedi yang Menggugah: Saatnya Berbenah Bersama

Kematian Nabila Khairunisa, seorang remaja dari keluarga Polri, membawa luka mendalam bagi keluarga, institusi, dan masyarakat luas. Namun lebih dari itu, kejadian ini harus menjadi cermin bagi kita semua bahwa keselamatan di perlintasan kereta adalah tanggung jawab bersama.

Perlu ada langkah konkret, sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, PT KAI, dan masyarakat, demi menciptakan lingkungan transportasi yang aman. Jangan sampai nyawa kembali menjadi taruhan hanya karena kelalaian atau keterlambatan pembangunan infrastruktur keselamatan.

Kesimpulan: Tragedi yang Harus Jadi Titik Balik

Kecelakaan di Padang yang menewaskan anak Kapolres Solok adalah peringatan keras bagi semua pihak. Perlintasan sebidang tanpa pengaman jelas bukan hanya masalah teknis, tetapi soal nyawa manusia. Dengan jumlah korban jiwa yang terus bertambah dari tahun ke tahun, sudah waktunya semua pihak bergerak cepat.

Jangan tunggu korban berikutnya jatuh. Saatnya bertindak sekarang!