FYP
Media
Memuat Halaman...
0%
Bos OJK–BEI Mundur, Pasar Saham RI Diguncang Isu MSCI

News

Bos OJK–BEI Mundur, Pasar Saham RI Diguncang Isu MSCI

Writer: Raodatul - Sabtu, 31 Januari 2026 14:26:36

Bos OJK–BEI Mundur, Pasar Saham RI Diguncang Isu MSCI
Sumber gambar: Tiga pejabat sebelum mengundurkan diri: Mahendra Siregar (Ketua OJK/tengah), Iman Rachman (Dirut BEI/kiri), Inarno Djajadi (Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal/kanan).Foto: Andi Hidayat/detikcom

FYPMedia.id - Pasar modal Indonesia diguncang kabar besar pada Jumat, 30 Januari 2026. Sejumlah pejabat puncak di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) secara mengejutkan menyatakan mundur dari jabatannya. 

Peristiwa ini terjadi di tengah tekanan hebat di pasar saham nasional yang dipicu sentimen global, terutama keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan penurunan peringkat oleh Goldman Sachs.

Pengunduran diri dilakukan secara beruntun oleh tokoh-tokoh kunci yang selama ini memegang peranan strategis dalam menjaga stabilitas dan kredibilitas pasar modal Indonesia. 

Kondisi ini memicu reaksi beragam dari pelaku pasar, analis, hingga investor asing yang tengah mencermati arah kebijakan dan kepemimpinan regulator ke depan.

Daftar Pejabat yang Mengundurkan Diri

Gelombang pengunduran diri dimulai dari Bursa Efek Indonesia. Direktur Utama BEI, Iman Rachman, secara terbuka menyatakan mundur sebagai bentuk tanggung jawab moral atas kondisi pasar yang mengalami koreksi tajam dalam dua hari perdagangan berturut-turut.

"Dua hari terakhir bagaimana kondisi market kita dua hari terakhir, ya walaupun kondisi kita pagi hari ini membaik, saya ingin menyampaikan statement dan ini tidak ada tanya-jawab bahwa saya sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia dan sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap apa yang terjadi dua hari kemarin, menyatakan mengundurkan diri," ujar Iman kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, dilansir dari detikcom, Sabtu (31/1/2026).

Baca Juga: BEI Cabut Suspensi 4 Saham Hari Ini: Ini Daftar Emiten dan Dampaknya!

Tak berselang lama, pengunduran diri juga datang dari jajaran pimpinan Otoritas Jasa Keuangan. Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar resmi melepas jabatannya, diikuti oleh Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon (PMDK) OJK, Inarno Djajadi, serta Deputi Komisioner Pengawas Emiten dan Transaksi Efek, IB Aditya Jayaantara.

Dalam keterangan resminya, OJK menyebut langkah tersebut sebagai bentuk tanggung jawab moral.

"Mahendra Siregar menyatakan bahwa pengunduran dirinya bersama KE PMDK dan DKTK merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk mendukung terciptanya langkah pemulihan yang diperlukan," tulis siaran pers OJK.

Tak berhenti di situ, pada Jumat malam, Wakil Ketua OJK Mirza Adityaswara juga menyusul mengundurkan diri. OJK memastikan pengunduran diri para pimpinan tidak akan mengganggu fungsi kelembagaan.

"OJK menegaskan bahwa proses pengunduran diri ini tidak mempengaruhi pelaksanaan tugas, fungsi, dan kewenangan OJK dalam mengatur, mengawasi, serta menjaga stabilitas sektor jasa keuangan secara nasional," dikutip dari keterangan tertulis OJK.

IHSG Anjlok dan Trading Halt Beruntun

Mundurnya para pejabat tersebut tidak bisa dilepaskan dari kondisi pasar saham yang tengah bergejolak. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada Rabu dan Kamis, 28–29 Januari 2026, hingga memaksa BEI memberlakukan trading halt sebanyak dua kali.

Pada Rabu (28/1/2026), IHSG anjlok lebih dari 8 persen dan perdagangan dihentikan sementara pada pukul 13.43 WIB hingga 14.13 WIB. Hingga penutupan hari itu, IHSG melemah 7,35 persen ke level 8.320,55, disertai aksi jual investor asing (net sell) sebesar Rp 6,17 triliun.

Keesokan harinya, Kamis (29/1), IHSG kembali tertekan hingga 8 persen pada sesi I, memicu trading halt kedua pada pukul 09.26 WIB. Pada penutupan perdagangan, IHSG masih terkoreksi 1,06 persen ke level 8.232,20 dengan net sell asing mencapai Rp 4,44 triliun.

Tekanan tersebut mulai mereda pada Jumat (30/1), ketika IHSG berhasil rebound dan ditutup menguat 1,81 persen ke level 8.329,60. Meski demikian, secara akumulatif investor asing masih mencatatkan net sell Rp 1,53 triliun dalam sehari dan Rp 7,75 triliun sepanjang tahun 2026.

Baca Juga: KPK Geledah Kantor OJK Terkait Kasus Korupsi CSR Bank Indonesia

Sentimen MSCI Jadi Biang Tekanan Pasar

Anjloknya IHSG dipicu sentimen kuat dari MSCI. Pada Selasa (27/1) waktu setempat, MSCI mengumumkan pembekuan sejumlah aspek penting dalam indeks saham Indonesia yang akan berlaku pada Februari 2026.

Kebijakan tersebut meliputi pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), pembekuan penambahan konstituen dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta pembekuan promosi saham dari Small Cap ke Standard Index.

Dalam pernyataannya, MSCI menyebut langkah ini dilakukan untuk mengurangi risiko investability dan memberi waktu kepada otoritas pasar Indonesia untuk meningkatkan transparansi. MSCI juga membuka peluang evaluasi ulang status Indonesia jika tidak ada perbaikan hingga Mei 2026, termasuk risiko penurunan bobot saham Indonesia di Indeks Pasar Emerging Market atau bahkan reklasifikasi menjadi Frontier Market.

Goldman Sachs Turut Tekan Sentimen

Tekanan pasar semakin kuat setelah Goldman Sachs menurunkan peringkat saham Indonesia dari market weight menjadi underweight

Lembaga keuangan global tersebut memproyeksikan arus keluar dana asing mencapai US$ 2,2 miliar, bahkan hingga US$ 7,8 miliar dalam skenario terburuk.

"Kami memperkirakan pasar akan tetap berada di bawah tekanan dan tidak melihat ini sebagai titik masuk," tulis para ahli strategi Goldman Sachs.

Analis: Perlu Pengganti Cepat dan Kredibel

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pengunduran diri para pejabat pasar modal merupakan dinamika yang wajar. Namun, ia menekankan pentingnya mencari pengganti dengan cepat, terutama menjelang pertemuan penting dengan MSCI.

"Terkait dinamika pengunduran diri aktor-aktor penting di pasar modal, itu sebenarnya merupakan suatu hal wajar di market karena yang dicari penggantinya adalah benar-benar yang punya integritas, berkompeten, dan punya kredibilitas kuat di kalangan market," ujar Nafan.

Ia menilai tekanan terhadap IHSG bersifat sementara dan saat ini indeks masih berada dalam fase konsolidasi positif.

"IHSG berada dalam fase bullish consolidation," jelasnya.

Nafan juga menegaskan urgensi penunjukan pimpinan baru atau setidaknya pejabat ad interim.

"Yang penting harus cepat cari pengganti kalau berdasarkan info awal akan diadakan pertemuan dengan MSCI awal Februari, hari Senin, pertemuan dengan BEI dan SRO. Jika tidak, bisa menggunakan ad interim, wakilnya misalnya, kuasa interim atau wakilnya," imbuhnya.

Baca juga: Etana dan BeiGene Luncurkan Obat Terapi Kanker Berkualitas dengan Harga Terjangkau

Wajah Baru Dinilai Penting Pulihkan Kepercayaan

Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai gejolak yang terjadi lebih dipicu kepanikan pasar akibat sentimen MSCI. Ia optimistis tekanan tidak akan berlangsung lama, mengingat sejarah IHSG yang mampu bangkit dari berbagai krisis.

"Menurut saya ini murni kepanikan pasar saja karena MSCI. Karena mungkin orang-orang atau investor banyak yang belum mencerna dengan baik maksud dari MSCI," jelas Reydi.

Ia menambahkan, mundurnya pimpinan lama justru bisa menjadi momentum pembaruan.

"Kita perlu wajah baru yang lebih refresh, mungkin itu keputusan yang terbaik, yang di sisi regulasi dan penyelenggara bisa lebih kredibel ke depan. Mungkin kita perlu orang-orang baru untuk bisa memimpin terselenggara pasar modal dengan lebih kredibel gitu," pungkasnya.

Ujian Besar Pasar Modal Indonesia

Gelombang pengunduran diri pimpinan OJK dan BEI menjadi ujian besar bagi pasar modal Indonesia. 

Di satu sisi, langkah tersebut dinilai sebagai bentuk tanggung jawab moral dan upaya memulihkan kepercayaan. Di sisi lain, kekosongan kepemimpinan berisiko memperpanjang ketidakpastian jika tidak segera diisi.

Dengan agenda pertemuan krusial bersama MSCI di depan mata, kecepatan pemerintah dan pemangku kepentingan dalam menunjuk figur berintegritas, profesional, dan dipercaya pasar akan menjadi penentu arah kepercayaan investor terhadap pasar saham Indonesia ke depan.

Mau Diskusi Project Baru?

Contact Us