Writer: Raodatul - Rabu, 28 Januari 2026 17:27:04
FYPMedia.id - Fenomena jam kerja berlebihan (overwork) kini menjadi ancaman serius bagi kesehatan jutaan pekerja di Indonesia. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sebagian besar tenaga kerja nasional masih harus menghadapi beban kerja yang melampaui batas wajar.
Kondisi ini tak hanya berdampak pada kelelahan fisik, tetapi juga berpotensi memicu penyakit mematikan seperti stroke dan penyakit jantung.
Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), sebanyak 25,47 persen pekerja di Indonesia bekerja lebih dari 49 jam per minggu. Artinya, sekitar satu dari empat pekerja menjalani pola kerja yang masuk kategori overwork.
Jika dikaitkan dengan total jumlah pekerja nasional yang mencapai 146,54 juta orang, maka puluhan juta pekerja Indonesia berada dalam risiko kesehatan jangka panjang.
BPS: Hampir Separuh Pekerja Hadapi Jam Kerja Panjang
Data BPS per Agustus 2025 mencatat distribusi jam kerja pekerja Indonesia sebagai berikut:
- Jam kerja 1–34 jam per minggu: 32,68 persen
- Jam kerja 35–48 jam per minggu: 40,43 persen
- Jam kerja lebih dari 49 jam per minggu: 25,47 persen
- Tidak bekerja/0 jam: 1,42 persen
Kelompok pekerja dengan jam kerja 35–48 jam per minggu menjadi yang paling dominan. Jika dikonversi ke jam harian, kelompok ini bekerja sekitar 7 hingga hampir 10 jam per hari dalam skema lima hari kerja.
Sementara itu, kelompok dengan jam kerja lebih dari 49 jam per minggu menunjukkan adanya tekanan produktivitas yang tinggi di berbagai sektor.
Baca Juga: Tragis! Overwork Renggut Nyawa, Ini Dampak Fatal Kerja Berlebihan
Usia Produktif Jadi Penyumbang Terbesar Overwork
Fenomena overwork paling banyak dialami oleh penduduk usia produktif. BPS mencatat, kelompok usia 35–44 tahun menjadi penyumbang terbesar pekerja dengan jam kerja berlebih, yakni sekitar 9,5 juta orang.
Disusul kelompok usia 25–34 tahun sebanyak 8,71 juta orang, serta kelompok usia 45–54 tahun sekitar 8,38 juta pekerja.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa pekerja yang berada pada fase puncak karier justru paling rentan mengalami kelelahan kronis.
Tekanan target, tanggung jawab finansial, serta tuntutan profesional membuat banyak pekerja terjebak dalam pola kerja panjang yang berulang.
Kemenkes Ingatkan Bahaya Kesehatan Akibat Overwork
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, menegaskan bahwa overtime tidak selalu berbahaya, selama tubuh masih mendapatkan keseimbangan yang cukup antara kerja, istirahat, dan gaya hidup sehat.
"Yang pasti kan tubuh kita butuh mekanisme untuk menjaga metabolisme, jadi kalau misalnya asupan gizi kita baik, sebenarnya work life balance, olahraganya tetap ada, itu aman," ujar dr. Nadia saat ditemui di Kementerian Kesehatan RI, Selasa (27/1/2026).
Namun, ia mengingatkan bahwa masalah muncul ketika jam kerja panjang tidak diimbangi dengan istirahat yang cukup, pola makan sehat, dan aktivitas fisik.
Dalam kondisi tersebut, tubuh akan mengalami gangguan metabolisme yang berpotensi memicu penyakit tidak menular.
Sinyal Bahaya dari Tubuh Kerap Diabaikan
Menurut dr. Nadia, tubuh manusia memiliki mekanisme adaptasi tertentu terhadap kelelahan. Akan tetapi, ketika kelelahan terjadi secara terus-menerus, tubuh mulai mengirimkan sinyal bahaya yang sering kali diabaikan oleh pekerja.
"Jadi harus dipastikan kondisi-kondisinya overtime seperti apa, selama tubuh kita masih bisa adaptasi dengan kondisi tersebut, tidak apa-apa," katanya.
Masalah muncul ketika overtime sudah melampaui kemampuan adaptasi tubuh. Pada fase ini, risiko gangguan kesehatan meningkat secara signifikan.
"Tapi kalau overtime sudah berlebihan pasti misalnya tensi bisa naik gula darah bisa naik karena metabolisme kita terganggu, otomatis kalau tensi naik gula darah naik sering pusing itu lama-lama bisa berpotensi gula naik tensi naik, dan nanti menjadi penyakit jantung stroke, karena semua berawal dari terlalu capek," pungkasnya.
Baca Juga: 5 Tanda Kamu Mengalami Overworked yang Mungkin Tidak Kamu Sadari
Overwork dan Bom Waktu Penyakit Tidak Menular
Penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dan stroke kini menjadi penyebab utama kematian di Indonesia.
Pola kerja berlebihan mempercepat munculnya faktor risiko PTM melalui gangguan metabolisme, tekanan darah tinggi, serta peningkatan kadar gula darah.
Dalam jangka panjang, kelelahan kronis dapat mengganggu sistem kardiovaskular, memicu peradangan, serta memperburuk fungsi organ vital. Kondisi ini menjadikan overwork sebagai bom waktu kesehatan nasional yang dampaknya tidak bisa diabaikan.
Dampak Overwork Menurut Studi Global
Dikutip dari Cleveland Clinic, bekerja terlalu keras dalam jangka panjang dapat berdampak negatif terhadap kesehatan fisik dan mental, di antaranya:
- Infeksi dan penyakit yang lebih sering terjadi
- Sistem kekebalan tubuh melemah
- Gangguan kesehatan mental seperti depresi
- Gangguan kognitif, termasuk brain fog
- Masalah kardiovaskular seperti tekanan darah tinggi dan jantung berdebar
- Gangguan tidur kronis
- Perubahan berat badan dan pola makan
- Cedera dan kecelakaan kerja
- Risiko penyalahgunaan alkohol dan zat adiktif
Efek ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga menurunkan produktivitas jangka panjang dan meningkatkan beban sistem kesehatan nasional.
Stres Kerja dan Peran Hormon Kortisol
Sementara itu, National Geographic mencatat bahwa kerja berlebihan memicu stres kronis yang berdampak langsung pada keseimbangan hormon dalam tubuh.
Stres meningkatkan kadar hormon kortisol, yang berperan dalam pengaturan gula darah dan sistem kekebalan tubuh.
Dalam jangka panjang, kadar kortisol yang tinggi dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti:
- Tekanan darah tinggi
- Sakit kepala kronis
- Gangguan pencernaan
- Kecemasan dan depresi
- Penyakit jantung dan serangan jantung
- Stroke
- Gangguan tidur
Jika stres berlangsung terus-menerus tanpa penanganan, tubuh akan kehilangan kemampuan untuk pulih secara optimal.
Baca Juga: 10 Tips Produktif Bekerja dari Rumah Tanpa Kehilangan Fokus
Produktivitas Tinggi, Risiko Tinggi
Ironisnya, jam kerja panjang sering kali dipersepsikan sebagai indikator loyalitas dan produktivitas.
Padahal, berbagai studi menunjukkan bahwa produktivitas justru menurun ketika tubuh dan pikiran kelelahan. Overwork dalam jangka panjang bukan hanya merugikan pekerja, tetapi juga perusahaan dan negara.
Kondisi ini menegaskan pentingnya pendekatan work-life balance sebagai bagian dari strategi kesehatan publik dan kebijakan ketenagakerjaan.
Pentingnya Kesadaran Individu dan Peran Perusahaan
Para ahli menilai, upaya pencegahan dampak overwork harus dilakukan dari dua arah. Pertama, dari sisi individu dengan meningkatkan kesadaran akan batas kemampuan tubuh.
Kedua, dari sisi perusahaan dan regulator melalui kebijakan jam kerja yang manusiawi serta lingkungan kerja yang sehat.
Mengenali tanda kelelahan, menjaga pola makan, berolahraga secara rutin, dan memastikan waktu istirahat yang cukup menjadi langkah sederhana namun krusial untuk mencegah dampak kesehatan serius.
Penutup: Overwork Bukan Sekadar Masalah Jam Kerja
Fenomena overwork di Indonesia bukan sekadar persoalan panjangnya jam kerja, melainkan isu kesehatan masyarakat yang berdampak luas.
Dengan jutaan pekerja berada dalam risiko, ancaman penyakit jantung dan stroke menjadi nyata jika pola kerja tidak segera dibenahi.
Peringatan dari data BPS dan Kementerian Kesehatan seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak. Tanpa perubahan pola kerja dan gaya hidup, kelelahan kronis akan terus menjadi pintu masuk bagi penyakit mematikan.
Disclaimer: Informasi ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan nasihat medis profesional. Konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan tenaga medis apabila mengalami keluhan berkelanjutan.