Writer: Raodatul - Senin, 12 Januari 2026 14:13:09
FYPMedia.id - Masuk ke dunia investasi tidak cukup hanya bermodal uang dan keberanian. Salah satu fondasi terpenting yang wajib dipahami investor pemula adalah return investasi atau imbal hasil.
Return menjadi indikator utama untuk menilai apakah sebuah keputusan investasi memberikan keuntungan atau justru berujung kerugian.
Setiap instrumen investasi di pasar modal, mulai dari saham, obligasi, sukuk, hingga reksa dana, memiliki karakteristik return yang berbeda.
Karena itu, pemahaman mendalam tentang jenis-jenis return, cara menghitungnya, serta faktor-faktor yang memengaruhinya menjadi bekal krusial sebelum terjun ke pasar modal.
Pengertian Return Investasi
Secara sederhana, return adalah keuntungan atau kerugian yang diperoleh investor dari aktivitas investasi dalam periode tertentu. Return bisa dinyatakan dalam bentuk nominal rupiah maupun persentase.
Eduardus Tandelilin (2001:47) menjelaskan bahwa return merupakan salah satu faktor utama yang memotivasi investor untuk berinvestasi, sekaligus menjadi kompensasi atas risiko yang ditanggung.
Dalam praktiknya, return tidak selalu bernilai positif. Return negatif menandakan bahwa nilai investasi mengalami penurunan atau kerugian. Dari sinilah muncul prinsip klasik di dunia investasi: high risk, high return, yang berarti semakin besar risiko, semakin besar pula potensi imbal hasilnya.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menegaskan pentingnya pemahaman return sebelum mulai berinvestasi. Dalam unggahan resminya, OJK menyampaikan:
"Kenali jenis return investasi sebelum mulai berinvestasi," tulis OJK dalam unggahan di akun Instagram @ojkindonesia, dikutip pada Senin (12/1/2026).
Baca Juga: 5 Manfaat Investasi Emas di Usia 20-an, Biar Masa Depan Nggak Cuma Wacana!
Fungsi Return sebagai Tolok Ukur Investasi
Return tidak hanya berfungsi sebagai hasil akhir investasi, tetapi juga menjadi tolok ukur kinerja suatu instrumen.
Investor dapat membandingkan return antar instrumen untuk menentukan pilihan investasi yang paling sesuai dengan tujuan keuangan dan profil risiko.
Dalam reksa dana, return mencerminkan kinerja Manajer Investasi (MI) dalam mengelola dana. Sementara dalam saham, return sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga pasar, kinerja emiten, kondisi ekonomi nasional, hingga sentimen global.
Jenis-Jenis Return Investasi Menurut OJK
OJK mengelompokkan return investasi ke dalam beberapa jenis utama yang perlu dipahami investor.
1. Capital Gain (Keuntungan Modal)
Capital gain adalah keuntungan yang diperoleh dari selisih antara harga beli dan harga jual aset investasi. Return ini muncul ketika investor menjual aset dengan harga lebih tinggi dibandingkan harga saat membeli.
Capital gain umum dijumpai pada instrumen seperti saham, obligasi, sukuk, dan reksa dana. Namun, jika harga jual lebih rendah dari harga beli, kondisi tersebut disebut capital loss.
2. Pendapatan Pasif atau Periodik
Selain capital gain, investor juga bisa memperoleh pendapatan rutin selama masa kepemilikan aset. Pendapatan ini bersifat periodik dan relatif lebih stabil.
OJK menjelaskan bahwa pendapatan pasif terdiri dari dua bentuk utama, yaitu dividen dan kupon/bunga.
"Total return merupakan kombinasi dari capital gain dan pendapatan periodik yang diterima investor selama periode investasi," tambah OJK.
Dividen
Dividen adalah pembagian laba perusahaan kepada pemegang saham. Jenis return ini cocok bagi investor yang mengincar passive income, terutama dari saham-saham berfundamental kuat dan konsisten membagikan dividen.
Kupon atau Bunga
Kupon atau bunga merupakan pendapatan rutin yang diterima investor obligasi atau sukuk. Return ini diminati investor yang menginginkan arus kas stabil dan terjadwal.
Baca Juga: Arab Saudi Gebrak Pasar Modal Global, Investor Asing Bebas Masuk 2026
Komponen Utama Return Investasi
Secara umum, return investasi terdiri dari dua komponen utama, yaitu yield dan capital gain.
Yield adalah persentase pendapatan kas yang diterima investor secara periodik, seperti bunga deposito, kupon obligasi, dan dividen saham.
Capital gain merupakan selisih antara nilai investasi saat ini dengan nilai investasi pada periode sebelumnya.
Tidak semua instrumen investasi memberikan capital gain. Tabungan dan deposito, misalnya, hanya memberikan yield berupa bunga tanpa potensi kenaikan harga aset.
Return Realisasi dan Return Ekspektasi
Dalam analisis investasi, return juga dibedakan berdasarkan waktu pencapaiannya.
1. Return Realisasi: Return realisasi adalah imbal hasil yang benar-benar telah terjadi dan dihitung berdasarkan data historis. Return ini sering digunakan untuk mengevaluasi kinerja investasi di masa lalu.
2. Return Ekspektasi: Return ekspektasi adalah tingkat pengembalian yang diharapkan akan diperoleh di masa depan.
Suad Husnan (2005) menjelaskan bahwa return ekspektasi sangat bergantung pada prospek perusahaan dan kondisi ekonomi ke depan.
Ketika investasi telah berakhir dan hasilnya benar-benar diterima, return ekspektasi tersebut berubah menjadi return realisasi.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Return Investasi
Besarnya return investasi tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi berbagai faktor eksternal dan internal.
1. Suku Bunga: Kenaikan suku bunga cenderung menekan harga saham dan nilai investasi karena investor beralih ke instrumen berbunga tetap.
2. Inflasi: Inflasi tinggi meningkatkan biaya hidup dan modal investasi, sehingga dapat menggerus nilai riil return.
3. Nilai Tukar: Fluktuasi nilai tukar memengaruhi return, terutama pada saham perusahaan berorientasi ekspor-impor.
4. Risiko Likuiditas: Instrumen dengan likuiditas tinggi lebih mudah diperjualbelikan tanpa perubahan harga signifikan.
5. Risiko Pasar: Kondisi pasar modal yang bullish atau bearish sangat menentukan tingkat return yang bisa dicapai investor.
Cara Menghitung Return Investasi
Return dapat dihitung dengan rumus sederhana: (Harga Sekarang – Harga Beli) × Jumlah Unit
Contoh Perhitungan Return Positif
Jika membeli 100 unit reksa dana seharga Rp110.000 dan harga naik menjadi Rp125.000: (Rp125.000 – Rp110.000) × 100 = Rp1.500.000
Contoh Return Negatif
Jika harga turun menjadi Rp95.000: (Rp95.000 – Rp110.000) × 100 = -Rp1.500.000
Return negatif menunjukkan kerugian yang belum terealisasi selama unit belum dijual.
Return dalam Investasi Properti
Return tidak hanya berlaku di pasar modal. Dalam investasi properti, return diperoleh dari selisih harga beli dan harga jual.
Sebagai contoh, properti yang dibeli seharga Rp700 juta dan dijual dua tahun kemudian seharga Rp800 juta menghasilkan return sebesar Rp100 juta.
Baca Juga: Berapa Minimal Investasi Saham untuk Mencapai Financial Freedom?
Hubungan Return dan Risiko
Investor tidak bisa membicarakan return tanpa membahas risiko. Reilly dan Brown (2003:10) mendefinisikan risiko sebagai ketidakpastian tercapainya return yang diharapkan.
Berbagai sumber risiko dalam investasi antara lain:
Risiko suku bunga
Risiko pasar
Risiko inflasi
Risiko bisnis
Risiko finansial
Risiko likuiditas
Risiko nilai tukar
Risiko negara
Tujuan utama investor adalah memaksimalkan return dengan tingkat risiko yang dapat ditoleransi.
Diversifikasi sebagai Strategi Mengoptimalkan Return
Salah satu strategi paling efektif untuk menekan risiko tanpa mengorbankan return adalah diversifikasi. Prinsip ini dipopulerkan oleh Harry Markowitz melalui Teori Portofolio Modern dengan ungkapan legendaris:
“Do not put all the eggs in one basket.” Dengan menyebar investasi ke berbagai instrumen dan sektor, investor dapat mengurangi dampak kerugian dari satu aset tertentu.
Waspada Janji Return Tinggi
Investor juga diingatkan untuk waspada terhadap penawaran investasi dengan janji return tinggi dan risiko rendah. Pola tersebut sering kali menjadi ciri investasi bodong. Return yang wajar selalu sebanding dengan risiko yang diambil.
Memahami return investasi adalah langkah awal yang tidak boleh diabaikan investor pemula. Dengan mengenali jenis return, faktor-faktor yang memengaruhinya, serta cara menghitungnya, investor dapat membuat keputusan yang lebih rasional dan terukur.
Return bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari strategi, disiplin, dan pemahaman risiko. Dengan pendekatan yang tepat, return optimal bukan lagi sekadar harapan, melainkan tujuan yang realistis.