Pasar Tanah Abang Sepi Jelang Lebaran 2025, Apa Penyebabnya?

Pasar Tanah Abang Sepi Jelang Lebaran 2025, Apa Penyebabnya?

FYP Media.id – Pada Tanggal 26 Maret  2025 – Menjelang Hari Raya Idul Fitri 2025, Pasar Tanah Abang yang biasanya menjadi pusat keramaian para pemburu busana Lebaran kini menghadapi tantangan besar. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini suasana di pasar terbesar di Asia Tenggara itu tampak lebih lengang dari biasanya. Para pedagang yang mengandalkan momen ini untuk meraup keuntungan justru menghadapi kenyataan pahit dengan jumlah pengunjung yang menurun drastis. Keadaan ini tentu menimbulkan kekhawatiran di kalangan pedagang yang mengandalkan lonjakan pembeli saat menjelang Lebaran untuk meningkatkan pendapatan mereka.  

Edo, seorang pedagang di Pasar Tanah Abang, mengungkapkan bahwa dibandingkan dengan tahun sebelumnya, jumlah pembeli menurun sangat signifikan. “Tahun lalu pembeli bagaikan tawaf karena jalan cuma selangkah. Padat, full banget,” ujarnya. Namun, kini suasana pasar terasa jauh lebih lengang, bahkan beberapa koridor tampak kosong. Menurut Edo, ia mencatat penurunan sekitar 50 persen dalam jumlah pembeli. Jika sebelumnya ia bisa melayani sekitar 150 orang per hari, kini jumlahnya jauh berkurang. Hal ini tentu berdampak langsung pada pendapatan para pedagang yang bergantung pada momen seperti ini untuk memperoleh keuntungan besar.  

Hal yang sama juga dirasakan oleh Novi, seorang pedagang pakaian muslim di Pasar Tanah Abang. Ia mengaku bahwa tahun lalu, sejak pagi hari, pembeli sudah mulai berdatangan dan berdesakan untuk mendapatkan pakaian Lebaran. Namun, tahun ini kondisi berbeda jauh. “Kalau sekarang bisa dibilang sepi. Tahun lalu, dari pukul 07.00 pagi sampai 17.00 sore, pembeli terus berdatangan tanpa henti. Sekarang mungkin hanya dua jam pertama saja ramai, setelah itu kembali sepi,” katanya. Para pedagang seperti Novi tentu merasa khawatir karena stok barang yang telah mereka siapkan dalam jumlah besar mungkin tidak akan terjual sebanyak yang mereka harapkan.  

Ada beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab menurunnya jumlah pengunjung di Pasar Tanah Abang menjelang Lebaran tahun ini. Salah satu faktor utama adalah pergeseran kebiasaan belanja masyarakat dari toko fisik ke platform daring. Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, menjelaskan bahwa perubahan pola belanja masyarakat menjadi salah satu penyebab utama menurunnya jumlah pembeli di pasar tradisional. “Sebagian besar anak-anak kita yang masih SD, SMP, dan SMA saja sekarang rata-rata sudah tidak belanja langsung datang ke Tanah Abang, tapi mereka lebih memilih berbelanja melalui platform e-commerce,” ujarnya. Kemudahan berbelanja online dengan berbagai promo dan diskon yang menarik tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen, terutama bagi mereka yang ingin menghemat waktu dan tenaga.  

Baca Juga : Mudik Lebaran 2025: Libur Sekolah Dimulai 21 Maret, Arus Balik Diprediksi Padat

Selain pergeseran ke belanja online, faktor lain yang turut berkontribusi terhadap penurunan jumlah pengunjung adalah adanya praktik parkir liar dan premanisme di sekitar Pasar Tanah Abang. Banyak pengunjung yang mengeluhkan mahalnya biaya parkir yang tidak resmi dan sering kali berubah-ubah. Seorang pengguna media sosial bahkan membagikan pengalamannya harus membayar parkir hingga Rp30.000 hanya untuk beberapa jam berbelanja di pasar tersebut. Kondisi ini tentu membuat banyak orang berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk datang ke Pasar Tanah Abang. Biaya tambahan yang tinggi dan ketidaknyamanan akibat ulah preman membuat sebagian masyarakat lebih memilih untuk berbelanja di tempat lain atau secara online.  

Keamanan di sekitar Pasar Tanah Abang juga menjadi faktor yang membuat pengunjung merasa was was. Beberapa insiden kriminal, seperti penodongan dan pembacokan yang terjadi di sekitar pasar, semakin menambah kekhawatiran masyarakat. Pada awal Maret 2025, misalnya, seorang pelaku berinisial AI melakukan penodongan di siang hari, menyebabkan korban mengalami luka. Kejadian seperti ini tentunya membuat calon pembeli berpikir ulang untuk datang ke Pasar Tanah Abang, terutama bagi mereka yang membawa keluarga atau anak-anak. Keamanan yang kurang terjamin menjadi salah satu faktor utama yang membuat banyak orang enggan untuk berbelanja langsung di pasar tersebut.  

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, para pedagang di Pasar Tanah Abang tetap berusaha untuk bertahan dan beradaptasi dengan situasi yang ada. Beberapa dari mereka mulai memanfaatkan platform online untuk menjual produk mereka, mengikuti tren belanja masyarakat yang kini lebih banyak beralih ke e-commerce. Dengan menjual produk mereka secara daring, para pedagang berharap dapat menjangkau lebih banyak pelanggan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada kunjungan fisik ke pasar. Namun, upaya ini tidak serta-merta menggantikan pengalaman berbelanja langsung, terutama bagi mereka yang ingin melihat dan merasakan kualitas barang sebelum membeli.  

Baca Juga : Pemprov DKI Jakarta Cairkan Bansos KLJ, KAJ, dan KPDJ Sebelum Lebaran 2025: Ini Nominal dan Jadwalnya!

Di sisi lain, para pedagang juga berharap agar pemerintah dan pihak terkait dapat mengambil langkah konkret untuk mengatasi berbagai permasalahan yang menyebabkan sepinya pasar. Beberapa hal yang mereka harapkan antara lain adalah penertiban parkir liar, peningkatan keamanan di sekitar pasar, serta dukungan dalam bentuk pelatihan dan bantuan untuk meningkatkan daya saing mereka di era digital. Jika berbagai permasalahan ini dapat diatasi, maka besar kemungkinan Pasar Tanah Abang bisa kembali ramai seperti dahulu, terutama saat menjelang momen-momen besar seperti Lebaran.  

Sebagai pusat perdagangan tekstil terbesar di Asia Tenggara, Pasar Tanah Abang memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia, khususnya bagi para pedagang kecil dan menengah. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah, pedagang, dan masyarakat agar pasar ini tetap menjadi destinasi utama bagi pembeli, baik secara offline maupun online. Dengan adanya langkah-langkah strategis dan dukungan yang tepat, diharapkan Pasar Tanah Abang dapat kembali meraih kejayaannya dan menjadi pusat perbelanjaan yang ramai, terutama saat menjelang Lebaran dan hari-hari besar lainnya.