Stoikisme: Menuju Kehidupan yang Penuh Ketenangan

ketenangan dalam hidup ala stoikisme

FYPMEDIA.ID – Di era serba digital saat ini, semakin memudahkan kita dalam mengetahui perkembangan yang terjadi saat ini. Hal tersebut di satu sisi berdampak baik bagi diri kita agar tidak tertinggal dengan arus perkembangan zaman. Akan tetapi, di lain sisi juga menimbulkan dampak negatif, tidak jarang seseorang justru menjadi terpaku dengan aktivitas orang lain di media sosial. Banyaknya perubahan gaya hidup pada orang lain yang dilihat di media sosial, menjadikan seseorang merasa insecure, mudah iri, fear of missing out (FOMO), bahkan hingga berujung depresi.

Kekalutan dalam hidup menyebabkan seseorang mempertanyakan “Apakah aku layak untuk bahagia? Bagaimana caranya?”. Pada dasarnya setiap manusia berhak untuk bahagia. Menurut filsafat stoikisme atau stoa, bahagia adalah ketika kita bisa terbebaskan dari emosi yang dirasa mengganggu kehidupan kita, seperti rasa iri, takut, kesal atau pahit, dan kesenangan atau kenikmatan. Stoikisme adalah suatu pandangan filsafat yang mengajarkan manusia untuk bisa mengendalikan emosi yang dirasakan dan mengajarkan akan pentingnya bersyukur atas apa yang dimiliki saat ini.

Apakah stoikisme relevan dengan kondisi sekarang?
Meskipun stoikisme sedang berkembang sejak abad sebelum masehi, tetapi stoikisme masih cukup relevan dengan kondisi kehidupan manusia saat ini yang penuh dengan perubahan dan ketidakpastian. Hal ini dikarenakan tujuan yang ingin dicapai dari stoikisme ini bukan berupa kebahagiaan semata, yang hanya bertahan sementara. Melainkan tercapainya kedamaian batin dan kepastian moral.
Dalam buku “Filosofi Teras” karya Henry Manampiring disebutkan bahwa terdapat dua tujuan utama yang ingin dicapai dalam stoikisme:

  1. Hidup bebas dari emosi yang negatif, sehingga kehidupan lebih terasa tenteram. Ketenteraman ini dapat diperoleh dengan memfokuskan hal-hal yang bisa kita kendalikan, seperti tujuan, keinginan, pikiran, dan tindakan diri kita sendiri.
  2. Hidup mengasah kebajikan. Dalam stoikisme, terdapat empat kebajikan utama, yaitu kebijaksanaan, keadilan, keberanian, dan menahan diri.

Manfaat stoikisme dalam kehidupan 
Terdapat beberapa manfaat yang akan kita rasakan ketika menerapkan prinsip stoikisme dalam menjalani kehidupan sehari-hari:

  1. Membangun pola pikir positif. Dengan memiliki pola pikir yang positif, kita dapat mengelola reaksi emosional yang terjadi di luar kendali diri kita. Dengan begitu, ketika berhadapan pada suatu masalah, kita akan lebih fokus untuk mencari solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut.
  2. Menjadikan pribadi yang bijaksana dalam menilai dan mengambil keputusan. Dengan begitu kita dapat lebih memahami apa yang ada dalam kendali kita dan yang berada di luar kendali. Sehingga kita juga akan menjadi lebih fokus dalam mengelola hal apa saja yang dapat kita kendalikan.
  3. Fokus untuk mencapai tujuan atau suatu pencapaian. Stoikisme mengajarkan kita untuk fokus terhadap hal-hal yang bisa kita kendalikan dan fokus untuk mencari sebuah solusi. Dengan begitu walaupun terdapat hambatan dan rintangan, hal tersebut tidak akan memberi dampak yang besar dalam mencapai tujuan yang diinginkan.
  4. Selalu siap dalam menghadapi masalah. Dalam perjalanan hidup, terkadang ada saja yang tidak sesuai rencana. Hal ini dikarenakan, terdapat banyak hal yang berada di luar kendali kita. Stoikisme mengajarkan kita untuk mempersiapkan skenario terburuk dibalik segala harapan terbaik kita. Tujuannya ialah agar kita bisa mempersiapkan diri (terutama emosional) sebelum kejadian tersebut terjadi. Sehingga kita bisa bersikap atau bereaksi dengan cara yang benar atau positif dan dapat memprediksi langkah selanjutnya yang akan dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Comments are closed.