2 Warga Sipil Tewas dalam 48 Jam: Teror KKB Papua di Intan Jaya & Yahukimo

2 Warga Sipil Tewas dalam 48 Jam: Teror KKB Papua di Intan Jaya & Yahukimo

FYP Media.ID – Situasi keamanan di Papua kembali menjadi sorotan nasional. Dalam kurun waktu kurang dari 48 jam, dua warga sipil tak bersalah menjadi korban kebrutalan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di dua kabupaten berbeda: Intan Jaya dan Yahukimo. Aksi teror yang dilakukan oleh KKB ini menambah panjang daftar kekerasan terhadap masyarakat sipil di Tanah Papua.

Kedua kejadian ini memperlihatkan bahwa kelompok separatis bersenjata masih terus beroperasi dan menebar ketakutan, dengan pola kekerasan yang makin brutal dan terorganisir.

Korban Pertama: Joni Hendra Tewas Ditembak Saat Jualan di Kios

Korban pertama, Joni Hendra, ditembak mati saat sedang berdagang di Kios Kampung Wandoga, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, pada Jumat (25 Juli 2025) sekitar pukul 13.40 WIT. Pelaku yang diidentifikasi sebagai Yonial Kobogah, anggota KKB pimpinan Apen Kobogau, secara tiba-tiba mendekati kios dan melepaskan tembakan dari jarak tujuh meter menggunakan senjata api laras pendek.

“Korban saat itu sedang melayani pembeli pinang. Tanpa peringatan, pelaku langsung menembak dari jarak dekat, lalu melarikan diri ke arah perbukitan,” ungkap Brigjen Faizal Ramadhani, Kepala Operasi Damai Cartenz.

Korban sempat dilarikan ke Puskesmas Bilorai sekitar pukul 13.45 WIT, namun nyawanya tidak tertolong akibat luka tembak parah.

Respons Cepat Satgas Damai Cartenz: Kejar Pelaku Tanpa Henti

Hanya 15 menit setelah insiden, Satgas Operasi Damai Cartenz langsung merespons, mengamankan lokasi dan memulai operasi pengejaran terhadap pelaku.

“Kami tidak akan memberikan ruang sedikit pun bagi kelompok bersenjata yang membunuh warga sipil. Mereka akan diburu dan ditindak tegas,” tegas Brigjen Faizal.

Pelaku, Yonial Kobogah, diketahui juga terlibat dalam aksi penembakan di Bandara Bilorai Sugapa pada waktu sebelumnya. Dengan rekam jejak kekerasan tersebut, Satgas menegaskan akan menggunakan segala sumber daya untuk menangkap pelaku hidup atau mati.

Korban Kedua: Andi Hasan Ditikam Hingga Tewas di Yahukimo

Belum habis duka dari Intan Jaya, 24 jam sebelumnya, seorang pria bernama Andi Hasan (30) ditemukan tewas dengan empat luka tusuk di Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Kamis (24 Juli 2025) sekitar pukul 20.10 WIT.

Menurut keterangan saksi, korban sedang duduk di rumah ketika didatangi tiga pria, salah satunya membawa senjata tajam. Tanpa banyak bicara, mereka langsung menikam korban berkali-kali di dada dan punggung. Korban sempat melarikan diri dan dibawa ke RSUD Dekai, namun nyawanya tidak tertolong.

“Hasil autopsi menunjukkan luka tusuk parah di dada kiri dan punggung. Sementara motif dan identitas pelaku masih dalam penyelidikan,” jelas Brigjen Faizal.

Keterlibatan KKB Diduga Kuat di Kedua Kasus

Meski belum ditetapkan secara resmi, Satgas Damai Cartenz mendalami kuatnya indikasi bahwa KKB berada di balik dua aksi brutal ini. Klaim tersebut dikuatkan oleh pernyataan publik dari TPNPB-OPM di media sosial.

“Juru bicara TPNPB, Sebby Sambom, mengklaim telah membunuh seorang agen militer. Padahal, korban adalah warga sipil murni. Ini bukti propaganda kebohongan yang dilakukan KKB,” tegas Faizal.

Klaim palsu seperti ini menjadi strategi licik yang terus digunakan kelompok separatis untuk mencari pembenaran atas tindakan teror yang mereka lakukan terhadap warga sipil.

Dampak Psikologis: Masyarakat Resah dan Trauma

Warga sekitar lokasi penembakan dan penikaman kini hidup dalam ketakutan. Mereka merasa tidak aman di rumah sendiri. Banyak warga yang memilih mengungsi secara mandiri ke daerah yang dianggap lebih aman atau ke pos aparat keamanan terdekat.

“Kami takut. Setiap suara keras langsung bikin kaget. Kami cuma ingin hidup tenang tanpa ancaman senjata,” ungkap salah satu warga Sugapa yang tak ingin disebutkan namanya.

Seruan Satgas: Masyarakat Jangan Terprovokasi, Laporkan Jika Tahu Pelaku

Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz, Kombes Yusuf Sutejo, mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpancing provokasi. Ia juga mengajak seluruh warga untuk berpartisipasi aktif dalam menjaga keamanan wilayah.

“Laporkan ke aparat jika tahu keberadaan pelaku. Keamanan warga sipil adalah prioritas kami,” ujarnya.

Satgas juga mengintensifkan pengamanan dan patroli rutin di daerah-daerah rawan KKB, serta mendirikan posko layanan pengaduan dan trauma healing.

KKB Papua: Teroris yang Makin Brutal dan Kejam

KKB Papua bukan lagi sekadar kelompok separatis. Aksi mereka telah menyasar warga sipil tak bersenjata, termasuk pedagang kecil, guru, hingga pekerja proyek.

Banyak pengamat menyebut bahwa KKB kini semakin mirip dengan kelompok teroris, karena:

  • Menyasar warga sipil secara acak

  • Menggunakan kekerasan untuk menciptakan ketakutan

  • Menyebarkan propaganda melalui media sosial

  • Memiliki rantai suplai senjata dari luar negeri (Filipina & PNG)

Pemerintah Harus Bertindak Tegas dan Terstruktur

Kasus ini menunjukkan perlunya pendekatan keamanan yang tegas, terpadu, dan berbasis intelijen, agar kekejaman ini tidak terus berulang.

Langkah strategis yang perlu diperkuat meliputi:

  • Perburuan lintas wilayah dan udara terhadap anggota KKB

  • Pemutusan rantai logistik senjata dari luar negeri

  • Deradikalisasi masyarakat yang terpapar paham separatis

  • Peningkatan sistem intelijen lokal

Kesimpulan: Dua Nyawa Melayang, Papua Butuh Perlindungan Nyata

Kematian Joni Hendra dan Andi Hasan dalam waktu kurang dari dua hari adalah alarm keras bagi seluruh pihak, bahwa keamanan di Papua masih jauh dari kata aman. KKB tidak hanya menjadi ancaman nasional, tapi juga musuh bagi rakyat Papua sendiri.

Sudah saatnya seluruh komponen bangsa bersatu, tak hanya TNI-Polri dan pemerintah, tapi juga masyarakat sipil, tokoh agama, dan komunitas lokal. Papua adalah bagian tak terpisahkan dari Indonesia, dan warganya berhak mendapatkan rasa aman yang setara.

“Kami akan terus memburu pelaku hingga ke liang semut. Tidak ada tempat bagi pelaku teror di bumi Indonesia,” pungkas Brigjen Faizal Ramadhani.